MAHAKAMA – Bencana alam ibarat alarm yang tak pernah berhenti berdering di Nusantara. Setiap hujan deras turun, setiap gempa kecil terjadi, warga dihadapkan pada ancaman kerugian jiwa dan materi yang nyata.
Banjir bandang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November lalu. Bencana ini meluluhlantakkan ribuan infrastruktur dan memaksa jutaan warga mengungsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, per 10 Desember 2025, total korban banjir Sumatra mencapai lebih dari 6 ribu jiwa, dengan 969 jiwa meninggal, 252 jiwa hilang, dan sekitar 5 ribu jiwa terluka.
Tingginya angka korban ini tidak lepas dari kondisi ekosistem yang telah rusak parah. Oleh karena itu, ancaman bencana di Indonesia harus menjadi perhatian serius.
Faktanya, banjir merupakan jenis bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat terjadinya 1,5 ribu banjir di Indonesia sepanjang 2025, per 7 Desember 2025.
Jika ditotal, kejadian seluruh jenis bencana mencapai 3 ribu peristiwa. Artinya, separuh dari angka tersebut berupa bencana banjir.
Separuh Bencana di Indonesia Sepanjang 2025 Adalah Banjir
Faktanya, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan risiko bencana banjir tertinggi se-Asia Tenggara. Hal ini didukung oleh laporan World Risk Index 2025 yang dirilis oleh Institute for International Law of Peace and Armed Conflict (IFHV) dari Ruhr-University Bochum. Laporan itu mencatat skor indeks Indonesia sebesar 47,82 dalam rentang 0 sampai 100.
Laporan ini menunjukkan bahwa nilai indeks risiko bencana dihitung berdasarkan dua faktor utama: Indeks Paparan dan Indeks Kerentanan.
1. Indeks Paparan
- Mengukur seberapa besar populasi terpapar dan terbebani oleh jenis-jenis bencana.
- Bencana yang dicakup meliputi gempa bumi, tsunami, banjir pesisir dan sungai, siklon, kekeringan, serta kenaikan permukaan air laut.
2. Indeks Kerentanan
Terdiri dari tiga dimensi yang menilai kemampuan suatu wilayah menghadapi bencana:
- Kerentanan Dasar: Kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur yang membuat suatu daerah rentan terhadap kerusakan.
- Kapasitas Penanggulangan: Kemampuan masyarakat merespons bencana dalam jangka pendek.
- Kapasitas Adaptasi: Kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan ancaman bencana di masa depan.
Myanmar Peringkat Pertama Risiko Banjir Asia Tenggara

Puncak teratas dalam daftar negara Asia Tenggara dengan risiko banjir tertinggi diisi oleh Myanmar. Negara ini memiliki skor indeks mencapai 63,37. Angka ini menjadikan Myanmar sebagai negara paling rentan terhadap bencana banjir di kawasan ini. Posisi kedua disusul oleh Filipina dengan angka 50,05.
Setelah Indonesia, Vietnam berada di posisi keempat dengan skor 46,17. Thailand melengkapi deretan lima besar negara dengan tingkat risiko banjir tertinggi di kawasan Asia Tenggara dengan indeks 43,32.
Bangku keenam diisi oleh Kamboja yang mencatatkan skor 35,4. Adapun Malaysia menutup pemeringkatan dengan indeks sebesar 31,66.
Pemerintah Harus Prioritaskan Mitigasi Kerentanan
Data ini jelas menegaskan bahwa banjir bukan hanya masalah hujan deras, tetapi masalah yang sudah mengakar (struktural). Tingginya skor risiko Indonesia berarti populasi kita sangat sering terkena banjir (Paparan tinggi) dan masyarakat kita sulit pulih setelahnya (Kerentanan tinggi).
Pemerintah harus segera fokus mengurangi Kerentanan Dasar. Caranya adalah dengan tegas meninjau ulang kebijakan tata ruang. Pemerintah tidak boleh lagi sembarangan memberi izin usaha yang merusak alam. Keputusan pembangunan harus selalu didasarkan pada hitungan risiko bencana yang pasti. Kerusakan alamlah yang membuat suatu daerah semakin rentan saat banjir datang.
Di samping itu, karena banjir mencapai separuh dari total bencana, pemerintah harus memperkuat kemampuan masyarakat. Pemerintah perlu meningkatkan Kapasitas Penanggulangan (kesiapan menghadapi bencana saat itu juga) dan Kapasitas Adaptasi (kemampuan hidup berdampingan dengan ancaman banjir di masa depan) di tingkat komunitas. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin