By admin
20.11.25

IPB Tembus Top 50 Dunia, Indonesia Masuk Peta Besar Kampus Agrikultur

Gedung Rektorat IPB/IPB.ac.id

MAHAKAMA – Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia menjadikan sektor pertanian dan perhutanan sebagai urat nadi yang menopang hidup bangsa. Faktanya, sektor ini memberikan kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan III-2025, kontribusinya mencapai 14,35 persen. Ini menjadikannya salah satu penyumbang terbesar setelah industri pengolahan dan perdagangan.

Besarnya peran sektor ini membuat kebutuhan tenaga ahli di bidang agrikultur dan kehutanan semakin mendesak. Karena itu, reputasi perguruan tinggi menjadi pertimbangan penting bagi calon mahasiswa. Reputasi bukan sekadar nama besar, tetapi cerminan kualitas pengajaran, jejaring kerja sama global, pengalaman akademik, serta peluang riset yang ditawarkan.

Untuk melihat kampus mana yang unggul pada bidang tersebut, QS World University Rankings melakukan pemeringkatan berbasis sejumlah indikator. Aspek yang dinilai meliputi kualitas penelitian, daya saing lulusan di pasar kerja, pengalaman belajar, keterlibatan global dan keberlanjutan, dengan skor maksimum 100. Khusus bidang Agrikultur dan Kehutanan, berikut daftar sepuluh kampus terbaik versi QS World University Rankings.

Belanda dan Amerika Serikat Mendominasi Peringkat Dunia

Wageningen University & Research dari Belanda berhasil mempertahankan posisi puncaknya di peringkat pertama. Universitas ini mencatat skor sempurna 100,0 dalam indikator Akademik dan meraih skor keseluruhan 98,0. Wageningen menjadi tolok ukur global untuk inovasi pangan dan lingkungan.

Di peringkat kedua, University of California, Davis dari Amerika Serikat mencatat skor keseluruhan 91,0. Kemudian, Swedish University of Agricultural Sciences dari Swedia menempati posisi ketiga dengan skor keseluruhan 87,5.

China Agricultural University dari Tiongkok mencatat kenaikan signifikan ke posisi keempat dengan skor keseluruhan 85,9. Pada tahun 2024 Universitas ini beradai di peringkat 8. Kenaikan ini menunjukkan besarnya fokus Tiongkok dalam riset pangan skala besar.

Selanjutnya, urutan kelima diisi oleh Cornell University (Amerika Serikat) dengan skor 83,8. Purdue University (Amerika Serikat) berada di peringkat keenam dengan skor 83,4. ETH Zurich – Swiss Federal Institute of Technology dari Swiss berada di peringkat ketujuh dengan skor 82,1.

Di urutan kedelapan ada Ghent University dari Belgia dengan skor 82,0. University of California, Berkeley (UCB) (Amerika Serikat) berada di peringkat kesembilan dengan skor 80,0. Terakhir, Norwegian University of Life Sciences (UMB) dari Norwegia melengkapi sepuluh besar dengan skor 79,8.

Secara keseluruhan, Amerika Serikat menjadi negara dengan representasi terbanyak dalam daftar ini. Negara tersebut menempatkan total empat kampus di jajaran sepuluh besar dunia.

PB Menembus Jajaran 50 Besar Kampus Agrikultur Dunia

Indonesia menempatkan IPB University di jajaran 50 besar dunia. IPB University berada di peringkat 49 secara global. Kampus ini mencatat skor Akademik yang tinggi, yaitu 78,0. Kehadiran IPB di kelompok Top 50 ini menegaskan peran strategis Indonesia dalam ilmu pertanian dan kehutanan.

Selain IPB, beberapa kampus Indonesia juga menunjukkan kualitas yang diakui. Universitas Gadjah Mada berada di kelompok peringkat 151-200 dengan skor Akademik 62,5. Kemudian, Universitas Brawijaya dan Universitas Hasanuddin berada di kelompok 251-300.

Universitas Padjadjaran masuk di kelompok 301-350. Selanjutnya, Universitas Diponegoro dan Universitas Sebelas Maret berada di kelompok bawahnya. Keberadaan kampus-kampus ini di daftar global menunjukkan potensi besar SDM Indonesia di bidang agrikultur dan kehutanan.

Kebutuhan Inovasi Global dan Lokal

Kampus-kampus yang berada di sepuluh besar dunia, seperti Wageningen dan UC Davis, unggul karena fokus pada inovasi pangan berkelanjutan. Mereka menghubungkan ilmu pertanian dengan teknologi canggih seperti agrikultur yang presisi dan bioteknologi. Oleh karena itu, mereka berhasil mengatasi tantangan perubahan iklim dan ketahanan pangan.

Bagi Indonesia, posisi IPB di kelompok 50 besar menjadi modal penting. Kampus ini diharapkan mampu menjadi motor utama dalam menyelesaikan persoalan pertanian nasional. Tantangannya adalah menerjemahkan riset global yang canggih ke dalam konteks tropis Indonesia.

Penguatan riset diperlukan untuk meningkatkan produktivitas komoditas utama seperti sawit, kopi dan padi. Selain itu, Indonesia perlu menekan laju deforestasi dan memperkuat konservasi hutan secara lebih efektif. Peningkatan kualitas SDM di sektor ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Masa depan bangsa bergantung pada kemampuan mengelola tanah dan hutan secara berkelanjutan. Dukungan terhadap pendidikan dan riset agrikultur harus terus diperluas agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok komoditas, tetapi juga pemimpin dalam inovasi pangan dan kehutanan global. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending