MAHAKAMA – Napas pasar keuangan dunia kini tertuju pada satu sosok yang kerap mengguncang bursa hanya lewat pernyataan singkat. Otoritasnya tak hanya memengaruhi dolar, tetapi juga kehidupan ekonomi global hingga level rumah tangga.
Ketua bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, Jerome Powell, akan mengakhiri masa jabatannya pada 15 Mei 2026. Sebelumnya, ia dijadwalkan memimpin rapat terakhir Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir April sebagai penutup delapan tahun kepemimpinannya.
Selama periode tersebut, Powell menghadapi serangkaian krisis besar, mulai dari perang dagang, pandemi Covid-19, hingga lonjakan inflasi tertinggi dalam empat dekade. Keputusannya tidak hanya memengaruhi Wall Street, tetapi juga arus modal dan stabilitas ekonomi negara berkembang.
Berakhirnya era Powell pun tidak sekadar pergantian figur, melainkan membuka fase baru kebijakan moneter AS yang sarat tantangan. Dinamika ini terlihat sejak awal masa jabatannya yang langsung diuji tekanan politik.
Ujian Awal dari Donald Trump dan Gejolak Pasar Global
Pada Februari 2018, Powell menggantikan Janet Yellen dan melanjutkan kebijakan normalisasi dengan menaikkan suku bunga. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi AS pascakrisis.
Namun, kebijakan tersebut memicu kritik keras dari Presiden Donald Trump yang menilai suku bunga tinggi menghambat pertumbuhan. Tekanan politik ini menjadi ujian awal independensi The Fed di bawah kepemimpinan Powell.
Di tengah tekanan tersebut, Powell tetap berpegang pada data ekonomi sebagai dasar kebijakan. Ia menunjukkan bahwa bank sentral harus berdiri di luar kepentingan politik jangka pendek.
Ketika perang dagang AS-China memanas pada 2019, Powell mulai melonggarkan kebijakan dengan menurunkan suku bunga. Langkah ini diambil untuk meredam risiko perlambatan ekonomi global yang semakin nyata.
Ketegangan antara kebijakan ekonomi dan tekanan politik ini terus berlanjut hingga akhir masa jabatannya, bahkan meluas ke ranah di luar kebijakan moneter.
Konflik Renovasi Gedung dan Penyelidikan Departemen Kehakiman
Menjelang akhir masa jabatan, Powell kembali menghadapi tekanan, kali ini terkait proyek renovasi gedung The Fed. Donald Trump mengkritik keras biaya proyek yang dianggap membengkak.
Situasi memanas ketika Departemen Kehakiman membuka penyelidikan atas dugaan pembengkakan anggaran. Banyak pihak melihat langkah ini sebagai bentuk tekanan terhadap independensi bank sentral.
Namun, penyelidikan tersebut ditutup pada 24 April 2026 karena tidak ditemukan unsur pidana. Keputusan ini sekaligus membuka jalan bagi proses pergantian kepemimpinan The Fed.
Di tengah berbagai tekanan, Powell tetap meninggalkan warisan penting berupa keberhasilan menurunkan inflasi tanpa merusak pasar tenaga kerja. Hal ini memperkuat posisinya sebagai figur yang konsisten menjaga keseimbangan kebijakan.
Efek Domino ke Indonesia di Tengah Transisi Kepemimpinan The Fed
Pergantian kepemimpinan The Fed berpotensi memicu ketidakpastian bagi Indonesia. Arah kebijakan suku bunga AS akan tetap menjadi penentu utama arus modal global.
Jika kebijakan tetap ketat, dana asing cenderung kembali ke AS dan menekan rupiah. Sebaliknya, pelonggaran kebijakan dapat membuka peluang masuknya modal yang memperkuat ekonomi domestik.
Dalam situasi ini, Bank Indonesia dituntut untuk responsif menjaga stabilitas. Perubahan kebijakan The Fed akan berdampak langsung pada inflasi, suku bunga, hingga daya beli masyarakat.
Dengan demikian, transisi ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Momentum ini menjadi penentu arah tekanan maupun peluang bagi ekonomi Indonesia ke depan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin