MAHAKAMA — Fenomena kesepian kini bukan lagi sekadar bumbu drama kehidupan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia.
Hasil jajak pendapat terbaru dari Litbang Kompas tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 19,98 persen atau satu dari lima orang Indonesia mengaku merasa kesepian setidaknya satu kali dalam sepekan. Bahkan, sepertiga dari jumlah tersebut merasakan kesepian hampir setiap hari.
Angka ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis pada Juni 2025 bertajuk “From Loneliness to Social Connection”, yang mencatat prevalensi kesepian di Asia Tenggara mencapai 18,3 persen.
Berdasarkan hasil jajak pendapat, beban kerja dan studi (31 persen) menjadi pemicu utama.
Budaya “gila kerja” membuat waktu bersosialisasi menyusut, sehingga hubungan pertemanan sering kali hanya bersifat formalitas tanpa kedalaman emosional.

Disusul faktor lainnya seperti terlalu sering bermedia sosial hingga jarang interaksi langsung (19,3 persen), kehilangan orang terdekat akibat kematian, pindah tempat, atau putus hubungan (17,3 persen). Kurangnya teman dekat, kesulitan menjalin relasi, dan tekanan ekonomi juga memperkuat rasa kesepian.
Devi (24), seorang mahasiswa di Samarinda, mengungkapkan bahwa dunia digital justru menciptakan paradoks kesepian.
Menurutnya, media sosial tidak serta-merta mengurangi rasa sepi, justru membuat orang tidak fokus membangun hubungan mendalam
“Rasanya, kuantitas pertemanan di media sosial tidak otomatis sama dengan kualitas hubungannya,” ujarnya.
Kondisi paling mengkhawatirkan terlihat pada kelompok remaja (13-15 tahun). Data Global School-based Students Health Survey 2023 menunjukkan 19 persen remaja merasa sering atau selalu kesepian. Angka ini melonjak tajam 118,4 persen dibandingkan data tahun 2007.

Akademisi Psikologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Muslimin Nulipata, menilai perubahan struktur sosial di perkotaan menjadi penyebab hilangnya koneksi emosional.
“Dulu manusia menghabiskan waktu bersama tetangga dan keluarga. Kini, lebih dari 60 persen waktu habis untuk online,” kata Muslimin.
Kesepian kronis bukan sekadar masalah suasana hati. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu gangguan fisik seperti risiko tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung, dan diabetes, hingga gangguan mental yang meliputi penurunan produktivitas hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.

Banyak orang mencoba mengatasi stres dan kesepian dengan berlibur atau healing ke Bali dan Jogja.
Namun, data dari Psych Central menunjukkan 64% orang justru mengalami post-holiday blues.
Alih-alih tenang, mereka justru kembali stres, cemas, hingga mengalami insomnia saat harus menghadapi realita setelah liburan.
Muslimin Nulipata menyarankan tiga upaya untuk membangun kembali koneksi sosial, yaitu:
- Ubah mindset: Anggap interaksi sosial sebagai kebutuhan biologis primer yang setara dengan makan dan tidur.
- Kualitas di atas kuantitas: Di era digital, Anda tidak butuh ratusan teman. Cukup miliki 1 atau 2 orang tempat Anda bisa menjadi diri sendiri secara jujur.
- Temukan “Third Place“: Cari tempat ketiga di luar rumah dan kantor. Bergabunglah dengan komunitas hobi seperti komunitas buku, olahraga, atau seni untuk menciptakan koneksi yang sehat.
Pada akhirnya, kesepian adalah sinyal dari tubuh bahwa kita membutuhkan koneksi, layaknya rasa lapar sebagai sinyal butuh makan.
Meskipun teknologi mendekatkan yang jauh, ia tak bisa menggantikan kehadiran fisik dan empati nyata.
Di tengah riuhnya dunia digital, kembali menoleh ke orang-orang di samping kita dan membangun percakapan yang jujur mungkin adalah ‘obat’ paling sederhana namun mujarab untuk menjaga kesehatan mental dan fisik di tengah dunia yang semakin sibuk. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin