By admin
15.12.25

Kelapa Sawit si Emas Hijau: Antara Ekonomi dan Bencana Ekologis

Foto udara lahan yang dibuka untuk kebun sawit ilegal seluas 1.655 hektar/Dok. Mongabay Indonesia

MAHAKAMA — Indonesia dijuluki sebagai “Negara Sawit” karena posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, terus menikmati manfaat ekonomi yang melimpah dari komoditas yang dijuluki “emas hijau” ini. Berbekal iklim tropis dan lahan yang luas, Indonesia berhasil menjadikan kepala sawit sebagai primadona hasil bumi.

Industri kelapa sawit memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia dan turut memenuhi kebutuhan minyak dunia. Dari perspektif dometik, kelapa sawit telah menjadi pilar pemberdayaan ekonomi rakyat. Jutaan petani kecil menggantungkan hidup mereka kepada kebun sawit. Industri ini menciptaan berbagai lapangan kerja mulai dari budidaya, pemanenan buah, pengolahan di pabrik, dan lain sebagainya.

Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, sektor kelapa sawit membuka 16 juta lapangan kerja. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah. sebagai contoh, kawasan yang memiliki banyak kebun sawit cenderung memiliki Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang lebih tinggi dibandingkan kawasan tanpa sawit.

Secara nasional, sektor sawit menyumbang puluhan miliar dolar bagi neraca perdagangan. Tahun 2024, kontribusi sektor ini mencapai 27,76 miliar dolar atau sekitar 440 triliun rupiah. Dari kacamata makro ekonomi, kontribusi kepala sawit terhadap devisa negara sangat signifikan. Minyak sawit dan turunannya konsisten menempati peringkat atas dalam komoditas ekspor utama Indonesia. Sekitar 11% nilai total ekspor indonesia pada tahun 2020 berasal dari industri sawit.

Secara global, 35-40 persen keperluan minyak nabati dunia, dipasok oleh minyak sawit. padahal sawit hanya menggunakan kira-kira 6 persen daripada total lahan produksi minyak nabati, menjadikannya tanaman penghasil minyak paling efisien. Dimana produktivitas per hektarnya jauh melampaui minyak kedelai dan biji bunga matahari.

Bahkan menurut World Wildlife Fund (WWF), jika dunia mencoba mengganti minyak sawit dengan minyak kedelai atau kelapa, maka dibutuhkan 4 hingga 10 kali lahan yang lebih luas untuk menghasilkan volume minyak yang sama.

Minyak sawit digunakan di mana-mana. Di rak supermarket tidak terhitung produk yang mengandung minyak sawit, mulai dari bahan makanan seperti mentega, biskuit, hingga mi instan. Semua menggunakan minyak sawit sebagai salah satu komponennya.

Selain untuk makanan, minyak sawit juga digunakan untuk bahan baku produk kosmetik dan kebersihan, seperti hingga produk kosmetik, sabun, shampo, detergen, lilin, hingga lipstik. Bahkan minyak sawit telah merambah sektor energi sebagai bahan bakar biodiesel.

Beberapa negara mencampur biodiesel berbasis sawit ke dalam solar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Negara yang mengimplementasikan campuran biodiesel seperti Minnesota, Amerika Serikat dengan pencampuran sebesar 20 persen pada tahun 2018, kemudian sejak tahun 2011 Kolombia melakukan pencampuran 10 persen, disusul Malaysia di tahun 2019 dengan besaran 10 persen. Indonesia pada tahun 2015 telah mencapurkan sebesar 15% biodiesel. Kemudian tahun 2023 lalu pencampurannya sudah mencapai 35%

Dengan keuntungan ekonomi yang menggiurkan, industri kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Dalam dua dekade terakhir, produksi minyak sawit Indonesia meningkat lebih dari 400 persen. Luas perkebunan sawit pun melonjak drastis, dari 3 juta hektar tahun 2000 menjadi lebih dari 13,5 juta hektar pada tahun 2023. Bahkan, data terbaru menyebutkan total area perkebunan sawit di Indonesia telah mendekati 15 juta hektar.

Perkebunan sawit terbesar ada di Sumatra dan Kalimantan. Sumatra menjadi pelopor kelapa sawit sejak awal abad ke-20. Sedangkan gelombang pengembangan besar-besaran di Kalimantan baru terjadi pada tahun 1980-an ketika perusahaan-perusahaan mulai melirik Kalimantan sebagai tempat untuk ekspansi sawit seiring meningkatnya permintaan global.

Data dari laporan “Deforestasi di Rezim Transisi” yang diliris Yayasan Madani Berkelanjutan, menunjukkan sebanyak 72 persen deforestasi terjadi terutama pada hutan produksi tetap. Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sumatra Utara menjadi wilayah dengan kehilangan terbesar, termasuk area gambut dan kawasan konservasi.



Kendati demikian, industri kelapa sawit seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menjanjikan keuntungan ekonomi yang melimpah. Tetapi di sisi lain, sawit menuntut perubahan lingkungan yang tak ternilai. Ini yang menjadi ironi: untuk memanen defisa dan memenuhi minyak dunia, Indonesia telah kehilangan hutan alam beserta fungsi ekologisnya.

Sebuah studi yang terbit di IOP Science pada 1 Februari 2019 oleh Kemen G Austin, dan kawan-kawan, menunjukkan bahwa pada periode antara tahun 2001 dan 2016, perkebunan kelapa sawit menjadi pendorong tunggal terbesar deforestasi.

Pada periode tersebut, deforestasi terbesar pada periode tersebut terjadi di Sumatera dan Kalimantan dengan lebih dari 40 persen dari deforestasi nasional. Sehingga Sumatra dan Kalimantan menanggung beban utama hilangnya tutupan hutan akibat ambisi menjadikan Indonesia sebagai raja sawit Indonesia.

“Tingkat deforestasi yang tinggi dan terus meningkat selama tahun 2001-2016, yang mengakibatkan emisi GRK yang besar dan membahayakan jasa ekosistem yang berharga. Deforestasi ini sebagian besar terjadi di pulau-pulau besar Sumatera (47% dari deforestasi nasional) dan Kalimantan (40% dari deforestasi nasional),” tulis para peneliti.

Sementara itu, studi dari peneliti Harvard University menunjukkan adanya penurunan kemampuan pepohonan di Kalimantan untuk menyimpan karbon. Hal ini terutama hutan-hutan yang berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit.

Penelitian tersebut telah terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences pada April 2020, oleh Elsa Ordway, seorang peneliti pascadoktoral di Harvard University Center for the Environment, dan rekan penulis Greg Asner dari Arizona State University.

Mereka mengatakan, kerusakan hutan hujan di Malaysia dan Indonesia didorong oleh permintaan minyak sawit. Selama ini, kata peneliti, studi masih banyak yang hanya menyorot hutan tapi tidak dengan fakta keberadaan perkebunan kelapa sawit.

“Hutan tropis merupakan bagian yang sangat penting dari siklus karbon global, tetapi terdapat ketidakpastian yang sangat besar mengenai seperti apa bentuknya di masa depan-apakah hutan tropis akan berkontribusi dalam menyimpan dan menyerap karbon dari atmosfer, atau apakah hutan tropis akan melepaskan karbon dioksida ke atmosfer,” ujar Ordway, dikutip dari Harvard Magazine.

Dampak hal ini dapat dilihat dari statistik kehutanan. Secara historis, di awal tahun 1900-an daratan Indonesia dulunya ditutupi 84% hutan. Namun, seiring berjalannya waktu, hutan tersebut tergerus. Hingga kini, Indonesia telah kehilangan sekitar 72 persen hutan aslinya. Situasi mengenaskan terjadi di Sumatra, dimana antara tahun 1990 hingga 2010, Sumatra telah kehilangan 7,5 juta hektar hutan atau sekitar 36 persen dari total hutannya. Yang lebih mencengangkan, hanya sekitar 8 persen dari hutan Sumatra yang tersisa pada tahun 2010, yang tergolong hutan belum terjamah.

Kejayaan sawit dibina di atas runtuhnya hutan tropis. Rupiah yang didapatkan dari sawit menyebabkan hilangnya pohon berusia ratusan tahun, punahnya satwa liar, dan musnahnya layanan ekologis.

Padahal, Hutan hujan Indonesia adalah salah satu yang paling kaya biodiversiti di dunia. Indonesia menempati peringkat ketiga setelah Brazil dan Kongo dalam hal jumlah spesies. Hutan Indonesia menyimpan 10 persen spesies tumbuhan berbunga dunia, 12 persen spesies mamalia, 16 persen reptil dan amfibi, 1.519 jenis burung, dan 25 persen spesies ikan dunia. Dimana banyak diantaranya merupakan satwa endemik atau hanya ditemukan di Indonesia. Namun, kekayaan ini tidak lagi memiliki ruang ketika hutan dialihfungsikan menjadi kebun sawit monokultur.

Salah satu argumen pembela perluasan kebun sawit adalah kebun sawit tetap hijau dan menyerap karbon dioksida layaknya pohon di hutan. Bahkan Presiden Prabowo Subianto pada akhir tahun 2024 menyatakan keinginan perluasan perkebunan kelapa sawit di tanah air berlanjut meski harus membabat hutan atau melakukan deforestasi yang dianggapnya tidak berbahaya.

“Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit, tidak usah takut katanya membahayakan (karena menyebabkan) deforestasi. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Ya dia menyerap karbon dioksida, darimana kita dituduh, yang mboten-mboten aja orang-orang itu,” ungkap Prabowo dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, di Jakarta, Senin (30/12).

Padahal, terdapat perbedaan fundamental antara kebun sawit dan ekosistem hutan hujan asli. Walaupun sawit menyerap CO2, hutan tropis utuh memiliki kapasitas penyimpanan karbon jangka panjang yang luar biasa selama ratusan tahun. Sementara itu, umur ekonomi sawit yang pendek sekitar 25-30 tahun, yang kemudian harus diremajakan, akan melepaskan kembali karbon yang terikat.

Lahan food estate sawah di Kalimanta Tengah berubah menjadi lahan untuk tanam sawit/Dok. Pantau Gambut

Perkebunan sawit monokultur hampir tidak menjadi habitat satwa liar, kerana kekurangan variasi jenis tumbuhan untuk makanan dan tempat berlindung. Konversi hutan menyebabkan hilangnya habitat satwa langka seperti orang utan dan gajah Sumatera, memicu konflik satwa-manusia.

Konversi hutan melepaskan simpanan karbon jauh lebih besar daripada kemampuan kebun sawit menyerapnya, menyebabkan “defisit karbon” yang signifikan. Situasi ini kian buruk apabila lahan gambut dibuka dan dikeringkan, kerana ia melepaskan CO2 terus-menerus dan menyebabkan kebakaran lahan gambut serta kabut asap.

Dengan merosotnya hutan, Indonesia kehilangan jantung ekologis yang berfungsi sebagai penyimpan air, pengatur iklim, dan penjaga kesuburan tanah. Kebun sawit monokultur tidak dapat meniru fungsi hutan alam.

Deforestasi ibarat membuka keran bagi bencana ekologis. Bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan di musim kemarau kian sering berlaku, hingga bencana yang terjadi di Sumatra sebagai konsekuensi dari kerusakan hutan alam. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending