By admin
09.01.26

Fenomena “Scrolling” Tanpa Jeda: Saat Kebersamaan Keluarga Terkikis oleh Durasi Media Sosial Gen Z

Ilustrasi Gen Z sedang membuka media sosial/Canva

MAHAKAMA — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas digital, media sosial kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah bergeser menjadi gaya hidup dan pembentuk identitas diri yang dominan.

Bagi generasi muda, aktivitas scrolling sering kali menjadi pilihan utama untuk mengisi waktu luang, yang tanpa disadari menghabiskan durasi hingga berjam-jam dan berpotensi memutus kedekatan emosional dengan keluarga di dunia nyata.

Dominasi Digital dalam Angka

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tren penggunaan internet telah menjangkau 80,66 persen atau setara dengan 229,4 juta orang Indonesia yang menjadi pengguna internet. Namun, sorotan tajam tertuju pada durasi harian yang dihabiskan generasi muda di depan layar.

Survei Diginix tahun 2025 menunjukkan angka yang cukup mencengangkan. Sebanyak 51% responden Milenial tercatat menghabiskan waktu 4 hingga 6 jam setiap harinya hanya untuk mengakses media sosial.

Tren serupa diikuti oleh 31% dari kelompok Gen Z yang juga menghabiskan durasi yang sama pada platform populer seperti TikTok, Instagram, Twitter, dan YouTube.

Jika ditarik ke durasi yang sedikit lebih rendah, sebanyak 28% Milenial dan 24% Gen Z masih mengalokasikan waktu sekitar 3 hingga 4 jam per hari untuk berselancar di dunia maya.

Sementara itu, kelompok yang mengakses media sosial selama 2 hingga 3 jam mencakup 12% Milenial dan 17% Gen Z. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas anak muda menghabiskan waktu yang setara dengan separuh jam kerja formal hanya untuk memantau linimasa.

Sebaliknya, kelompok yang “bijak” dalam membatasi waktu layar kurang dari satu jam per hari sangatlah minim, yakni hanya sebesar 1% di kalangan Milenial dan 5% di kalangan Gen Z.

Pelarian Emosi dan Ancaman Kehilangan Momen Keluarga

Tingginya durasi penggunaan ini sering kali dipicu oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal informasi tren terbaru. Media sosial kerap dijadikan pelarian dari emosi negatif seperti lelah, sedih, atau cemas.

Namun, di balik hiburan tersebut, terdapat risiko besar yang mengintai. Penggunaan media sosial yang melampaui ambang batas normal—terutama lebih dari 4 jam—berdampak langsung pada kesehatan mental, mulai dari meningkatnya stres hingga menurunnya kualitas tidur.

Dampak yang paling nyata namun sering terabaikan adalah “punahnya” momen bersama keluarga. Saat anggota keluarga berkumpul dalam satu ruangan, masing-masing individu justru sibuk dengan dunianya sendiri di balik layar ponsel.

Kebiasaan membandingkan diri dengan standar hidup orang lain di media sosial juga memicu perilaku overthinking yang memperburuk komunikasi antaranggota keluarga.

Menuju Kebiasaan Digital yang Sehat

Penerapan digital detox atau mengurangi penggunaan perangkat digital secara berkala menjadi langkah krusial yang harus diambil.

Mengatur waktu penggunaan, membatasi scrolling di malam hari, dan kembali fokus pada interaksi fisik di dunia nyata adalah kunci untuk menjaga keseimbangan mental.

Media sosial seharusnya berfungsi sebagai ruang untuk berkembang dan berbagi, bukan justru menjadi sumber kecemasan yang merenggut kehangatan di meja makan keluarga.

Bijak dalam memegang kendali atas perangkat digital berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk tetap tenang, sadar, dan hadir sepenuhnya bagi orang-orang terdekat. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending