MAHAKAMA – Gemuruh hujan yang menghantam atap seng menjadi alarm kecemasan bagi warga Kota Tepian sejak fajar. Ribuan keluarga berjibaku menyelamatkan harta benda saat air mulai masuk ke ruang tamu.
Hujan deras mengguyur Samarinda sejak Jumat, 13 Februari 2026, dan memuncak pada Sabtu sore. Dilansir Ekspos Kaltim (23/2/2026), BMKG memperingatkan potensi hujan lebat disertai petir masih berlanjut hingga tiga hari ke depan.
Data BMKG menunjukkan curah hujan di Kalimantan Timur berada pada kategori menengah hingga tinggi, berkisar 50–300 milimeter. Artinya, risiko banjir luapan sungai dan longsor masih membayangi.
Dominasi Bencana Banjir pada Awal Tahun 2026

Peristiwa di Samarinda bukan kasus tunggal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 205 kejadian bencana di Indonesia hingga akhir Januari 2026.
Dari jumlah tersebut, banjir mendominasi dengan 127 kejadian. Cuaca ekstrem menyusul 46 kejadian, disertai 15 longsor dan 14 kebakaran hutan dan lahan. BNPB juga mencatat dua gelombang pasang dan satu gempa bumi.
Dominasi banjir ini menegaskan persoalan pengelolaan air masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, termasuk Samarinda.
Dari Cuaca Ekstrem ke Problem Tata Ruang
BMKG kembali mengingatkan hujan lebat masih berpotensi terjadi di Kalimantan Timur, terutama di Berau dan Mahakam Ulu. Peringatan ini menandakan ancaman banjir susulan belum berakhir.
Namun cuaca ekstrem bukan satu-satunya faktor. Di sejumlah titik Samarinda, kapasitas sungai menyempit dan proyek pengendalian belum rampung. Saat debit meningkat, aliran tidak mampu menampung limpasan sehingga genangan cepat terbentuk di kawasan padat.
Studi Erwin K. Zevenbergen dkk. dalam Urban Flood Management: Lessons from Dutch Experiences (2011) menegaskan banjir berulang muncul ketika pertumbuhan kota tidak diimbangi peningkatan kapasitas drainase, ruang retensi dan pengendalian sungai. Kondisi Samarinda mencerminkan pola tersebut.
Tekanan Hulu dan Risiko Berulang

Masalah tidak berhenti di hilir. Data Kementerian Kehutanan Republik Indonesia mencatat kehilangan hutan nasional mencapai 175,4 ribu hektare sepanjang 2024. Kalimantan Timur termasuk tiga provinsi dengan deforestasi tertinggi, yakni 19,2 ribu hektare.
Berkurangnya tutupan hutan melemahkan daya serap tanah dan mempercepat limpasan ke kota. Kajian Thomas Wahl dkk. dalam Understanding Extreme Sea Levels for Broad-Scale Coastal Impact and Adaptation Analysis (2017) menunjukkan perubahan tata guna lahan meningkatkan volume dan kecepatan aliran air.
Meski penelitian ini berfokus pada pesisir, prinsip hidrologinya relevan. Ketika penyangga alami hilang, beban berpindah ke infrastruktur.
Karena itu, banjir Samarinda merupakan pertemuan dua tekanan sekaligus: tata kelola kota yang belum optimal dan daya dukung hulu yang menurun. Normalisasi sungai tanpa reboisasi hanya memindahkan risiko. Reboisasi tanpa pembenahan tata ruang juga tidak cukup. Integrasi keduanya menjadi kunci agar krisis musiman tidak terus berulang. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin