KALIMANTAN TIMUR tidak hanya dikenal karena sumber daya alamnya. Di wilayah Paser dan Berau, rakyat meninggalkan jejak perlawanan terhadap Belanda lewat kerajaan dan senjata tradisional.
Perlawanan dari Berau
Jejak perlawanan muncul di Kerajaan Berau. Dilansir Tribun Kaltim (2025), Belanda memecah kerajaan itu lewat politik adu domba hingga runtuh. Dari perpecahan lahirlah Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung. Hingga kini, kedua keraton masih berdiri. Di Sambaliung, kisah heroik Raja Alam yang menolak tunduk kepada Belanda tetap hidup. Pengelola keraton menyimpan arsip perjuangan tersebut bersama tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada.
Perlawanan dari Paser
Perlawanan besar juga meletus di Kerajaan Paser. Pada 1907, Pangeran Panji Nata Kusuma memimpin pemberontakan dengan mandau dan sumpit. Belanda menangkapnya dan mengasingkannya ke Banjarmasin, tetapi semangat rakyat tetap menyala. Tujuh tahun kemudian, pada 1914, putra Pangeran Syarif bersama tokoh muda Anden Oko, Anden Gedang, dan Walid kembali mengangkat senjata. Pertempuran berlangsung hingga 1918 dan menunjukkan tekad rakyat Paser untuk tidak tunduk.
Senjata Perlawanan

Museum Sadurengas di Kabupaten Paser kini menyimpan senjata perlawanan. Koleksinya mencakup mandau, sumpit beracun, tombak, dan pisau. Museum yang dulu menjadi istana Kesultanan Paser juga menampilkan meriam kecil peninggalan Belanda. Di Penajam Paser Utara, masyarakat masih bisa melihat meriam tua di Kelurahan Nenang meski kondisinya berkarat.
Mandau: Identitas Keberanian

Mandau menjadi senjata utama suku Dayak. Bentuknya menyerupai parang panjang dengan gagang berukir khas, sering dihias bulu burung enggang sebagai simbol keberanian. Mandau bukan sekadar alat tempur, tetapi juga identitas budaya dan lambang kehormatan.
Sumpit: Senjata Senyap Mematikan

Sumpit atau sipet berperan sebagai senjata rahasia yang ditakuti Belanda. Penelitian Muli Umiaty Noer dan Putri Nurbaizura dalam The Meaning of Mandau and Sumpit as Weapon Dayak’s Tribe (2016) mencatat sumpit mampu melontarkan anak panah beracun sejauh 200 meter dengan akurasi tinggi. Racun dari getah pohon ipuh atau iren membuat lawan lumpuh dalam waktu kurang dari 10 menit. Catatan sejarah menyebut pasukan kolonial lebih takut terkena sumpit dibanding peluru timah karena daya matinya yang cepat dan senyap.
Warisan Perlawanan
Peninggalan sejarah di Paser dan Berau menegaskan bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian rakyat. Dengan senjata sederhana, mereka berani menghadapi kekuatan kolonial yang jauh lebih modern.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin