MAHAKAMA – Di tengah riuhnya arus informasi digital yang sering kali menjebak perhatian, anak-anak muda Gen Z justru menunjukkan sisi religiusitas yang kuat. Meski mereka tumbuh besar dengan berbagai distraksi internet, semangat generasi ini untuk melantunkan ayat suci Al-Qur’an secara tartil tetap terjaga dengan kualitas yang membanggakan.
Membaca Al-Qur’an dengan tartil bukan sekadar melafalkan huruf dengan benar, melainkan cara membaca yang perlahan, jelas, dan sesuai aturan tajwid. Kegiatan ini mencerminkan kedalaman pemahaman serta ketekunan belajar seseorang dalam menjaga kemurnian setiap ayat suci.
Meskipun banyak pihak mengkhawatirkan penurunan literasi agama pada generasi muda, hasil survei terbaru justru memberikan fakta yang menggembirakan.
Hasil Survei Kualitas Kehidupan Beragama 2025

Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bekerja sama dengan Alvara Strategic Research merilis data penting. Mereka melakukan Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025. Penelitian ini melibatkan 1,2 ribu responden Muslim dari 34 provinsi di seluruh Indonesia melalui wawancara tatap muka.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil mengalami perbedaan capaian antargenerasi. Gen Z berhasil menempati peringkat pertama dengan raihan skor sebesar 56,29.
Urutan skor berikutnya diisi oleh kelompok Milenial yang mencatatkan angka sebesar 54,06. Di posisi ketiga, Gen X menyusul dengan perolehan skor 53,97. Sementara itu, kelompok Baby Boomers berada pada posisi terakhir dengan raihan skor sebesar 50,95.
Pencapaian Gen Z tersebut merupakan buah dari keberlanjutan tradisi pendidikan keagamaan di sekolah maupun pesantren.
Di samping itu, kehadiran teknologi digital mempercepat akses anak muda untuk mempelajari teknik tahsin secara mandiri. Mereka kini dapat belajar kapan saja melalui aplikasi dan kelas daring yang terbimbing oleh guru profesional.
Tantangan Literasi Agama di Masa Depan
Tingginya skor kemampuan tartil ini tidak berarti tugas pembinaan agama bagi masyarakat sudah selesai sepenuhnya. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memperkuat upaya agar kemampuan teknis ini berlanjut pada penghayatan nilai-nilai kehidupan. Oleh karena itu, literasi Al-Qur’an harus menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter bangsa yang berakhlak mulia.
Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalah membekali generasi muda dengan ilmu pengetahuan dan landasan spiritual yang kokoh. Kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan langkah awal untuk membangun peradaban yang berilmu dan berkeadaban di masa mendatang. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin