MAHAKAMA – Di tengah akselerasi pembangunan yang masif, Kalimantan Timur membuktikan komitmennya dalam menjaga stabilitas wilayah. Benua Etam kini resmi masuk jajaran 10 besar provinsi dengan tingkat risiko kejahatan terendah nasional. Capaian ini mengukuhkan posisi Kalimantan Timur sebagai salah satu wilayah paling aman dan stabil di Indonesia.
Berdasarkan Data registrasi kepolisian yang dihimpun Badan Pusat Statistik 2024, angka kriminalitas di Kalimantan Timur mencatatkan rekor impresif. Tingkat risiko kejahatan (crime rate) di wilayah ini hanya menyentuh angka 174 korban per 100 ribu penduduk. Secara statistik, ini berarti peluang terjadinya tindak kriminalitas hanya sebesar 0,17 persen.
Performa positif Kalimantan Timur tersebut sejalan dengan situasi keamanan nasional yang juga menunjukkan tren membaik sepanjang 2024. Jumlah tindak kejahatan di Indonesia secara kumulatif menurun dari 585 ribu menjadi 562 ribu kasus pada tahun 2024. Penurunan ini turut memangkas angka risiko nasional dari 214 menjadi 204 korban per 100 ribu penduduk.
Daftar Provinsi dengan Tingkat Keamanan Tertinggi

Beberapa provinsi mencatatkan tingkat risiko kejahatan yang jauh lebih rendah daripada capaian nasional pada tahun ini. Jawa Barat menduduki posisi puncak sebagai provinsi paling aman dengan tingkat risiko sebesar 89 orang dari 100 ribu penduduk.
Banten mengekor di posisi kedua dengan angka 98 orang, sementara Jawa Tengah mencatatkan angka 111 orang per 100 ribu penduduk.
Kalimantan Barat menjadi wilayah paling aman di luar Pulau Jawa dengan tingkat risiko sebesar 112 orang per 100 ribu penduduk.
Selanjutnya, Jawa Timur menempati posisi kelima dengan angka 142 orang per 100 ribu penduduk. Angka-angka ini mencerminkan keberhasilan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah masing-masing.
Posisi Kalimantan Timur dalam Peta Keamanan Nasional
Nusa Tenggara Barat berada di peringkat berikutnya dengan tingkat risiko sebesar 146 orang, diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan 148 orang. Sementara itu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur berbagi angka yang sama yaitu 174 orang per 100 ribu penduduk. Lampung kemudian menutup daftar sepuluh besar wilayah teraman dengan angka 186 orang per 100 ribu penduduk.
Meskipun Jawa Barat dan Banten masih memimpin sebagai wilayah paling aman, Kalimantan kini muncul sebagai kekuatan baru dalam stabilitas nasional. Kalimantan Barat berhasil menjadi provinsi teraman di luar Pulau Jawa, disusul oleh Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur yang semuanya kompak menembus jajaran sepuluh besar nasional.
Masuknya Kalimantan Timur dalam daftar ini membuktikan bahwa wilayah luar Jawa kini mampu menciptakan lingkungan yang sama kondusifnya dengan pusat pemerintahan lama.
Perbandingan dengan Wilayah Paling Rawan

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi di beberapa wilayah yang masih memiliki tingkat kerawanan tinggi. Sulawesi Utara menjadi provinsi paling rawan dengan risiko kejahatan mencapai 540 orang per 100 ribu penduduk. Papua Barat menyusul dengan angka 501 orang, sementara Sulawesi Selatan mencatatkan 440 orang dan Sumatera Utara sebesar 423 orang.
Faktanya, tingkat risiko di wilayah rawan tersebut bisa mencapai tiga kali lipat daripada risiko di Kalimantan Timur. Namun demikian, capaian positif di Kalimantan Timur tetap memerlukan perhatian serius agar angka kriminalitas tidak kembali naik. Pembangunan Ibu Kota Nusantara yang masif di wilayah ini tentu membawa tantangan baru bagi stabilitas keamanan sosial.
IPM Tinggi dan Ekonomi Tumbuh Tak Menjamin Wilayah Aman
Untuk melihat apakah kerawanan kejahatan berkaitan dengan kualitas hidup dan kinerja ekonomi, analisis ini menggunakan dua indikator utama, yakni Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai cerminan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup, serta pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran dinamika aktivitas ekonomi daerah.
Data BPS 2024 memperlihatkan, Sumatera Utara termasuk provinsi dengan tingkat pembangunan manusia tinggi. IPM provinsi ini berada di kisaran 76, sementara pertumbuhan ekonominya 5 persen. Namun, kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan rasa aman warga. Sepanjang 2024, Sumatera Utara mencatat 423 korban kejahatan per 100 ribu penduduk, salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Sebaliknya, Kalimantan Timur juga memiliki IPM tinggi, bahkan berada di kisaran 79, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 2–3 persen. Meski secara ekonomi tumbuh lebih lambat dibanding Sumatera Utara, tingkat kejahatan di provinsi ini jauh lebih rendah, yakni 173 korban per 100 ribu penduduk.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa IPM yang tinggi dan ekonomi yang tumbuh positif tidak otomatis menurunkan risiko kejahatan. Dua provinsi dengan kualitas pembangunan manusia relatif setara justru memiliki jurang kriminalitas yang sangat lebar. Ini menguatkan indikasi bahwa faktor lain di luar pertumbuhan ekonomi. Contohnya, ketimpangan, tekanan urban dan efektivitas tata kelola wilayah. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin