By admin
22.12.25

Ibu Sakit Tak Mau Berobat, 97 Persen Lebih Pilih Mengurus Rumah

Menurut data terbaru BPS 2024, 64,61 persen ibu di Indonesia memilih swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa rawat jalan. /Ilustrasi

MAHAKAMA – Menjelang peringatan Hari Ibu pada 22 Desember, perhatian kita tertuju pada peran ganda perempuan yang tak terhitung jasanya. Setiap pagi, seorang ibu memulai harinya dengan menyiapkan sarapan, mengurus anak, hingga bekerja. Pengorbanan besar ini menuntut kesehatan optimal. Namun demikian, saat rasa lelah atau keluhan kesehatan muncul, ibu sering kali memilih menanggungnya. Mereka enggan meninggalkan tanggung jawab dan profesional demi pergi ke fasilitas kesehatan.

Kecenderungan untuk menunda pengobatan dan menghindari fasilitas kesehatan ini tampaknya memicu budaya swamedikasi. Swamedikasi adalah praktik mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. 

Alasan Utama Ibu Tidak Rawat Jalan

Fenomena ini sangat terlihat dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024. Sebanyak 64,61 persen ibu Indonesia tidak menjalani rawat jalan dalam sebulan terakhir karena mereka memilih mengobati diri sendiri

Sementara itu, 33,03 persen ibu merasa tidak perlu berobat meskipun mengalami keluhan kesehatan. Artinya, hampir seluruh ibu di Indonesia memilih untuk tidak berobat. Mereka merasa cukup dengan penanganan ringan di rumah atau menganggap penyakitnya belum serius.

Kondisi ini menunjukkan bahwa 97,64 persen ibu menangani sendiri keluhan kesehatan mereka tanpa kunjungan rawat jalan resmi. Angka ini mencerminkan tingginya kemandirian ibu dalam mengelola kesehatan primer keluarga. Angka ini juga menunjukkan kecenderungan menghindari sistem pelayanan kesehatan formal.

Adapun sebagian kecil responden memilih alasan lain sebagai sebab tidak mau berobat ketika sakit. Alasan tersebut, antara lain, waktu tunggu pelayanan yang lama (0,47 persen), tidak punya biaya berobat yang cenderung mahal (0,34 persen), tidak ada yang mendampingi (0,1 persen), terkendala ongkos (0,08 persen), serta tidak adanya transportasi (0,03 persen).

Peneliti banyak menemukan alasan ini di daerah perdesaan. Wilayah tersebut cenderung memiliki akses yang lebih terbatas dalam mendapatkan fasilitas kesehatan.

Swamedikasi dan Risiko Kesehatan yang Mengintai

Meskipun perilaku swamedikasi menunjukkan kemandirian dalam menjaga kesehatan, praktik ini juga mengindikasikan adanya potensi risiko besar. Risiko penanganan yang kurang tepat dapat terjadi jika ibu menangani penyakit berat tanpa arahan tenaga medis.

Oleh karena itu, swamedikasi harus terbatas pada kondisi penyakit ringan, umum, dan tidak akut, seperti pusing, demam, atau gejala flu. Masyarakat wajib mengenali gejala dan tanda bahaya, serta menggunakan obat bebas atau bebas terbatas sesuai indikasi dan dosis yang tertera pada kemasan. Jika gejala tidak membaik atau sembuh dalam waktu tiga hari, segera kunjungi dokter.

Di Hari Ibu ini, data menunjukkan bahwa kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu seringkali menempatkan kesehatan diri sendiri di urutan terakhir. Meskipun kemandirian dalam swamedikasi terlihat kuat, kesadaran kolektif perlu dibangun untuk memastikan bahwa mereka yang paling banyak berkorban juga mendapatkan perhatian kesehatan yang optimal, bukan hanya penanganan darurat di rumah. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending