slot thailand

https://vetsbestmovers.com/contact/

https://www.cassiseye.com/physicians

By admin
01.02.26

Mengintip Kantong Juru Parkir Kafe Estetik di Samarinda yang Lebih Tebal dari Gaji Barista

MAHAKAMA — Riuh rendah suara kendaraan yang memadati sebuah kafe estetik berkonsep industrial di Jalan Wijaya Kusuma, Samarinda, telah menjadi musik harian bagi Arman.

Pria berusia 47 tahun itu tampak cekatan meniup peluit, mengarahkan deretan motor dan mobil agar tersusun rapi di lahan yang terbatas.

Di balik rompi oranye yang mulai memudar, siapa sangka Arman menyimpan rahasia dapur yang cukup mengejutkan.

Kafe tempatnya bertugas memiliki area parkir yang tergolong kecil, hanya mampu menampung sekitar 15 hingga 20 motor jika ditata dengan rapi.

Namun, pada sore itu, arus kendaraan yang keluar-masuk terlihat cukup ramai dengan tarif parkir standar sebesar Rp2 ribu per motor dan Rp5 ribu untuk mobil.

Kepadatan ini mencapai puncaknya pada jam prime time, sekitar pukul tujuh hingga sepuluh malam, saat para mahasiswa dan pekerja mulai menyerbu kafe dengan laptop dan keresahan masing-masing.

Dalam sehari, kantong Arman bisa terisi penuh dengan lembaran dua ribuan hingga sepuluh ribuan.

Jika ditotal dalam sebulan, angka yang ia peroleh melampaui standar Upah Minimum Kota (UMK) Samarinda, bahkan melangkahi gaji para barista yang bekerja di dalam kafe tersebut.

Fenomena ini sebenarnya telah menjadi rahasia umum di kalangan pelaku usaha kuliner di Samarinda.

Arman mengaku bahwa di hari biasa, ia bisa membawa pulang uang bersih sekitar dua ratus ribu rupiah. Angka itu akan melonjak drastis hingga dua kali lipat saat akhir pekan tiba.

Ketimpangan ini pun diakui langsung oleh Arman saat ditemui di sela-sela kesibukannya menata kendaraan pelanggan.

Ia mengungkapkan bahwa penghasilannya sangat bergantung pada volume pengunjung yang datang, terutama mereka yang berkunjung demi konten media sosial.

“Kalau lagi ramai-ramainya, apalagi malam Minggu atau ada acara live music, saya bisa kantongi bersih empat ratus ribu semalam,” ujar Arman sembari mengatur mobil yang hendak keluar.

Sementara itu, seorang barista di kafe tersebut bercerita dengan nada getir bahwa gajinya sebulan hanya berkisar di angka Rp2,8 juta, sudah termasuk uang makan.

Meskipun perhitungan pendapatan tukang parkir ini tidak selalu tepat karena adanya margin of error akibat tingkat keramaian kafe yang fluktuatif setiap jamnya, kondisi ini tetap menunjukkan sisi lain dari ekosistem bisnis kreatif di Samarinda.

Sektor informal seperti jasa parkir dapat memanen untung besar dari lonjakan popularitas sebuah tempat.

Hal ini seolah memberikan gambaran bahwa fenomena tersebut bukan sekadar soal siapa yang bekerja lebih keras, melainkan siapa yang lebih “cerdik” dalam melihat peluang.

Sebagai pekerja sektor informal, Arman tidak perlu menunggu “tanggal muda”, tidak bergantung pada proses transfer bagian keuangan, dan tidak mengenal potongan BPJS. Semua penghasilannya langsung cair di tangan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan para karyawan kafe yang dituntut tampil rapi dan ramah selama delapan jam kerja, namun harus puas dengan gaji tetap yang sering kali habis sebelum akhir bulan. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending

daftar slotmantap

slotmantap alternatif

slotmantap link

slotmantap

slot mantap