By admin
28.12.25

Tiga Juta Anak Terancam Penyakit, Literasi Ibu Rendah Bikin Imunisasi Sulit

Lebih dari 3 juta anak Indonesia belum imunisasi lengkap. Di balik ancaman penyakit, mitos autisme dan rendahnya literasi kesehatan ibu jadi kendala utama./Ilustrasi

MAHAKAMA – Tangis bayi di ruang tunggu puskesmas kerap terdengar setiap pagi. Namun, jutaan anak Indonesia masih tumbuh tanpa perlindungan imunisasi lengkap.

Imunisasi dasar menjadi fondasi utama perlindungan kesehatan anak. Pada usia dini, daya tahan tubuh belum kuat. Oleh karena itu, imunisasi mencegah penyakit berbahaya seperti campak, polio, hepatitis B, TBC, difteri, pertusis dan tetanus.

Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 mendefinisikan anak usia dini sejak dalam kandungan hingga usia enam tahun. Pada fase ini, imunisasi memberi perlindungan penting, terutama pada usia 12 hingga 23 bulan.

Data Cakupan Imunisasi Nasional

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Maret 2025 menunjukkan 63,88 persen anak usia 12 hingga 23 bulan telah menerima imunisasi dasar lengkap. Namun demikian, lebih dari 3 juta anak dari sekitar 24 juta anak di Indonesia belum mendapat imunisasi lengkap.

Badan Pusat Statistik juga mencatat hubungan kuat antara pendidikan ibu dan kelengkapan imunisasi pada anak usia 12 hingga 23 bulan. Anak pada kelompok usia ini yang lahir dari ibu lulusan perguruan tinggi mencatat capaian imunisasi dasar lengkap tertinggi, yakni 70,56 persen.

Angka tersebut menurun pada anak dari ibu lulusan SMA sebesar 64,97 persen. Capaian kembali turun pada anak dari ibu lulusan SMP sebesar 62,84 persen. Pada anak dari ibu lulusan SD, angkanya hanya 57,81 persen. Sementara itu, anak dari ibu yang tidak tamat SD mencatat angka terendah, yakni 47,25 persen.

Mitos Autisme dan Pentingnya Literasi Kesehatan

Faktanya, pola tersebut menunjukkan bahwa pendidikan ibu memengaruhi pemahaman tentang pentingnya imunisasi. Padahal, pemerintah telah menyediakan imunisasi dasar gratis di fasilitas kesehatan.

Namun demikian, masih banyak ibu menolak karena percaya kabar bahwa imunisasi dapat memicu autisme. Isu ini terus beredar luas di masyarakat.

Klaim tersebut berasal dari dokter bedah asal Inggris, Andrew Wakefield, pada 1998. Ia menerbitkan penelitian di jurnal The Lancet dan mengaitkan vaksin MMR dengan autisme.

Beberapa tahun kemudian, para peneliti menemukan bahwa Wakefield memalsukan data. Jurnal tersebut akhirnya menarik penelitiannya. Hingga kini, tidak ada riset yang membuktikan imunisasi memicu autisme.

Oleh karena itu, literasi kesehatan menjadi kunci utama. Ibu dengan pendidikan lebih tinggi cenderung mencari sumber ilmiah. Mereka tidak mudah percaya pada kabar tanpa dasar riset. Generasi kuat berawal dari ibu yang cerdas dan sadar kesehatan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending