By admin
19.03.26

Cina Mulai ‘Mudik Terbalik’, Pemuda Indonesia Tetap ‘Keukeuh’ dengan Tradisi Pulang Kampung

Tren mudik terbaik atau orang tua datang ke Kota pada saat perayaan Imlek terjadi di China. Fenomena itu berbanding terbalik dengan di Indonesia./Ilustrasi

MAHAKAMA – Klakson kendaraan bersahutan di gerbang tol, tas belanja memenuhi bagasi mobil yang hendak melaju jauh. Namun di sudut lain, seorang anak muda justru menanti orang tuanya turun dari pesawat di bandara pusat kota.

Kontras itu menggambarkan fenomena mudik terbalik atau fanxiang guonian yang kian marak di Cina. Dilansir Tempo (13/2/2025), generasi muda yang merantau di kota besar kini memilih mengundang orang tua untuk merayakan Imlek di perantauan.

Perubahan pola tersebut tercermin pada data perjalanan. Meituan Travel mencatat penjualan tiket pesawat untuk skema ini melonjak 84 persen pada 2026, didorong warga berusia di atas 60 tahun yang memadati rute menuju Beijing dan Shanghai selama libur nasional.

Perbandingan Arus Mudik Generasi Muda di Indonesia

Kondisi tersebut kontras dengan situasi di Indonesia menjelang Idul Fitri 2026. Laporan YouGov bertajuk Indonesia’s 2026 Ramadan Mudik Outlook: Top Travel Periods, Transport Modes, and Booking Methods menunjukkan mayoritas pemuda tetap memilih pulang ke desa. Survei terhadap 2.012 responden dewasa pada November 2025 menjadi dasar temuan ini.

Data itu memperlihatkan minat mudik warga berusia di bawah 35 tahun naik menjadi 61 persen pada 2026, setelah sempat turun ke 59 persen pada 2025. Kenaikan ini menegaskan generasi produktif masih menjadi kelompok paling aktif melakukan perjalanan saat hari raya.

Berbeda dari tren di Cina, pemuda perantau di Indonesia tetap menjadikan kampung halaman sebagai pusat emosional dan perayaan keluarga. Generasi produktif pun menjadi kelompok paling aktif melakukan perjalanan jarak jauh saat hari raya.

Alasan Utama di Balik Kepulangan Pemudik Indonesia

Motivasi di balik pergerakan jutaan orang ini terlihat sangat jelas melalui pola aktivitas selama berada di kampung. Sebanyak 79 persen responden menyebut agenda utama mereka adalah berkumpul serta mengunjungi keluarga dan kerabat dekat. 

Di samping itu, sekitar 63 persen pemudik berencana melakukan ziarah ke makam leluhur atau orang tua yang telah tiada. Aktivitas spiritual dan sosial ini menjadi pengikat kuat yang membuat arus mudik di Indonesia tetap bersifat konvensional.

Dari sisi tradisi, mudik di Indonesia sangat berpusat pada nilai keluarga dan akar kultural yang mendalam. Aktivitas seperti berkumpul dengan sanak saudara serta melakukan ziarah ke makam leluhur merupakan agenda yang sulit dipindahkan ke lingkungan perkotaan. 

Hal tersebut membuat kampung halaman tetap berfungsi sebagai pusat emosional utama bagi para perantau. 

Oleh karena itu, kota hanya menjadi tempat mencari nafkah, sementara identitas diri tetap melekat kuat pada tanah kelahiran di desa.

Sebaliknya, perayaan di Cina tampak lebih fleksibel secara lokasi karena kota-kota besar di sana telah difasilitasi sebagai ruang budaya yang terintegrasi. Hal ini memungkinkan orang tua untuk berpindah ke kota tanpa kehilangan esensi perayaan tradisi. 

Budaya dan Fasilitas Publik Kota

Penjelasan kuatnya orientasi mudik di Indonesia dapat dibaca melalui pemikiran Abidin Kusno dalam bukunya The Appearances of Memory: Mnemonic Practices of Architecture and Urban Form in Indonesia (Duke University Press, 2010).

Dari buku tersebut dijelaskan rumah keluarga dan kampung halaman sebagai ruang memori kolektif. Ruang itu membentuk identitas sosial dan rasa memiliki. Bagi perantau, kampung bukan sekadar lokasi geografis.

Kampung menjadi simbol sejarah dan keberlanjutan keluarga. Karena itu, keterikatan emosional tetap kuat meski tinggal di kota. Ikatan ini terus direproduksi melalui praktik mudik saat Idul Fitri.

Kerangka ini menjelaskan pola migrasi yang bersifat sirkuler. Kota diposisikan sebagai ruang ekonomi. Desa tetap menjadi pusat emosional dan kultural.

Situasi ini berbeda dengan Cina. Tren mudik terbalik menunjukkan kota juga menjadi pusat tradisi. Infrastruktur dan fasilitas untuk orang tua mendukung perayaan keluarga di kota. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending