By admin
19.12.25

Ironi Kesenjangan! Kekayaan 50 Orang Terkaya Tembus Rp5.100 T di Tengah 7,46 Juta Pengangguran

MAHAKAMA – Deretan mobil mewah meluncur mulus di aspal ibu kota sementara pedagang kecil sibuk menghitung recehan di genggaman. Jurang kesenjangan sosial kini semakin terlihat nyata di tengah gemerlap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.

Berdasarkan data Forbes, total kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia pada 2025 melonjak pesat hingga mencapai 5.100 triliun rupiah. Angka ini naik sekitar 21,5 persen atau bertambah 903 triliun rupiah dibandingkan tahun 2024. 

Namun demikian, kondisi ekonomi rakyat biasa justru menunjukkan tren yang berbeda. Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2025 menurun menjadi 5,04 persen dari sebelumnya 5,12 persen.

Daftar Orang Terkaya Indonesia di Puncak Piramida Ekonomi

Hartono bersaudara tetap mengukuhkan posisi di urutan pertama dengan kekayaan sebesar 730,10 triliun rupiah dari bisnis rokok dan perbankan. 

Prajogo Pangestu menyusul di peringkat kedua dengan total aset mencapai 663,43 triliun rupiah melalui Barito Pacific Group. 

Keluarga Widjaja menempati urutan ketiga dengan kekayaan 471,73 triliun rupiah yang berasal dari sektor pulp, kertas, hingga agribisnis. 

Sementara itu, pengusaha batu bara Low Tuck Kwong mencatatkan kekayaan sebesar 415,06 triliun rupiah di posisi keempat.

Anthoni Salim dan keluarga menempati peringkat kelima dengan total harta mencapai 226,37 triliun rupiah melalui lini bisnis makanan. 

Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman yang bergerak di industri pusat data masing-masing memiliki 188,36 triliun dan 136,56 triliun rupiah. 

Di samping itu, terdapat nama Tahir dengan 163,21 triliun rupiah serta keluarga Tanoko dengan 134,90 triliun rupiah. 

Sri Prakash Lohia menutup daftar sepuluh besar dengan total kekayaan sebesar 133,23 triliun rupiah.

Kontras Kesejahteraan dan Pelemahan Daya Beli Masyarakat

Faktanya, kenaikan harta para elit ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi tabungan mayoritas penduduk. Data LPS menunjukkan bahwa hanya 1 persen masyarakat Indonesia yang memiliki tabungan di atas 100 juta rupiah. 

Pelemahan ini sejalan dengan penurunan daya beli masyarakat yang merosot menjadi 4,89 persen pada kuartal ketiga. Selain itu, jumlah pengangguran saat ini masih menyentuh angka 7,46 juta orang di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, fenomena ini menunjukkan adanya K-Shaped Recovery, yaitu kondisi ekonomi yang tidak merata. Istilah yang sering digunakan dalam laporan World Inequality Report ini menggambarkan pemulihan ekonomi yang bentuknya menyerupai huruf K. Garis atas huruf K mewakili kelompok kaya yang mengalami lonjakan kekayaan secara drastis. Sebaliknya, garis bawah huruf K menunjukkan kesejahteraan rakyat kecil yang justru semakin merosot akibat tekanan ekonomi.

Kelompok masyarakat di puncak piramida semakin kaya karena memiliki aset investasi yang nilainya terus tumbuh besar. Sementara itu, kelas menengah ke bawah terus berjuang menghadapi harga barang yang naik tanpa adanya kenaikan pendapatan yang sebanding. Tantangan utama pemerintah kini adalah memastikan agar roda ekonomi bisa berputar dan menyentuh seluruh lapisan warga. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending