MAHAKAMA – Mimpi menjadi kaya mendadak berubah menjadi mimpi buruk saat saldo investasi lenyap dalam sekejap. Seorang investor muda baru saja melaporkan kerugian 3 miliar rupiah setelah tergiur janji keuntungan besar dari koin kripto.
Kasus yang menyeret nama influencer Timothy Ronald ini bermula dari rekomendasi pembelian token Manta Network pada awal tahun 2024. Korban percaya pada tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan hingga 500 persen di grup komunitas. Namun demikian, nilai aset tersebut justru anjlok hingga 90 persen dan membuat modal miliaran rupiah menguap begitu saja.
Peristiwa pilu ini menjadi peringatan keras di tengah tren investasi kripto yang sedang naik daun karena janji kenaikan nilai fantastis. Sejarah mencatat bahwa kemunculan aset digital ini berawal dari Bitcoin yang lahir pada tahun 2008 dengan harga awal tidak sampai USD1. Saat ini, Bitcoin kini telah tumbuh hampir 120 kali lipat dalam sembilan tahun terakhir dan melampaui pertumbuhan banyak aset lainnya.
Lonjakan nilai yang luar biasa ini mendorong masyarakat untuk membandingkan keuntungan kripto dengan instrumen konvensional seperti emas. Meskipun Bitcoin menawarkan pertumbuhan agresif, stabilitas emas tetap menjadi tolok ukur penting dalam menjaga nilai kekayaan jangka panjang.
Perbandingan Nilai Bitcoin dan Emas Dalam Satu Dekade

Data Macrotrends dan Statmuse menunjukkan perbedaan pertumbuhan yang sangat kontras antara kedua aset. Pada 2016, harga satu Bitcoin masih berada di kisaran Rp15,42 juta, sementara emas sekitar Rp592 ribu per gram. Setahun kemudian, Bitcoin melonjak tajam ke Rp226,50 juta, sedangkan emas hanya naik tipis menjadi Rp667 ribu.
Fluktuasi ekstrem Bitcoin terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Aset digital ini sempat terjun ke Rp59,88 juta pada 2018 sebelum akhirnya melonjak tajam hingga mencapai Rp1,86 miliar pada 2025.
Sebaliknya, harga emas menunjukkan pergerakan yang jauh lebih tenang namun konsisten. Emas perlahan naik dari Rp967 ribu pada 2020 dan mencapai Rp2,77 juta per gram pada Januari 2026.
Perbedaan pola tersebut menegaskan bahwa lonjakan kekayaan cepat yang ditawarkan Bitcoin datang bersama risiko besar. Pada 2018, misalnya, harga Bitcoin anjlok sekitar 73 persen hanya dalam satu tahun, dari Rp226,50 juta menjadi Rp59,88 juta, tanpa didorong perubahan fundamental yang jelas.
Di titik inilah perbedaan fungsi kedua aset menjadi krusial. Bitcoin unggul sebagai instrumen pertumbuhan kekayaan dengan potensi imbal hasil tinggi, tetapi menuntut kesiapan mental, finansial, dan pemahaman teknologi yang kuat. Volatilitas ekstrem, risiko kehilangan akses dompet digital, hingga ketidakpastian regulasi di berbagai negara menjadi “biaya risiko” yang harus dibayar investor.
Sebaliknya, emas tidak dirancang untuk mencetak lonjakan kekayaan instan. Nilainya bergerak lebih lambat, tetapi relatif tahan terhadap guncangan ekonomi. Karakter inilah yang membuat emas lebih relevan sebagai pelindung nilai dan penyimpan kekayaan, terutama bagi investor yang menghindari risiko kerugian besar secara mendadak.
Menimbang Risiko Agresif dan Perlindungan Nilai
Penelitian Anne Haubo Dyhrberg dalam jurnal Bitcoin, Gold and the Dollar – A GARCH Volatility Analysis (2016) menunjukkan bahwa Bitcoin memiliki sejumlah kemiripan karakteristik dengan emas dan mata uang dolar dalam merespons variabel pasar. Keduanya dapat berfungsi sebagai alat lindung nilai dalam kondisi tertentu.
Namun, sifat Bitcoin yang terdesentralisasi dan volatil membuatnya tidak pernah sepenuhnya berperilaku seperti aset lindung nilai konvensional. Potensi keuntungan besar selalu berjalan beriringan dengan risiko tinggi, baik dari sisi pasar, regulasi, maupun teknis.
Sementara itu, emas tetap mempertahankan reputasinya sebagai instrumen investasi yang stabil dan defensif. Meski imbal hasilnya terbatas dan terdapat biaya penyimpanan serta selisih harga jual-beli, emas menawarkan tingkat kepastian yang lebih tinggi dibanding aset digital yang fluktuatif.
Pada akhirnya, perbedaan Bitcoin dan emas bukan soal mana yang paling menguntungkan, melainkan fungsi dan tujuan investasinya. Bitcoin cocok bagi investor berprofil agresif yang siap menghadapi risiko tinggi, sedangkan emas lebih relevan bagi mereka yang ingin menjaga nilai kekayaan di tengah ketidakpastian.
Investasi bukan sekadar perlombaan mengejar angka tertinggi, melainkan cara bijak mengelola risiko demi masa depan yang lebih aman. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin