MAHAKAMA – Aroma kolak dan gorengan hangat mulai menyerbu trotoar saat matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Di sudut-sudut kota, dering notifikasi ponsel terus berbunyi, mengatur titik temu untuk agenda tahunan yang nyaris tak terelakkan.
Buka puasa bersama atau bukber telah bergeser dari sekadar tradisi menjadi kewajiban sosial musiman di Indonesia. Terutama pada minggu pertama Ramadan, agenda ini seolah menjadi momen wajib untuk berkumpul. Agenda ini mendorong pengeluaran berulang lintas kelas ekonomi, meskipun membutuhkan kesiapan dana yang tidak kecil.
Fenomena tersebut tercermin dalam laporan Jakpat 2023 berjudul Iftar Gathering, Shopping, and EID Fashion Style 2023 yang melibatkan 1,37 ribu responden muslim.
Dinamika Partisipasi dan Makna Pertemuan Bukber

Pada awal Ramadan, orang-orang memandang bukber sebagai agenda penting. Data menunjukkan rata-rata responden menghadiri sekitar 2 acara bukber dalam dua pekan pertama puasa. Namun, tingkat kepentingan ini berubah seiring pengalaman berpartisipasi.
Setelah menghadiri satu atau lebih acara, bukber semakin dipersepsikan sebagai sarana menjaga hubungan sosial. Makna pertemuan tidak lagi terletak pada makan bersama, melainkan pada kehadiran dan keterlibatan dalam jejaring relasi.
Pola ini tercermin dari jenis relasi yang terlibat dalam bukber. Data menunjukkan bukber bersama keluarga besar yang tidak tinggal serumah mendominasi dengan 46 persen.
Nilai ini disusul pertemuan dengan teman dekat sebesar 45 persen, serta teman sekolah atau kuliah 33 persen.
Luasnya lingkaran relasi ini menandakan bahwa bukber berkembang menjadi rangkaian janji sosial yang harus dipenuhi, bukan sekadar undangan opsional.
Lokasi Pilihan dan Besaran Pengeluaran Lintas Kelas
Tingginya frekuensi pertemuan dalam waktu singkat mendorong masyarakat memilih lokasi yang fleksibel dan terjangkau. Rumah pribadi menjadi pilihan utama 52 persen responden karena dinilai lebih hemat dan mudah diatur.
Meski demikian, restoran indoor tetap dipilih oleh 32 persen responden, sementara masjid dan restoran outdoor menjadi alternatif lain.
Variasi lokasi ini menunjukkan upaya masyarakat menyesuaikan format bukber agar tetap dapat bersilaturahmi di tengah keterbatasan biaya.
Penyesuaian biaya juga terlihat pada pola pengeluaran. Kelompok ekonomi bawah rata-rata mengeluarkan Rp 51 ribu per acara, kelas menengah Rp 62 ribu dan kelompok ekonomi atas hingga Rp 90 ribu.
Data ini menegaskan bahwa tidak ada kelas sosial yang sepenuhnya terlepas dari pengeluaran musiman selama Ramadan.
Penguatan Ikatan Sosial dan Tekanan Ekonomi
Tekanan ekonomi dari bukber tidak muncul dari satu acara, melainkan dari akumulasi pertemuan yang padat. Dengan menghadiri lebih dari satu acara dalam dua pekan pertama Ramadan, pengeluaran Rp 50–90 ribu per orang dapat berlipat ganda dalam sebulan.
Sebagai ilustrasi, pekerja dengan gaji setara UMP Rp3,7 juta yang menghadiri bukber rata-rata dua kali dalam sebulan dengan biaya sekitar Rp 90 ribu per acara harus menyisihkan setidaknya Rp 180 Rrbu.
Angka ini tampak kecil secara nominal, namun setara 4,86 persen dari penghasilan bulanan hanya untuk dua pertemuan.
Beban ini akan meningkat signifikan jika frekuensi bertambah, terutama di tengah kebutuhan lain Ramadan seperti zakat, sedekah dan persiapan Lebaran.
Bagi rumah tangga berpendapatan terbatas, pola ini berpotensi menggerus anggaran kebutuhan lain secara perlahan.
Tekanan tersebut jarang hadir dalam bentuk paksaan terbuka. Norma sosial Ramadan bekerja secara halus melalui ekspektasi kehadiran, rasa sungkan menolak ajakan, hingga kekhawatiran dianggap menjaga jarak.
Akibatnya, keputusan menghadiri bukber sering kali didorong oleh kebutuhan menjaga relasi, bukan semata pertimbangan ekonomi pribadi.
Praktik bukber pada akhirnya membentuk struktur sosial temporer yang mengatur interaksi dan solidaritas rumah tangga secara serentak. Hal ini sejalan dengan penelitian Kabir dan Rabby (2021) berjudul Factors Affecting Social Bonding at Ramadan in the Muslim Community: A Cross-sectional Study, yang menemukan bahwa Ramadan berfungsi sebagai penguat ikatan sosial bagi 65 persen responden. Namun, intensitas partisipasi tersebut juga berpotensi menjadi sumber tekanan finansial.
Faktor pendapatan memiliki hubungan signifikan dengan kekuatan ikatan sosial. Meski biaya meningkat, bukber tetap menjadi prioritas. Skala partisipasi mungkin disesuaikan dengan kondisi finansial.
Momen kebersamaan bukber tidak ternilai harganya. Tradisi ini menjadi sarana menjaga silaturahmi keluarga dan teman. Hubungan emosional yang erat jauh lebih penting daripada biaya. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin