MAHAKAMA – Di sudut-sudut kota Samarinda dan Balikpapan, anak-anak berlari riang di taman bermain yang modern. Namun, di balik tawa mereka, tersimpan data yang menceritakan dinamika kesejahteraan anak di Bumi Etam secara mendalam.
Badan Pusat Statistik melalui laporan Profil Anak Usia Dini 2025 merilis data terbaru mengenai kondisi kehidupan anak-anak kita. Garis Kemiskinan menjadi alat ukur utama dalam laporan ini. Indikator tersebut mewakili jumlah rupiah minimum untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan setara 2.100 kilokalori dan kebutuhan non-makanan seperti perumahan dan kesehatan.
Faktanya, pemenuhan standar ini menjadi penentu apakah seorang anak masuk kategori sejahtera atau miskin. Muncul hipotesis bahwa ketidakmampuan memenuhi garis kemiskinan ini berpengaruh langsung pada tingkat ketelantaran anak usia dini.
Kalimantan Timur Masuk Jajaran Terendah Angka Kemiskinan Nasional

Berdasarkan data terbaru, Kalimantan Timur menempati posisi yang cukup membanggakan. Provinsi ini berada di peringkat keempat terendah secara nasional dalam hal persentase anak usia dini yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Secara keseluruhan, hanya ada 7,77 persen anak usia dini di Kalimantan Timur yang hidup di bawah garis kemiskinan. Artinya dari 100 anak usia dini di Kalimantan Timur, sekitar 8 anak hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata nasional Indonesia yang mencapai 11,67 persen.
Kesenjangan Nyata Antara Perkotaan dan Perdesaan

Jika dibedah lebih dalam, angka kemiskinan anak di perkotaan Kalimantan Timur hanya 6,65 persen, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 9,61 persen. Namun, di wilayah perdesaan, persentase anak miskin mencapai 10,26 persen. Angka perdesaan ini lebih tinggi dari perkotaan, sehingga menunjukkan kesenjangan fasilitas yang masih nyata antara kota dan desa.
Jika dibandingkan dengan wilayah lain, jurang perbedaannya sangat mencolok. Papua Pegunungan misalnya, mencatatkan angka kemiskinan anak tertinggi sebesar 30,26 persen. Artinya dari 100 anak,terdapat 30 anak yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Faktanya, kesenjangan angka kemiskinan antara kota dan desa ini membawa dampak serius bagi tumbuh kembang anak. Ketimpangan ini menciptakan perbedaan akses terhadap gizi berkualitas, fasilitas kesehatan, hingga sanitasi yang layak bagi anak-anak di pelosok.
Jika dibiarkan, anak-anak di perdesaan berisiko tertinggal dalam kesiapan sekolah dan kesehatan fisik dibandingkan anak di perkotaan. Akibatnya, untuk mencetak generasi unggul yang merata bisa terhambat oleh tembok perbedaan ekonomi wilayah ini.
Paradoks Ekonomi dan Tantangan Pengasuhan di Bumi Etam

Namun, kekayaan materi ternyata bukan jaminan bagi pengasuhan anak yang sempurna. Di Papua Pegunungan yang angka kemiskinannya tinggi, angka balita telantar juga sangat besar mencapai 28,94 persen. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kemiskinan sering kali memicu pengabaian kebutuhan anak akibat keterbatasan sumber daya.
Sebaliknya, anomali data terlihat jelas di Provinsi Maluku. Provinsi tersebut menempati peringkat ketujuh sebagai wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Namun secara mengejutkan, Maluku justru masuk dalam jajaran tiga besar provinsi dengan angka balita tidak telantar terbaik nasional. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi di Maluku tidak lantas membuat orang tua di sana mengabaikan pengasuhan anak mereka.
Fenomena menarik justru terjadi di Kalimantan Timur yang memiliki kondisi bertolak belakang dengan Maluku. Walaupun Kalimantan Timur sangat sukses menekan angka kemiskinan hingga ke posisi empat terendah nasional, tingkat ketelantaran balita di sini justru berada di urutan ke-11 nasional.
Persentase balita telantar di Kalimantan Timur mencapai 18,99 persen. Angka ini memberikan sinyal kuat bahwa meskipun orang tua di Bumi Etam memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan sekolah, anak-anak belum tentu mendapatkan perhatian yang cukup secara fisik maupun emosional. Ada dimensi lain dalam pengasuhan yang tampaknya terabaikan di tengah kelimpahan materi ini.
Membangun Kualitas Pengasuhan di Tengah Kelimpahan
Oleh karena itu, tantangan Kalimantan Timur saat ini bukan lagi sekadar memberi makan. Pemerintah dan masyarakat harus mulai fokus pada kualitas pengasuhan. Dari sini melihat bahwa kecukupan ekonomi tidak otomatis membuat anak terjaga dari rasa telantar. Faktanya, anak usia dini membutuhkan kehadiran orang tua yang utuh, bukan hanya sekadar pemenuhan materi di atas meja.
Investasi terbaik bagi masa depan daerah bukan hanya terletak pada pembangunan infrastruktur fisik. Menjaga anak-anak agar tumbuh dengan perhatian penuh adalah kunci utama pembangunan manusia.
Semoga setiap anak di Kalimantan Timur tidak hanya kenyang perutnya, tetapi juga hangat jiwanya karena mendapatkan kasih sayang yang cukup. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin