MAHAKAMA – Di tengah kesibukan hidup modern, percakapan kita kini tidak hanya terjadi antarmanusia. Layar ponsel menjadi gerbang menuju teman bicara baru. Kecerdasan Buatan (AI) kini hadir sebagai pendengar paling sabar dan bebas judgement yang menemani keseharian.
Fenomena meningkatnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) sebagai tempat bercerita dan mencari validasi emosi banyak digandrungi anak muda saat ini. AI dianggap mampu memberikan rasa aman bagi seseorang yang curhat atau mencurahkan keluh kesahnya.
Sayangnya, fenomena ini memiliki risiko berbahaya di baliknya. AI tidak memiliki empati dan perasaan sehingga tidak ada yang bisa bertanggung jawab atas risiko yang ditimbulkan.
Populix merilis laporan bertajuk AI in Everyday Life (AI dalam kehidupan sehari-hari) pada Selasa (11/11/2025). Laporan ini menjadi titik masuk ke topik inti mengenai bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan AI. Pengguna tidak hanya memakai AI untuk masalah pekerjaan, tetapi juga untuk menuangkan isi hati atau curhat masalah pribadi.
Laporan ini disusun Populix berdasarkan survei yang melibatkan 1.100 responden berusia 17–44 tahun dari seluruh Indonesia. Survei dilaksanakan pada 10–12 Juni 2025.
AI Jadi Konselor Pribadi Paling Populer

Dalam temuan Populix, sebanyak 41 persen responden menggunakan AI untuk membicarakan kesehatan mental dan stres. Angka ini menjadi yang tertinggi. Kemudian, 40 persen responden menceritakan kehidupan serta pengalaman pribadi mereka kepada AI. Data ini menunjukkan bahwa banyak pengguna menjadikan AI sebagai tempat untuk menumpahkan kisah yang dekat dengan diri mereka.
Pada ranah produktivitas, 34 persen responden memanfaatkan AI untuk membahas masalah pekerjaan maupun sekolah. Pembahasan ini mulai dari tekanan tugas hingga dinamika di lingkungan kerja atau pendidikan.
Selanjutnya, 26 persen responden memilih AI untuk membicarakan persoalan keuangan. Topik ini mencakup kekhawatiran finansial atau kebutuhan untuk memahami situasi ekonomi pribadi.
Masalah hubungan juga turut hadir dalam percakapan dengan AI. Sebanyak 17 persen responden curhat soal percintaan kepada AI. Kemudian, 13 persen responden membagikan persoalan keluarga. Hal ini menjadikan AI medium untuk mengekspresikan berbagai dinamika kehidupan sehari-hari.
Batasan Tipis Antara Curhat dan Ketergantungan
Dilansir halaman UGM.ac.id (4/12/2025) Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, S.T., M.T., IPM., menjelaskan bahwa dari sisi bisnis, AI merupakan produk teknologi yang sangat strategis. Produk ini diharapkan bisa menyentuh level personal sehingga dekat dengan keseharian manusia. Ridi melihat fenomena ini sebagai posisi yang menguntungkan bagi pengembang produk.
Dari sisi teknis, Ridi menekankan bahwa target utama transformasi digital adalah membuat manusia terbiasa dengan aspek digital. Menurutnya, menjadikan AI sebagai teman lawan bicara atau tempat curhat bukanlah hal yang salah. Namun, dari aspek sosial, chatbot AI hanyalah mesin yang memberikan respons konsisten. Chatbot membantu interaksi dalam kondisi ideal.
Ridi menegaskan, AI tidak memiliki rasa kepedulian sejati. AI hanya mekanisme menebak kata selanjutnya. AI bekerja berdasarkan prinsip mesin pembelajaran. Artinya, kualitas jawaban AI sangat bergantung pada data yang dimasukkan atau diproses sebelumnya. Jika data awalnya buruk, hasilnya juga buruk (garbage in, garbage out).
Risiko dan Batasan: Menggunakan AI Secukupnya
Perkembangan saat ini menuju teknologi yang memungkinkan AI memiliki peran yang lebih aktif. Sistem ini tidak hanya merespons, tetapi juga mengambil tindakan tertentu.
Meskipun AI memberikan banyak manfaat, pengguna harus menyadari pentingnya aturan dan kebijakan dalam penggunaannya. Teknologi ini bisa disamakan seperti obat. Jika digunakan berlebihan, AI bisa menimbulkan efek samping atau ‘keracunan’.
Oleh karena itu, AI harus dirancang aman sejak awal. Prinsip AI yang Bertanggung Jawab dan Transparan penting untuk memastikan teknologi ini tidak menimbulkan dampak negatif. Risiko ini termasuk salah fakta (halusinasi) dan pengaruh yang tidak disadari pengguna.
Disarankan agar pengguna membatasi diri saat menggunakan AI sebagai ruang curhat. Pengguna tidak boleh bergantung sepenuhnya dan kehilangan kendali atas diri sendiri, sama seperti membatasi screen time pada ponsel pintar.
Kecerdasan buatan memang menawarkan kemudahan dan konsistensi, namun ia tak pernah bisa menggantikan kehangatan manusia. Kita harus bijak membagi ruang antara teknologi dan diri sendiri. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin