MAHAKAMA – Di tengah gemuruh pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), udara Kalimantan Timur kembali diselimuti asap. Pohon-pohon tua di sekitar Penajam Paser Utara tumbang, meninggalkan tanah gersang yang kini membuka ruang bagi perkebunan dan perluasan industri. Di balik janji pengembangan ekonomi, pulau ini kehilangan ribuan hektare hutan primernya secara dramatis.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Faktanya, pembukaan lahan untuk industri masih menjadi penyebab utama hilangnya hutan, demikian temuan penelitian Tim Auriga Nusantara (2025) dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2024. Dalam laporan tersebut, sektor penebangan dengan izin resmi menghabiskan 36,1 ribu ha hutan pada tahun 2025. Selain itu, tambang menyumbang 38,6 ribu ha, sementara perkebunan kelapa sawit menggerus 37,5 ribu ha.
Tren Nasional: Laju Menurun, Peringkat Belum Berubah

Meskipun Indonesia masih kehilangan ribuan hektare hutan tiap tahun, laju deforestasi mulai menurun. Data dari laporan Status Deforestasi Indonesia 2024 menunjukkan, Indonesia kehilangan 0,29 juta hektare hutan primer pada 2023. Angka itu turun 11 persen pada 2024 menjadi 0,26 juta hektare. Namun demikian, penurunan ini belum cukup. Indonesia tetap berada pada posisi empat besar negara dengan deforestasi tertinggi di dunia.
Sejak 2002, total hutan primer yang hilang mencapai 10,73 juta hektare. Sebagai perbandingan, tahun 2016 menjadi masa terburuk. Sebanyak 0,93 juta hektare hutan lenyap akibat kebakaran besar pada tahun itu. Dari jumlah tersebut, 56,86 persen atau 0,53 juta hektare berasal dari kebakaran. Sisanya terjadi karena aktivitas manusia seperti penebangan dan perluasan lahan.
Meskipun demikian, penurunan deforestasi sempat stabil hingga 2021 dengan angka 0,20 juta hektare. Angka ini tercatat sebagai yang terendah sejak dua dekade terakhir. Sayangnya, setelah 2021, tren kembali naik tajam sampai 2023.
Kalimantan Timur Jadi Penyumbang Terbesar

Laporan Madani Insight menyebutkan Kalimantan Timur menjadi provinsi dengan luas deforestasi bruto hutan alam tertinggi, mencapai 36,2 ribu hektare. Posisi ini diikuti Riau dengan 28,8 ribu hektare.
Selain itu, Kalimantan Barat juga mengisi peringkat ketiga dengan luas deforestasi bruto hutan alam mencapai 21,4 ribu hektare. Posisi keempat tercatat di Kalimantan Tengah dengan 19,7 ribu hektare. Aceh juga mencatat deforestasi sebesar 11,1 ribu hektare.
Data dari Status Deforestasi Indonesia 2024 memperkuat temuan ini. Secara kabupaten, tiga daerah tertinggi yang mengalami deforestasi pada 2024 didominasi oleh Kalimantan. Kutai Timur, Kalimantan Timur, mencatat deforestasi tertinggi sebesar 16.578 hektare. Diikuti oleh Berau, Kalimantan Timur, dengan 9.378 hektare. Peringkat ketiga adalah Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 9.115 hektare.
Deforestasi Kalimantan Timur Melonjak Akibat IKN

Deforestasi terbesar kembali terjadi di Kalimantan Timur. Penunjukan satu daerah di Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi Ibu Kota Negara (IKN) tampaknya menjadi salah satu musabab meningkatnya deforestasi ini.
Hal ini terlihat dari adanya usulan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengubah rencana tata ruang provinsi. Jika usulan tersebut disetujui, dampaknya adalah pelepasan atau perubahan fungsi 736 ribu hektare kawasan hutan eksisting. Argumen utama yang disampaikan adalah pengembangan ekonomi sejalan dengan keberadaan IKN.
Tidak hanya Kalimantan Timur saja, seluruh Pulau Kalimantan mengalami deforestasi terbesar selama 2024. Ditilik secara komoditas, deforestasi akibat pengembangan kebun kayu (29,9 ribu hektare), tambang (23,6 ribu hektare), dan sawit (23,4 ribu hektare) menjadi musabab utama deforestasi di Kalimantan. Deforestasi oleh ketiga komoditas ini mencakup 59 persen deforestasi di seluruh Pulau Kalimantan.
Kerusakan lingkungan telah menjadi tantangan nyata bagi Indonesia. Pembangunan dan ekspansi industri harus tetap diimbangi dengan komitmen konservasi yang kuat. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin