MAHAKAMA – Jembatan antar-negara terbentang bukan hanya oleh diplomasi, tetapi juga oleh keringat dan harapan para pekerja yang mencari peluang. Di Taiwan, wajah Indonesia menjadi wajah komunitas asing terbesar.
Oleh karena itu, Taiwan merupakan sebuah negara kepulauan yang dikenal sebagai pusat teknologi dan manufaktur global. Lokasi geografisnya dekat dengan Asia Tenggara membuat Taiwan menjadi destinasi kerja dan studi yang menarik.
Banyak orang memilih bekerja atau menetap di sana karena peluang kerja yang stabil di sektor industri dan layanan, serta upah yang kompetitif. Upah di Taiwan menjadi sangat menarik karena nilai mata uang Taiwan Dolar (TWD) jauh lebih besar daripada Rupiah (IDR). Akibatnya, gaji yang didapatkan di sana terhitung tinggi bagi pekerja Indonesia.
Oleh karena itu, Taiwan mendapatkan tenaga kerja yang mengisi kekurangan domestik, sementara negara-negara Asia Tenggara menerima remitansi yang signifikan.
Indonesia Mendominasi Populasi Asing di Taiwan

Taiwan terus menarik jumlah penduduk asing yang semakin bertambah. Warga negara Asia Tenggara menjadi bagian terbesar dari populasi ini. Menurut data National Immigration Agency Taiwan per September 2025, Indonesia memimpin dengan 342,9 ribu penduduk.
Selain itu, terdapat juga Vietnam dengan 304,7 ribu penduduk dan Filipina dengan 190,7 ribu penduduk. Ketiga negara ini membentuk kelompok komunitas asing teratas, yang mencerminkan ikatan tenaga kerja, pendidikan dan budaya yang kuat antara Taiwan dan Asia Tenggara.
Di samping itu, negara-negara seperti Thailand (84.532) dan Malaysia (24.363) juga mempertahankan komunitas cukup besar di Taiwan. Keberadaan mereka menambah keragaman populasi penduduk asing Taiwan.
Seiring kota-kota Asia Tenggara berkembang secara ekonomi dan demografi, hubungan mereka dengan Taiwan juga ikut menguat. Penguatan hubungan ini terjadi melalui mobilitas, pendidikan, dan kerja sama regional jangka panjang.
Arus tenaga kerja di sektor kesehatan, manufaktur, hingga jasa mendorong kontribusi signifikan bagi ekonomi Taiwan. Selain itu, arus ini juga mempererat hubungan antar-masyarakat dan membentuk jalur migrasi yang kian terstruktur.
Kontribusi Devisa Pekerja Migran Indonesia
Indonesia menjalankan program Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan dan penempatan kerja internasional. Program ini tidak hanya membuka mobilitas tenaga kerja, tetapi juga berkontribusi besar bagi perekonomian nasional. Dilansir Detik Finance (15/6/2025), PMI merupakan penyumbang devisa terbesar kedua setelah migas, dengan target remitansi 2025 mencapai lebih dari Rp439 triliun. Hingga kuartal II-2025, remitansi telah menembus Rp140 triliun, sementara sepanjang 2024 totalnya sekitar Rp253,3 triliun.
Dominasi pekerja Indonesia sebagai populasi asing terbesar di Taiwan menunjukkan kemampuan Indonesia memanfaatkan pasar tenaga kerja luar negeri. Besarnya remitansi menegaskan bahwa PMI berperan vital sebagai penopang stabilitas ekonomi.
Tantangan utama pemerintah adalah memperkuat perlindungan dan kesejahteraan PMI. Dengan mayoritas bekerja di sektor layanan dan manufaktur, peningkatan kualitas pelatihan dan proses penempatan yang aman menjadi kunci agar PMI dapat mengisi posisi yang lebih terampil dan menghasilkan remitansi yang lebih tinggi. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin