By admin
14.03.26

Cegah Fenomena Brain Rot, SKB 7 Menteri Larang Siswa Gunakan AI

Pemerintah melarang penggunaan AI bagi siswa SD-SMA melalui SKB 7 Menteri untuk mencegah penurunan daya kritis dan fenomena brain rot ditengah tingginya penggunaan AI di Indonesia./Ilustrasi

MAHAKAMA – Ruang kelas yang biasanya dipenuhi coretan ide di papan tulis kini perlahan berubah. Jemari siswa lebih sibuk menyalin jawaban otomatis dari layar ponsel yang menyala di bawah meja, menggantikan proses berpikir kreatif dalam pembelajaran.

Melihat fenomena tersebut, pemerintah menerbitkan pedoman nasional pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial melalui Surat Keputusan Bersama tujuh menteri. Aturan ini melarang siswa tingkat SD hingga SMA menggunakan teknologi AI untuk keperluan pendidikan.

Melansir laporan Detik.com (13/3/2026), kebijakan tersebut bertujuan mencegah fenomena penurunan kemampuan berpikir atau brain rot akibat ketergantungan teknologi. Pemerintah juga ingin menghindari penurunan kapasitas kognitif karena proses berpikir terlalu sering digantikan oleh mesin.

Menteri Koordinator Bidang PMK menegaskan, teknologi AI tetap dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran jika dirancang khusus untuk pendidikan. Namun, penggunaan platform publik untuk mengerjakan tugas sekolah secara instan perlu dihentikan demi menjaga kualitas intelektual siswa.

Tingginya Ketergantungan Masyarakat Indonesia terhadap Teknologi AI

Kebijakan tersebut juga tidak lepas dari tingginya penggunaan teknologi kecerdasan buatan di masyarakat. Berdasarkan data Semrush 2025, Indonesia masuk lima besar negara dengan pengguna ChatGPT terbanyak di dunia.

Sepanjang semester pertama tahun lalu, sekitar 17,5 juta pengunjung unik asal Indonesia tercatat mengakses situs tersebut untuk berbagai kebutuhan. Jumlah ini menempatkan Indonesia di bawah Amerika Serikat yang mendominasi dengan 105,5 juta pengunjung serta India dengan 54,6 juta pengunjung.

Besarnya penggunaan ini juga tercermin dari pola interaksi pengguna. National Bureau of Economic Research 2025 meneliti 1,1 juta sampel percakapan pengguna dengan ChatGPT. Hasilnya menunjukkan bahwa permintaan untuk menulis konten menempati posisi ketiga terbanyak, yakni 23,9 persen percakapan. Permintaan ini mencakup pembuatan berbagai teks, termasuk pengerjaan tugas sekolah dan pekerjaan kantor.

Temuan tersebut memicu kekhawatiran karena batas antara karya manusia dan hasil buatan mesin semakin tipis dan sulit dibedakan. Sebagai pembanding, 28,8 persen pengguna tercatat meminta panduan praktis, sementara 24,4 persen lainnya mencari informasi spesifik melalui bantuan asisten digital.

Dampak Ketergantungan AI terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

Risiko penurunan kemampuan berpikir juga tercermin dalam berbagai penelitian. Studi berjudul Learners’ AI Dependence and Critical Thinking terhadap 580 mahasiswa menunjukkan bahwa semakin tinggi ketergantungan pada AI, semakin rendah tingkat berpikir kritis seseorang. Intensitas penggunaan asisten digital yang tinggi membuat ketajaman analisis pengguna cenderung menurun.

Asisten digital memang dapat mempercepat proses memperoleh jawaban. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi membuat cara berpikir menjadi lebih dangkal dan minim verifikasi. Pengguna juga dapat mengalami kelelahan kognitif karena tidak benar-benar memahami materi yang dipelajari secara mandiri.

Kondisi ini menjadi perhatian serius jika terjadi pada anak-anak. Jika mahasiswa saja dapat terdampak pada pola berpikirnya, risiko terhadap perkembangan fungsi otak siswa tentu berpotensi lebih besar, terutama ketika literasi penggunaan teknologi masih rendah.

Karena itu, pemerintah juga menyiapkan langkah pendukung, termasuk pelatihan bagi guru untuk mengajarkan penggunaan teknologi secara aman. Materi pembelajaran turut disiapkan agar teknologi tetap menjadi penunjang proses belajar tanpa mengurangi kemampuan analisis siswa. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending