MAHAKAMA – Di tengah laju rutinitas harian yang padat, detak jantung ribuan orang serasa menyambut pagi. Setiap orang mencari ruang gerak, entah itu di trotoar ibu kota atau di taman-taman kota.
Aktivitas fisik ternyata menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase signifikan penduduk mulai beralih gaya hidup. Sebanyak 33,62 persen penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun tercatat aktif berolahraga pada tahun 2024.
Angka ini didapatkan dari survei terhadap penduduk yang berolahraga dalam seminggu terakhir ketika periode pengumpulan data. Menariknya, setiap provinsi memperlihatkan kebiasaan olahraga yang berbeda-beda.
DKI Jakarta di Puncak, Kalimantan Timur Menyusul

Faktanya, sepuluh provinsi menunjukkan tingkat keaktifan berolahraga tertinggi. DKI Jakarta menempati posisi puncak dengan 52,9 persen penduduknya berolahraga. Posisi ini selaras dengan ketersediaan fasilitas kota seperti jalur pedestrian yang memadai, ruang terbuka yang terus bertambah, serta maraknya komunitas lari yang aktif menggelar latihan rutin.
Banten menyusul di urutan kedua dengan 44,89 persen, diikuti Kepulauan Riau dengan 43,57 persen. Aktivitas lari di wilayah ini turut tumbuh berkat akses ruang publik yang luas dan dekat dengan kawasan permukiman.
Bergeser ke Kalimantan, Kalimantan Timur berada di peringkat keempat dengan 40,26 persen. Tingginya partisipasi ini didukung oleh bertambahnya komunitas olahraga seperti klub lari lokal serta pemanfaatan kawasan tepi sungai dan ruang publik sebagai arena latihan.
Tren serupa terlihat di Daerah Istimewa Yogyakarta pada peringkat kelima (39,82 persen) dan Jawa Barat di urutan keenam (39,28 persen). Dua provinsi yang memiliki budaya olahraga kuat dan komunitas lari yang stabil.
Nusa Tenggara Barat berada di urutan ketujuh dengan 38,28 persen. Dua provinsi dari Kalimantan lainnya juga masuk daftar sepuluh besar. Kalimantan Utara berada di peringkat kedelapan dengan 36,95 persen.
Selanjutnya, Kepulauan Bangka Belitung menempati posisi kesembilan dengan 35,66 persen. Sementara itu, Sumatera Barat menutup daftar sepuluh provinsi paling aktif berolahraga dengan 34,19 persen, didorong oleh ruang publik yang makin dimanfaatkan warga untuk aktivitas fisik ringan.
Komunitas Olahraga Sebagai Pendukung Gaya Hidup
Tren tingginya partisipasi olahraga di berbagai provinsi ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi mulai menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Untuk menjaga ritme itu, kehadiran komunitas olahraga berperan besar dalam membangun kebiasaan yang lebih konsisten. Contohnya, salah satu klub lari di Samarinda, SMD RUN. Dilansiri RRI (6/52025), komunitas ini telah aktif sejak 2018 dan terus menjadi ruang bagi warga untuk berlatih bersama.
Dalam perjalanan waktu, banyak anggota baru bergabung. Mereka menemukan berbagai manfaat selain lari. Anggota mendapatkan pelatihan drill training, strength training dan berbagai aktivitas fisik lainnya. Komunitas ini tidak hanya berfokus pada lari. Mereka juga melatih anggotanya untuk menjaga semangat agar tidak cepat bosan.
Panduan WHO dan Manfaat Olahraga Teratur
Lantas, bagaimana olahraga yang ideal dilakukan masyarakat? World Health Organisation (WHO) merekomendasikan orang dewasa berolahraga 150–300 menit per minggu untuk intensitas sedang. 75–150 menit untuk intensitas berat. Durasi lebih panjang memberi manfaat tambahan, mulai dari daya tahan tubuh hingga bermanfaat untuk fungsi ketahanan organ.
Aktivitas fisik bisa dilakukan dengan cara sederhana seperti berjalan, berlari, bersepeda, menari atau yoga. Olahraga ringan dapat dilakukan di rumah atau ruang publik. Olahraga teratur terbukti menurunkan risiko penyakit tidak menular. Selain itu, konsistensi berolahraga membantu menjaga kesehatan mental, termasuk mengurangi kecemasan dan depresi.
Intinya, menjaga tubuh tetap aktif adalah investasi kesehatan jangka panjang. Saatnya membangun kebiasaan bergerak setiap hari. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin