By admin
27.12.25

Hutan Sumatera Habis Dibabat, Anak Muda Mulai Menggugat

Deforestasi akibat sawit dan tambang picu banjir bandang di Sumatera. Kerusakan hutan hulu kini jadi perhatian serius anak muda sebagai ancaman masa depan bumi./Ilustrasi

MAHAKAMA – Deru air sungai yang meluap dan tanah yang longsor kini menjadi mimpi buruk bagi warga di sepanjang daratan Sumatera. Bencana ekologis ini menghancurkan permukiman warga akibat rusaknya fungsi hutan sebagai penopang hidup alami.

Bencana banjir bandang di Sumatera terjadi karena deforestasi masif akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan pertambangan. Kerusakan di wilayah hulu ini menghilangkan fungsi resapan air sehingga air sungai meluap dengan cepat saat hujan ekstrem. 

Oleh karena itu, masalah kerusakan hutan ini sudah menarik perhatian besar generasi muda sejak awal tahun.

Fokus Anak Muda pada Isu Lingkungan

Faktanya, survei dari Kawula17 terhadap 1,34 ribu responden muda menunjukkan bahwa perlindungan hutan menempati urutan pertama dengan 53 persen suara. Angka ini mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap laju deforestasi yang terus meningkat di tanah air. Laju kerusakan hutan naik dari 230,7 ribu  hektare pada 2022 menjadi 257,4 ribu hektare pada 2023 akibat pembukaan lahan.

Di samping itu, sebanyak 38 persen anak muda menuntut pembentukan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan menyejahterakan petani. Isu hak masyarakat adat juga menempati posisi ketiga dengan dukungan 34 persen suara dari responden. Mereka mendesak pemerintah agar segera mengesahkan regulasi untuk melindungi wilayah serta budaya lokal dari kerusakan.

Aspirasi Energi Terbarukan dan Kritik Kebijakan

Generasi muda juga mulai beralih pada dukungan terhadap pengembangan energi baru terbarukan sebesar 31 persen. Mereka menilai penggunaan kendaraan listrik dan energi ramah lingkungan bisa menjadi solusi untuk menekan kerusakan bumi. Selain itu, sebanyak 30 persen responden menyoroti dampak nyata dari perubahan iklim yang semakin destruktif.

Anak muda juga turut mengkritik kebijakan pemerintah terkait pelonggaran aturan dampak lingkungan sebesar 24 persen suara. Sebanyak 16 persen responden lainnya menyatakan penolakan tegas terhadap perluasan izin tambang yang merusak ekosistem hutan. Data ini memperlihatkan bahwa mayoritas concern generasi muda kini berpusat pada pemulihan kualitas lingkungan hidup.

Suara Pemuda dan Tantangan Kebijakan

Tingginya angka dukungan terhadap perlindungan hutan menunjukkan bahwa anak muda memahami hubungan antara kebijakan lahan dengan bencana alam. Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mengevaluasi izin-izin industri ekstraktif yang mengancam tutupan hutan di wilayah hulu. Suara kritis ini merupakan bentuk peringatan bagi pembuat kebijakan agar tidak mengabaikan kelestarian alam demi pertumbuhan ekonomi semata.

Namun demikian, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerjemahkan aspirasi digital ini menjadi aksi nyata di lapangan. Jika pemerintah tetap melonggarkan aturan lingkungan, maka risiko bencana ekologis akan terus mengancam masa depan generasi mendatang. Kerja sama antara pengambil kebijakan dan masyarakat muda menjadi kunci utama untuk menjaga sisa hutan Indonesia.

Pada akhirnya, bumi yang sehat adalah warisan paling berharga yang bisa kita berikan kepada anak cucu kita. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending