MAHAKAMA – Suara dentuman bola yang mengenai dinding kaca berpadu dengan tawa para pemain di atas lapangan biru modern kini menjadi pemandangan rutin di berbagai kota besar. Olahraga baru ini perlahan mengisi ruang-ruang rekreasi urban setiap sore hari.
Padel menarik perhatian publik sejak popularitasnya melonjak di kalangan anak muda. Sebagai perpaduan tenis dan squash, olahraga ini relatif mudah dipelajari dan cepat membangun rasa kebersamaan. Peran media sosial pun krusial dalam mempercepat penyebarannya, dari sekadar tren gaya hidup hingga hobi massal.
Peningkatan Transaksi Padel Indonesia Tertinggi di Dunia

Lonjakan popularitas tersebut tercermin langsung dalam perputaran ekonominya. Global Padel Report 2025 mencatat Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan padel tertinggi di dunia. Laporan Playtomic dan PwC Strategy menunjukkan nilai transaksi atau pendapatan padel di Indonesia melonjak 173 persen dari 2023 ke 2024.
Satu lapangan padel di Indonesia mampu meraih pendapatan sekitar 120 juta rupiah per bulan pada tahun 2024.
Pertumbuhan ini bahkan menyaingi negara-negara besar seperti Jerman dan Prancis yang sudah mengenal padel sejak lama.
Hal ini didukung juga komunitas klub padel yang masif. Di Jakarta saja sudah memiliki lebih dari 50 klub padel yang konsisten mengembangkan komunitas olahraga tersebut.
Fenomena Olahraga Padel Merambah Kalimantan Timur
Ekspansi padel tidak berhenti di kota-kota besar Jawa, tetapi mulai merambah wilayah non-metropolitan seperti Kalimantan Timur. Samarinda menjadi contoh bagaimana tren global ini bertransformasi menjadi aktivitas olahraga lokal yang semakin terstruktur.
Kehadiran figur publik seperti Stefano Lilipaly dan Diego Michiels turut mempercepat adopsi padel di daerah. Efek role model ini menciptakan legitimasi sosial bahwa padel bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari gaya hidup aktif yang modern dan aspiratif.
Momentum tersebut tercermin dalam skala penyelenggaraan turnamen. Metro News (29/8/2025) mencatat Adhyaksa Padel Tournament di Aubry Arena Samarinda diikuti 140 pasangan dari berbagai daerah, termasuk Bali. Partisipasi lintas wilayah ini menandakan bahwa Samarinda mulai berperan sebagai simpul baru ekosistem padel di luar Pulau Jawa.
Dukungan institusional melalui kolaborasi Kejaksaan Negeri Samarinda dan pihak swasta memperlihatkan bahwa padel telah diposisikan sebagai instrumen promosi gaya hidup sehat. Total hadiah Rp70 juta untuk tiga kategori pertandingan juga mengindikasikan meningkatnya nilai ekonomi dan daya tarik kompetitif olahraga ini di Kalimantan Timur.
Padel sebagai Sarana Membangun Relasi dan Jaringan Bisnis
Menguatnya ekosistem padel di Kalimantan Timur tidak hanya memunculkan aktivitas olahraga, tetapi juga fungsi sosial baru. Di Samarinda, lapangan padel mulai menjadi ruang pertemuan lintas profesi, seiring meningkatnya intensitas turnamen dan partisipasi pemain dari berbagai daerah.
Padel kerap diposisikan sebagai alternatif golf dalam membangun jejaring, khususnya di kalangan profesional pria. Lapangan yang lebih kecil menciptakan interaksi yang cair dan egaliter, sementara format permainan ganda secara alami mendorong kolaborasi antarpemain.
Dalam konteks ini, padel melampaui fungsi rekreasi dan bertransformasi menjadi medium membangun relasi serta kepercayaan. Karakter permainannya yang santai namun kompetitif menjadikannya ruang sosial baru yang selaras dengan dinamika bisnis dan gaya hidup urban di Kalimantan Timur.
Dilansir IDN Times (16/10/2025), rutinitas bermain padel membuka peluang mengenal orang dari beragam latar belakang profesi tanpa sekat formal. Aktivitas fisik yang menyertainya juga membantu melancarkan aliran darah, sehingga mendukung kejernihan berpikir dan kemunculan ide-ide bisnis.
Oleh karena itu, bergabung dengan komunitas padel merupakan langkah cerdas untuk mendapatkan relasi baru yang bermanfaat bagi masa depan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin