By admin
15.12.25

Bukan TV, Instagram dan TikTok Kuasai Berita Politik Anak Muda

Anak muda kini beralih ke Instagram (65%) sebagai sumber berita politik utama, menggeser media konvensional. Simak hasil survei Partisipasi Muda selengkapnya./Ilustrasi

MAHAKAMA – Layar ponsel memancarkan cahaya biru, menampilkan jutaan feed informasi yang bergerak cepat. Perangkat kecil ini telah menjadi jendela utama generasi muda melihat dunia politik. Kebiasaan baru ini mengubah cara mereka mengonsumsi berita: dari TV dan koran, kini beralih ke Instagram dan TikTok. 

Namun, pergeseran ini juga membawa risiko besar: banjirnya disinformasi dan hoaks yang menuntut literasi digital yang tinggi. Seiring dengan tingkat penggunaannya yang semakin tinggi, kini media sosial banyak pengguna andalkan sebagai sumber informasi politik utama. Hal ini terutama berlaku bagi generasi muda, yang merupakan digital native. Lantas, dari media sosial mana saja anak muda mendapat informasi politik?

Instagram Mengungguli TikTok dan YouTube

Yayasan Partisipasi Muda melakukan riset kepada 505 anak muda berumur 18-25 tahun pada November 2024 hingga Maret 2025. Berdasarkan hasil survei, terdapat tiga media sosial yang paling populer sebagai sumber utama informasi politik bagi anak muda.

Instagram menempati urutan pertama sebagai sumber utama informasi politik bagi anak muda. Sebanyak 65 persen responden mendapatkan berbagai informasi politik yang aktual melalui konten-konten di Instagram. 

Mengetahui bahwa individu lebih banyak menghabiskan waktunya di media sosial, banyak media kini beralih menyampaikan berita daringnya dari situs berita ke media sosial. Hal ini bertujuan agar mereka dapat menjangkau lebih banyak audiens. Instagram sendiri telah menjadi rumah bagi banyak media pemerintah maupun media independen untuk memproduksi dan menyebarluaskan informasi politik.

Kemudian, TikTok berada pada posisi kedua dengan persentase 58 persen. Banyak Key Opinion Leader (KOL) di TikTok yang membagikan informasi politik yang sudah disimplifikasi. Konten yang mudah dicerna ini menjadikan TikTok sumber utama informasi bagi anak muda.

Terakhir, 52 persen responden juga menggunakan YouTube sebagai sumber utama informasi politik. Hal ini dikarenakan banyak media yang mengunggah ulang liputan berita di akun YouTube mereka. Dengan demikian, audiens dapat menontonnya kapan saja tanpa harus menonton siaran langsung.

Perbandingan Dua Era: Dari Koran ke Algoritma

Perbedaan antara generasi kini dengan generasi sebelumnya sangat kontras. Sebelum era smartphone dan media sosial, anak muda mendapatkan informasi politik hanya melalui koran, majalah, atau televisi. Sistem informasi ini memiliki keunggulan, yaitu minimnya misinformasi karena adanya quality check dan editorial yang ketat.

Namun demikian, informasi yang tersebar pada era media tradisional menjadi sangat terbatas. Elit politik dapat dengan mudah menutupi kebenaran dan hanya menampilkan informasi yang bagus-bagus saja kepada publik.

Media sosial membawa perubahan besar. Kehadiran platform digital menghadirkan demokrasi informasi yang lebih terbuka. Anak muda kini dapat mengakses pandangan politik yang beragam dan kritis. Mereka tidak lagi bergantung pada satu saluran berita saja.

Namun demikian, kebebasan ini membawa tantangan besar. Kecepatan penyebaran informasi di media sosial juga menjadi jalur cepat bagi disinformasi, kabar bohong, dan konten yang tidak melalui proses verifikasi.

Tantangan Anak Muda Menghadapi Banjir Informasi

Pergeseran sumber informasi ke media sosial memberikan keuntungan signifikan: meningkatnya partisipasi politik karena informasi terasa lebih dekat, serta terbukanya ruang diskusi dan kritik yang sebelumnya dibatasi media massa tradisional.

Namun, manfaat tersebut berbanding lurus dengan tantangan literasi digital yang masif. Kecepatan penyebaran konten di Instagram dan TikTok membuat informasi, disinformasi, dan hoaks bercampur tanpa filter. Anak muda kini wajib mampu menyaring informasi yang tervalidasi.

Oleh karena itu, riset ini menekankan bahwa fokus selanjutnya beralih dari platform mana yang digunakan menjadi bagaimana individu menggunakan platform tersebut. Pendidikan kritis media harus ditingkatkan agar media sosial berfungsi sebagai sarana efektif peningkatan kesadaran dan tanggung jawab kewarganegaraan, bukan hanya hiburan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending