MAHAKAMA – Cahaya lampu ring dan kamera ponsel kini menjadi senjata utama bagi ribuan anak muda untuk menaklukkan dunia. Dari balik kamar yang sederhana, kreativitas mereka bertransformasi menjadi industri raksasa yang menggerakkan roda ekonomi global.
Dilansir dari BBC Indonesia (14/10/2023), industri pemengaruh atau influencer kini telah bergeser menjadi profesi yang sangat serius. Vickie Segar selaku pendiri agensi pemengaruh menyatakan bahwa kreator konten sekarang memegang kendali penuh atas pemasaran sebuah merek.
Konsumen, terutama generasi muda, cenderung lebih mempercayai ulasan otentik dari influencer daripada iklan media massa konvensional. Oleh karena itu, perusahaan kini berani mengalokasikan anggaran besar untuk bermitra dengan para kreator digital tersebut.
Posisi Indonesia dalam Peta Influencer Global

Peningkatan kepercayaan konsumen terhadap ulasan otentik mendorong perusahaan untuk mengalihkan anggaran iklan mereka ke tangan para kreator digital. Tren ini memicu pertumbuhan pesat jumlah perusahaan penyedia jasa influencer yang kini menjadi pilar utama ekonomi kreatif. Di Indonesia, transformasi ini terlihat sangat nyata melalui perkembangan infrastruktur digital yang semakin masif dan profesional.
Data dari Influencer Marketing Hubs (2024) menunjukkan jumlah perusahaan penyedia jasa influencer meningkat pesat dari 1,12 ribu unit pada 2019 menjadi 6,93 ribu unit pada 2024.
Indonesia bahkan menduduki peringkat kelima negara dengan jumlah influencer terbanyak di dunia pada 2024. Estimasi jumlah influencer di tanah air mencapai 863 ribu orang atau setara 3,6 persen dari total populasi pemengaruh global.
Sebagai perbandingan, Brasil menempati posisi pertama dengan 3,83 juta influencer, disusul Amerika Serikat dengan 3,78 juta orang. India berada pada urutan ketiga dengan 1,99 juta dan Iran pada posisi keempat dengan 1,21 juta influencer.
Meskipun berada di posisi kelima, intensitas konten di Indonesia sangat tinggi dengan total 3,1 juta unggahan sepanjang 2024. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan volume konten influencer tertinggi keempat di tingkat dunia.
Proyeksi Pertumbuhan dan Peran Strategis Industri
Industri pemasaran influencer diproyeksi akan terus meningkat dengan nilai mencapai Rp539 miliar pada 2025. Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 35,62 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang sebesar Rp404 miliar. Di Indonesia, pertumbuhan pesat ini didorong oleh populasi anak muda yang besar serta penetrasi internet yang semakin meluas. Merek-merek besar kini menganggap influencer sebagai jalur pemasaran paling ampuh untuk membangun reputasi jangka panjang.
Selain itu, platform seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube semakin kuat dalam membangun basis audiens yang loyal. Pengaruh media sosial ini memungkinkan para kreator untuk memonetisasi setiap karya kreatif mereka secara langsung. Transformasi digital tersebut menciptakan peluang kerja baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh generasi terdahulu.
Transformasi Kreator Menjadi Pengusaha Mandiri
Dilansir dari BBC Indonesia, banyak influencer kini mulai mengurangi diri dari ketergantungan pada kerja sama dengan brand. Mereka memilih untuk membangun dan mengelola bisnis mereka sendiri melalui basis massa yang sudah mereka miliki. Fenomena tersebut menghapus batasan antara sosok populer di media sosial dengan kekuatan bisnis yang berdiri di belakang mereka secara mandiri.
Contohnya, beberapa kreator sukses meluncurkan merek pakaian ramah lingkungan hingga produk kecantikan yang menghasilkan miliaran Rupiah. Mereka menciptakan aliran pendapatan yang beragam melalui produk fisik, kursus digital, hingga investasi di berbagai perusahaan.
Fenomena ini membuktikan bahwa kreativitas yang dikelola secara profesional dapat menciptakan masa depan keuangan yang stabil. Memperlakukan konten sebagai bisnis sungguhan memberikan ruang aman bagi para pemuda untuk tetap berdaulat atas karya mereka. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin