By admin
13.11.25

Tertinggi Kedua di Indonesia, 26 Persen Anak di Kalimantan Timur Tumbuh Tanpa Pendampingan Ayah

MAHAKAMA – Di tengah tuntutan ekonomi yang semakin tinggi, ada harga mahal yang harus dibayar. Harga itu adalah absennya figur ayah, menciptakan kekosongan emosional yang kini mengancam jutaan anak di Indonesia.
Di tengah maraknya lembur dan pekerjaan jarak jauh pasca-pandemi, kehadiran ayah dalam keluarga justru makin langka.

Fenomena ini dikenal sebagai fatherless, atau kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau peran aktif seorang ayah. Di Indonesia, peran ayah sering kali masih kurang optimal. Salah satu penyebabnya budaya patriarki yang masih kental. Budaya ini menempatkan ayah sebagai pencari nafkah tunggal, sehingga tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan emosional anak sepenuhnya diserahkan kepada ibu. Padahal, ayah memiliki peran penting dalam membangun fondasi mental dan sosial anak.

15,9 Juta Anak Berpotensi Tumbuh Fatherless

Berdasarkan olahan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas dari data Mikro Susenas BPS Maret 2024, sekitar 20,1 persen atau 15,9 juta anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa peran ayah.

Dari jumlah itu, terdapat dua bentuk utama. Sebanyak 4,4 juta anak kehilangan kehadiran fisik ayah. Rinciannya, 3,75 juta tinggal hanya dengan ibu dan 654 ribu hidup bersama kakek atau nenek.

Sementara 11,5 juta anak lainnya tumbuh dengan ayah yang nyaris tak punya waktu karena bekerja lebih dari 60 jam per minggu atau 12 jam per hari. Artinya, ketidakhadiran ayah tidak selalu karena perceraian, tapi juga karena tekanan ekonomi dan jam kerja ekstrem.

Hasil survei Kompas terhadap 16 psikolog klinis di 16 kota, termasuk Bandung, Pontianak, dan Samarinda, memperkuat temuan ini. Perceraian menjadi penyebab paling sering disebut, yakni 16 frasa. Disusul oleh ayah yang bekerja di luar kota (11 frasa), kurangnya komunikasi (11 frasa), dan kekerasan dalam rumah tangga (11 frasa). Kematian ayah juga muncul sebagai faktor penting dengan 9 frasa.

Selain itu, pola asuh patriarki, jam kerja berlebih, dan penelantaran disebut sebanyak 22 frasa sebagai faktor yang makin memperbesar risiko anak tumbuh tanpa figur ayah yang hadir secara emosional maupun fisik.

Dalam konteks survei ini, frasa berarti jumlah penyebutan atau kemunculan suatu faktor dalam jawaban para psikolog, bukan jumlah kata. Angka tersebut menunjukkan seberapa sering penyebab tertentu muncul dalam hasil wawancara kualitatif.

Kalimantan Timur dan Gorontalo Paling Terdampak

Kondisi fatherless ini tersebar tidak merata di seluruh Indonesia. Tujuh provinsi mencatatkan angka di atas 20 persen, dengan Gorontalo tertinggi mencapai 26,9 persen dan Kalimantan Timur menyusul di urutan kedua dengan 26,2 persen.

Posisi berikutnya ditempati oleh Nusa Tenggara Barat dengan 25,9 persen, Jawa Tengah 23,0 persen, Kalimantan Utara 22,7 persen, DKI Jakarta 22,0 persen dan Jawa Timur 21,5 persen.

Di Kalimantan Timur, tingginya angka ini menunjukkan tantangan sosial baru yang muncul di tengah mobilitas dan tekanan ekonomi keluarga. Banyak ayah bekerja jauh dari rumah dalam sektor-sektor yang menuntut waktu dan tenaga besar, membuat kehadiran emosional mereka dalam keluarga semakin berkurang.

Pola yang sama juga terlihat di provinsi lain dengan angka tinggi seperti Gorontalo, NTB, dan Jawa Tengah. Di banyak kasus, faktor ekonomi dan budaya patriarki membuat ayah lebih banyak berperan sebagai pencari nafkah dibanding pengasuh.

Dampak Besar Fatherless pada Anak

Kehadiran ayah berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Ketika figur itu hilang, dilansir Halodoc (30/9/2025) dampaknya bisa terlihat dalam tiga aspek utama:

  1. Emosional.
    Anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung merasa tidak aman, mudah cemas, dan kehilangan kepercayaan diri. Kondisi ini bisa memicu depresi, kemarahan, atau perilaku agresif.
  2. Akademik.
    Beberapa penelitian menunjukkan anak fatherless lebih sulit berkonsentrasi dan memiliki prestasi akademik yang lebih rendah. Meski begitu, dukungan ibu atau wali serta lingkungan belajar yang sehat dapat membantu menekan dampaknya.
  3. Sosial.
    Ketiadaan figur ayah juga berpengaruh pada kemampuan membangun relasi. Anak mungkin kesulitan memahami batas dan empati dalam hubungan, serta lebih rentan pada perilaku berisiko seperti penggunaan alkohol atau narkoba.

Para ahli menekankan, kehadiran ayah bukan hanya soal finansial, tetapi juga soal kedekatan emosional dan keterlibatan moral dalam kehidupan anak.

Kesenjangan peran ayah ini harus segera diatasi. Kehadiran ayah bukan hanya kewajiban finansial, tetapi kewajiban emosional dan moral.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending