MAHAKAMA – Ruang kantor yang kaku kini mulai berubah menjadi tempat yang lebih fleksibel dan menghargai ketenangan jiwa. Suasana meja kerja tidak lagi hanya berisi tumpukan berkas, tetapi juga semangat untuk menyeimbangkan karier dengan kehidupan pribadi.
Perubahan pandangan terhadap dunia kerja semakin terasa kuat di kalangan generasi muda Indonesia saat ini. Mereka lebih memilih pekerjaan yang memberikan keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi atau biasa disebut work-life balance. Berdasarkan survei nasional tahun 2025, sebanyak 6 dari 10 anak muda Indonesia memprioritaskan kebahagiaan dan waktu luang.
Hal ini didukung oleh laporan State of the Global Workplace dari Gallup yang menunjukkan posisi unik Indonesia di tingkat regional. Laporan tahunan ini memotret kondisi emosional para pekerja di seluruh dunia, termasuk tingkat stres, keterikatan karyawan dengan perusahaan, hingga ketersediaan lapangan kerja. M
Perbandingan Tingkat Stres Pekerja di Kawasan Asia Tenggara

Laporan Gallup mengungkapkan bahwa rata-rata 25 persen pekerja di Asia Tenggara mengalami stres sehari-hari akibat pekerjaan mereka. Data ini berasal dari survei terhadap 1.000 individu di setiap negara sepanjang April hingga Desember 2024. Hasilnya menunjukkan perbedaan tingkat stres yang sangat mencolok antar negara tetangga.
Myanmar menempati urutan pertama dengan 50 persen pekerja yang mengaku merasakan stres berat setiap harinya. Filipina menyusul di peringkat kedua dengan angka 47 persen, diikuti Singapura di posisi ketiga sebesar 43 persen.
Kamboja berada di urutan keempat dengan 39 persen, sementara Laos mencatat angka 30 persen pekerja yang mengalami stres.
Thailand menempati posisi keenam dengan tingkat stres pekerja mencapai 25 persen. Di sisi lain, Malaysia memiliki angka yang jauh lebih rendah yakni hanya 19 persen.
Indonesia sendiri menunjukkan kondisi yang cukup santai karena hanya 15 persen pekerja yang merasa tertekan. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat kedua terbawah di Asia Tenggara.
Sementara itu, Vietnam menjadi negara dengan tingkat stres terendah dengan persentase hanya 11 persen.
Kesadaran Kesehatan Mental dan Makna Produktivitas Sejati
Dilansir pls.fip.unesa.ac.id (1/11/2025), rendahnya tingkat stres di Indonesia berkaitan erat dengan peningkatan kesadaran akan kesehatan mental dan kualitas hidup. Namun demikian, sebagian pihak masih menganggap perubahan sikap generasi muda ini sebagai bentuk kurangnya ambisi. Padahal, keputusan untuk menolak lembur berlebihan merupakan bentuk kesadaran bahwa produktivitas sejati tidak diukur dari lamanya bekerja.
Fenomena ini memicu tren baru seperti quiet quitting atau bekerja secukupnya sesuai tanggung jawab demi menjaga mental. Banyak anak muda juga beralih menjadi pekerja lepas atau wirausaha digital agar lebih bebas mengatur waktu.
Oleh karena itu, generasi muda Indonesia sedang membentuk wajah dunia kerja yang lebih manusiawi dan berorientasi pada makna hidup. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin