By admin
20.03.26

Jangan Tanya ‘Kapan Nikah’: Kini 68 Persen Pemuda Indonesia Pilih Melajang demi Kesiapan Ekonomi

MAHAKAMA – Senyum canggung kerap menjadi jawaban saat pertanyaan kapan menikah muncul di meja keluarga saat hari raya. Bagi banyak anak muda, pertanyaan itu terasa berat karena beririsan dengan tekanan ekonomi dan pencarian arah hidup.

Tekanan tersebut membuat pernikahan tidak lagi dipandang sebagai langkah otomatis setelah dewasa. Semakin banyak kaum muda menimbang ulang keputusan menikah karena mempertimbangkan kesiapan finansial, mental dan stabilitas karier.

Pergeseran ini bukan sekadar tren media sosial seperti ungkapan marriage is scary, melainkan refleksi perubahan cara pandang terhadap komitmen jangka panjang. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menunjukkan jumlah pasangan yang menikah di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Hal ini menguatkan adanya perubahan sosial yang nyata.

Pergeseran Status Pemuda dan Peningkatan Angka Lajang

Data BPS pada 2018, tercatat sekitar 2,02 juta pasangan menikah, namun angka tersebut merosot hingga tinggal 1,47 juta pasangan pada 2025. 

Penurunan bertahap ini menandakan bahwa minat untuk membangun rumah tangga belum sepenuhnya pulih meskipun situasi pasca pandemi sudah kembali normal.

Selain itu, terdapat data lain dari BPS yang memperkuat temuan mengenai penurunan minat menikah di kalangan anak muda Indonesia saat ini. Mayoritas pemuda usia 16 hingga 30 tahun berstatus belum menikah dengan persentase mencapai 68,29 persen pada Maret 2023. 

Angka ini menunjukkan peningkatan konsisten sejak tahun 2014 yang saat itu masih berada pada level 54,11 persen.

Sebaliknya, persentase pemuda yang berstatus kawin justru mengalami tren penurunan yang sangat signifikan selama sembilan tahun terakhir. Angka tersebut merosot dari 44,45 persen pada 2014 menjadi hanya 30,61 persen pada 2023. 

Oleh karena itu, tren menunda pernikahan kini telah menjadi pola perilaku kolektif yang mendominasi kehidupan sosial generasi produktif.

Alasan Ekonomi dan Kesadaran Mental di Media Sosial

Data kuantitatif itu diperkuat percakapan publik. Konsultan Komunikasi SGH, Teleskop.id Data Analytic, dan Litbang Kompas pada 2024 menemukan 3,4 ribu konten tentang tunda menikah di media sosial X dan Instagram. Warganet mengemukakan berbagai alasan pribadi dan sosial yang mendasari keputusan mereka untuk tidak terburu-buru membangun rumah tangga. 

Alasan ekonomi mendominasi diskusi dengan persentase 13,9 persen yang menandakan bahwa stabilitas finansial merupakan pondasi utama pernikahan.

Selain ekonomi, besarnya porsi alasan selektif memilih pasangan mencapai 13,3 persen dan belum memprioritaskan pernikahan sebesar 12,7 persen.

Alasan belum siap mental dan rasa nyaman menyendiri masing-masing menyumbang angka 9,5 persen dalam diskusi publik tersebut. 

Kekhawatiran terhadap risiko kekerasan dalam rumah tangga atau perselingkuhan juga menjadi pertimbangan penting bagi 8,2 persen anak muda.

Rasionalitas Ekonomi dalam Keputusan Menunda Menikah

Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa penundaan menikah lebih mencerminkan kehati-hatian daripada penolakan. Banyak anak muda memandang pernikahan sebagai tanggung jawab jangka panjang yang menuntut kesiapan nyata. 

Temuan ini sejalan dengan penelitian berjudul Marriage Delay and Economic Rationality: A Socio-Theological Study on Poverty Fear among Young Indonesian Muslims (2024). Studi tersebut menyimpulkan bahwa ketakutan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan kemiskinan berperan signifikan dalam membentuk keputusan menunda pernikahan. 

Dengan demikian, keputusan menunda lebih merupakan strategi untuk memastikan keberlanjutan rumah tangga dan kesejahteraan keluarga di masa depan.

Jadi, jika ada anggota keluarga belum menikah, tidak perlu menanyakan kapan ke pelaminan. Keputusan itu kerap lahir dari kehati-hatian dan perencanaan matang demi kualitas hidup, bukan sekadar menunda tanpa alasan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending