By admin
15.12.25

Gawai Terus, Jiwa Tergerus: Mayoritas Anak Muda Alami Kelelahan Digital

Media sosial (Instagram, TikTok, YouTube) kini jadi sumber berita politik utama bagi anak muda. Namun, waspadai dampak negatif seperti kecanduan, stres, dan kelelahan digital./Ilustrasi

MAHAKAMA – Media sosial telah menjelma menjadi kompas dan peta utama generasi muda. Bukan hanya soal hiburan, pada tahun 2025 platform digital ini telah menjadi ekosistem yang secara fundamental memengaruhi segala aspek, termasuk menjadi jendela utama mereka melihat politik dan tanggung jawab kewarganegaraan.

Faktanya, media sosial kini menjadi sumber berita utama bagi anak muda. Riset Yayasan Partisipasi Muda terhadap 505 anak muda menemukan tiga media sosial sebagai sumber utama informasi politik. Platform yang paling populer adalah Instagram (65 persen), diikuti TikTok (58 persen), dan YouTube (52 persen).

Namun demikian, media sosial juga memiliki dampak negatif, terutama terhadap kesehatan mental dan sosial. Survei Diginex yang bekerja sama dengan Inventure dan Ivosights melibatkan total 625 responden yang mayoritas berdomisili di Jabodetabek. Sebanyak 69 persen responden merupakan Gen Z, 26 persen Milenial dan 3 persen Gen X dari beragam profesi dan latar belakang. Hasil ini memberi gambaran komprehensif lintas generasi mengenai tren digital di Indonesia pada 2026.

Data Kecanduan dan Dampak Negatif Media Sosial

Survei Diginex menemukan bahwa 18,43 persen responden merasa media sosial membuat mereka kecanduan dan sulit berhenti. Di samping itu, 15,05 persen responden merasa sulit tidur akibat kecanduan media sosial.

Selanjutnya, 13,86 persen responden mengatakan bahwa suasana hati mereka sering berubah karena penggunaan media sosial. Mirisnya, 10,23 persen responden justru merasa hubungan mereka dengan teman dan keluarga menjadi menjauh akibat media sosial. Platform yang seharusnya saling menghubungkan yang jauh ini malah menjauhkan yang dekat.

Berikutnya, 9,38 persen responden merasa media sosial membuat mereka sulit fokus, mudah terdistraksi, dan rentang perhatian mereka berkurang. Ada 9,21 persen responden merasa stres akibat paparan informasi berlebihan, dan 8,11 persen merasa cemas. Sebanyak 6 persen merasa minder, dan 5,33 persen merasa kehilangan jati diri atau tujuan hidup.

Terakhir, 3,8 persen responden merasa media sosial membuat mereka kesepian dan malah tidak mempunyai teman di dunia nyata.

Lebih lanjut, 82,9 persen responden mengaku hidup dengan digital fatigue. Kondisi ini merupakan kelelahan digital akibat aktivitas online yang padat, repetitif, dan menguras energi. Digital kini tidak hanya mempermudah hidup, namun turut menuntut kapasitas mental yang besar dari penggunanya.

Konsekuensi Digital: Kesehatan Mental Tergerus dan Hubungan Sosial Merenggang

Data survei Diginex menemukan korelasi kuat antara penggunaan media sosial dengan masalah kesehatan mental. Dampak negatif tertinggi adalah kecanduan yang memicu gangguan tidur. Ini mengindikasikan bahwa masalah digital telah merambah kebutuhan fisiologis dasar, melampaui sekadar isu hiburan.

Konsekuensi logis dari pola tidur yang terganggu dan paparan informasi berlebihan adalah timbulnya perubahan suasana hati, stres dan kecemasan. Ironisnya, dampak terburuk yang disoroti adalah menjauhnya hubungan dengan teman dan keluarga. Alat yang dirancang untuk koneksi justru menciptakan isolasi di lingkungan nyata.

Kesimpulan utamanya adalah tingginya angka kelelahan digital (digital fatigue). Temuan ini menegaskan bahwa bagi mayoritas pengguna, media sosial digital kini telah menjadi pedang bermata dua bagi generasi muda di Indonesia: mereka merasa terbebani, bukan terbantu, oleh tuntutan dunia digital yang terus-menerus.

Media sosial digital kini telah menjadi pedang bermata dua bagi generasi muda di Indonesia. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending