By admin
24.11.25

Malaysia Bidik Durian Jadi Buah Nasional, Persaingan Ekspor Makin Ketat

Malaysia Bidik Durian Jadi Buah Nasional, Persaingan Ekspor Makin Ketat/Canva

MAHAKAMA – Di kawasan Asia Tenggara, muncul aroma khas yang tak tertandingi. Ada yang menyebutnya bau surga, ada pula yang menyebutnya bau tak sedap. Apapun sebutannya, durian menawarkan kenikmatan rasa yang kompleks. Rasa manis, creamy dan sedikit pahitnya menjadikan durian sebagai “Raja Buah” yang dicintai banyak orang.

Kenikmatan durian di Asia Tenggara membuat buah ini bukan lagi sekadar komoditas. Popularitasnya mendorong Asosiasi Produsen Durian (Durian Manufacturer Association/DMA) secara resmi mengusulkan durian menjadi buah nasional Malaysia. Dikutip dari The Straits Times, Senin (10/11/2025), DMA telah meminta Kementerian Pertanian dan Keamanan Pangan Malaysia menetapkan durian sebagai identitas nasional.

Presiden DMA, Eric Chan, menilai durian bukan sekadar buah biasa. Dia mengatakan durian asal Malaysia seperti Musang King (D197) dan Black Thorn (D200) banyak diekspor. Jenis durian Malaysia ini telah terkenal di dunia.

Ketenaran durian ini tercermin dalam perdagangan global. Menurut Trade Map, volume ekspor durian segar pada tahun 2024 mencapai 1,37 juta ton. Trade Map adalah platform data intelijen pasar yang dikelola oleh International Trade Centre (ITC). Total nilai ekspor durian global mencapai USD7,03 miliar. Volume ini naik 11 persen dibanding tahun 2020. Angka ini menunjukkan semakin tingginya permintaan terhadap sang raja buah.

Negara-negara Eksportir Durian Terbesar 2024

Data menunjukkan negara-negara Asia Tenggara mendominasi jajaran eksportir durian terbesar pada tahun 2024.

Thailand berada di puncak daftar. Volume ekspor mereka mencapai 857,4 ribu ton. Angka ini setara dengan 54,3 persen dari total volume ekspor durian global. Nilai ini naik 8 persen dalam lima tahun terakhir.

Di posisi kedua, Vietnam menyusul dengan ekspor mencapai 435,7 ribu ton. Jumlah ini setara 42,3 persen dari total ekspor global. Setelah itu, Hong Kong berada di peringkat ketiga dengan volume ekspor 40,3 ribu ton.

Kembali ke Asia Tenggara, Malaysia menempati urutan keempat. Malaysia mengekspor 22,4 ribu ton durian segar. Filipina menyusul di urutan kelima dengan volume ekspor 16 ribu ton.

Indonesia Nomor Enam Dunia

Indonesia menempati posisi keenam dengan total ekspor durian mencapai 591 ton sepanjang 2024. Lonjakan volumenya mencapai 82 persen dalam lima tahun terakhir, menunjukkan pertumbuhan kuat pasar durian nasional.

Nilai ekspornya pada 2024 tercatat sebesar USD1,82 juta, atau naik 86 persen dibandingkan tahun 2020. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir durian dengan nilai perdagangan terbesar keenam di dunia.

Menariknya, rata-rata jarak negara importir durian Indonesia sebesar 3,1 ribu kilometer. Ini mencerminkan bagaimana durian Indonesia semakin dinikmati masyarakat dunia secara luas.

Adapun negara-negara lain yang masuk sepuluh besar adalah Bangladesh dengan 227 ton. Kemudian disusul Kamboja (117 ton), Republik Dominika (82 ton), dan Sri Lanka (46 ton).

Tantangan Pasar Global

Data ekspor menunjukkan pasar durian dunia masih dikuasai Thailand dan Vietnam. Indonesia mulai mengejar, ditandai lonjakan ekspor 82 persen dalam lima tahun. Pertumbuhan ini menandakan Indonesia semakin diperhitungkan di pasar yang kompetitif.

Di tengah momentum itu, muncul isu baru dari Malaysia soal pengakuan identitas buah nasional. Pemerintah Malaysia belum memberi sikap resmi atas usulan Asosiasi Produsen Durian. Otoritas hanya menyebut proses kajian sedang berjalan, termasuk dampak sosial-ekonomi dan peluang ekspor.

Dilansir Kompas (18/11/2025), jika usulan tersebut diterima, Malaysia akan mendapat legitimasi simbolik yang kuat. Status itu biasanya mendorong investasi baru pada budidaya, riset varietas, dan promosi ekspor. Mereka juga berpotensi memperkuat posisi durian premium—seperti Musang King—dalam rantai nilai global.

Situasi ini bisa memengaruhi persepsi pasar internasional. Penguatan branding Malaysia berpotensi menekan ruang promosi varietas unggulan Indonesia. Tanpa peningkatan kualitas dan standardisasi yang lebih cepat, daya tawar Indonesia terancam melemah justru saat ekspor sedang tumbuh pesat.

Peringkat Indonesia di posisi keenam tetap menjadi modal besar. Fokus pada kualitas dan standardisasi menjadi kunci agar Indonesia bisa bersaing lebih kuat dengan Thailand dan Vietnam, sekaligus menjaga durian lokal tetap relevan di pasar dunia. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending