By admin
06.02.26

Miliarder Lebih Cemas Tarif Daripada Iklim: Kebijakan Trump Jadi ‘Monster’ Baru Bagi Orang Kaya

Bagi deretan orang terkaya dunia, ancaman krisis iklim ternyata tak lebih menyeramkan dibanding selembar kertas pengumuman tarif dari Gedung Putih./Alinea.id

MAHAKAMA – Deru mesin pabrik di pusat industri global mendadak melambat ketika layar televisi menyiarkan pengumuman tarif baru dari Washington. Ketidakpastian menyelimuti ruang-ruang perundingan bisnis, menandai perubahan mendasar dalam arah perdagangan internasional.

Sejak Donald Trump dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat, kenaikan tarif impor menjadi kebijakan awal yang langsung mengguncang perekonomian global. Amerika Serikat menggeser haluan perdagangan ke jalur proteksionisme dengan dalih melindungi industri domestik dan menekan defisit perdagangan yang membesar.

Tarif impor pada dasarnya adalah pajak tambahan atas barang masuk. Dampaknya harga barang meningkat, arus perdagangan melambat dan ketidakpastian melonjak di pasar keuangan. Gangguan tersebut merambat ke rantai pasok global, menaikkan biaya produksi dan menekan pelaku usaha lintas negara, khususnya di sektor teknologi dan energi.

China merespons dengan kebijakan balasan, menaikkan tarif atas sejumlah produk Amerika Serikat. Dilansir CNBC (24/12/2025), Presiden China, Xi Jinping menegaskan perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang. 

Aksi saling balas ini berkembang menjadi perang tarif berkepanjangan, yang baru mereda sebagian melalui kesepakatan dagang fase pertama. Meskipun tensi struktural kedua negara belum sepenuhnya hilang. 

Kondisi inilah yang memicu efek domino terhadap stabilitas rantai pasok global.

Kekhawatiran Utama Kalangan Ultra Kaya terhadap Pasar Global

Dampak ketidakpastian perdagangan tersebut tercermin dalam laporan UBS Billionaire Ambitions Report 2025. Survei terhadap 87 miliarder di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan kebijakan tarif dagang muncul sebagai ancaman utama bagi pasar global. Sekitar 66 persen miliarder menilai tarif internasional akan berdampak negatif dalam 12 bulan ke depan.

Kebijakan tarif Donald Trump menjadi contoh konkret yang memicu kecemasan para pemilik modal. Posisi Amerika Serikat sebagai pasar konsumsi terbesar dunia membuat setiap kenaikan tarif langsung menaikkan biaya masuk dan melumpuhkan rantai pasok global. 

Selain tarif, sekitar 63 persen responden juga menilai konflik geopolitik sebagai risiko besar kedua yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Ketidakpastian Kebijakan Mengungguli Isu Perubahan Iklim

Meski inflasi masih menjadi kekhawatiran 44 persen responden pada 2026, ketidakpastian kebijakan justru dinilai lebih berbahaya oleh 59 persen miliarder dibandingkan risiko krisis utang. 

Sebaliknya, isu perubahan iklim hanya dikhawatirkan oleh 14 persen responden, jauh di bawah kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan, suku bunga, dan teknologi.

Temuan ini menegaskan bahwa stabilitas aturan dan kepastian kebijakan menjadi pondasi utama bagi keputusan investasi. Studi Scott R. Baker, Nicholas Bloom dan Steven J. Davis (2016) berjudul Measuring Economic Policy Uncertainty memperkuat kesimpulan tersebut. Ketidakpastian kebijakan terbukti menekan belanja modal dan investasi jangka panjang. Akibatnya para elite kekayaan dunia menunda keputusan strategis ketika arah perdagangan sulit diprediksi.

Keberlanjutan ekonomi global pada akhirnya bergantung pada kemauan para pemimpin dunia menjaga stabilitas jalur perdagangan. Kerja sama yang sehat akan membuka peluang pertumbuhan yang lebih adil, sekaligus mencegah kebijakan jangka pendek merusak kepercayaan pasar dan kesejahteraan masyarakat luas. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending