By admin
11.01.26

Makan Gratis Bergizi atau Cepat Saji? Hanya 6 Persen ‘Real Food’ yang Tersaji di Sekolah

Evaluasi satu tahun program Makan Bergizi Gratis mengungkap ironi di lapangan setelah survei CELIOS menemukan 30 persen menu justru didominasi makanan cepat saji dan olahan pabrik./Lutfi Aziz-Pusaranmedia.com

MAHAKAMA – Aroma masakan dari dapur sekolah kini menjadi keriuhan baru yang menyambut siswa setiap pagi. Sejak awal pelaksanaannya pada Januari 2025 lalu, program Makan Bergizi Gratis telah mewarnai hari-hari anak sekolah dari tingkat dasar hingga menengah di seluruh pelosok negeri.

Program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang. Namun demikian, respons anak-anak di lapangan sangat beragam mulai dari rasa syukur karena hemat uang jajan hingga keluhan soal kualitas makanan. Guna memotret fakta di lapangan, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) merilis hasil survei terbaru yang melibatkan 1,7 ribu responden secara nasional.

Dominasi Makanan Cepat Saji dalam Menu Sekolah

Hasil survei tersebut menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan mengenai komposisi gizi para siswa. Sebanyak 30 persen responden melaporkan bahwa menu harian lebih sering berupa makanan cepat saji seperti burger, mie instan dan ayam goreng. Hal ini menandakan bahwa distribusi makanan belum sepenuhnya mengacu pada standar pemenuhan gizi nasional yang ideal.

Di samping itu, 25 persen publik mengamati bahwa sajian lebih banyak menggunakan makanan olahan pabrik atau ultra processed food. Contoh yang sering muncul di atas meja makan siswa adalah sosis, nugget dan mie instan. Konsumsi jenis makanan ini secara berlanjut tentu mengkhawatirkan karena berpotensi memicu masalah kesehatan seperti obesitas dan gangguan pencernaan pada anak.

Tingginya Kadar Garam dan Gula dalam Sajian

Persoalan gizi tidak berhenti pada jenis makanan olahan saja. Sayangnya, 17 persen responden merasa sajian tersebut mengandung kadar asin yang tinggi akibat penggunaan garam berlebih pada makanan kaleng atau kerupuk. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena asupan natrium tinggi sejak dini dapat berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang siswa.

Selain itu, 16 persen responden menyoroti banyaknya makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi yang tersaji. Mereka menemukan beragam kue manis, teh manis, dan jajanan serupa yang kerap menjadi bagian dari paket makanan tersebut. Sementara itu, kelompok makanan rumahan atau real food hanya mencatatkan angka 6 persen dalam laporan lapangan responden.

Pentingnya Evaluasi Standar Gizi Nasional

Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara tujuan program dengan realitas di meja sekolah. Sebagai perbandingan, standar gizi internasional biasanya mewajibkan porsi sayur dan buah yang dominan daripada makanan olahan pabrik. Namun pada praktiknya, gabungan antara makanan sehat dan olahan hanya menyentuh angka 1 persen dari total pengamatan publik.

Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan evaluasi mendalam mengenai pengawasan vendor penyedia makanan di setiap daerah. Penyajian makanan instan yang dominan memang memudahkan logistik, namun mengabaikan esensi utama dari pemenuhan nutrisi pertumbuhan. Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan anggaran besar tersebut benar-benar berubah menjadi asupan yang menyehatkan bagi fisik dan otak anak-anak Indonesia. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending