MAHAKAMA – Deretan mimpi besar kini mulai tertulis rapi di atas lembar formulir pendaftaran. Ribuan anak bangsa kembali beradu ketangkasan demi meraih tiket pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa negara.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) resmi membuka pintu pendaftaran bagi calon mahasiswa magister dan doktor. Program ini selalu menjadi primadona karena menawarkan pembiayaan pendidikan yang sangat lengkap bagi anak bangsa.
Oleh karena itu, tingkat persaingan setiap tahunnya terus meningkat secara signifikan seiring terbatasnya kuota dari pemerintah.Hal ini terjadi karena jumlah kursi yang tersedia sangat dipengaruhi oleh kebijakan pusat, ketersediaan anggaran pendidikan, hingga prioritas bidang studi.
Fokus Baru pada Industri Strategis

Pemerintah menerapkan skema seleksi baru yang berfokus pada kebutuhan industri nasional mulai tahun 2026. Berbeda dengan tahun sebelumnya, fokus utama saat ini menyasar bidang Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM). Langkah ini bertujuan untuk memastikan setiap lulusan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Di samping itu, pemerintah juga tetap membuka peluang bagi pelamar di bidang non-STEM. Syarat utamanya adalah bidang studi tersebut harus memiliki keterkaitan langsung dengan industri strategis seperti Kewirausahaan, Bisnis dan Ekonomi, serta Hukum dan kebijakan publik.
pelamar yang berminat pada bidang studi sosial humaniora murni tidak perlu berkecil hati. Pemerintah menyediakan dukungan khusus melalui program Social, Humanities, Arts, Religious, Economics (SHARE). Oleh karena itu, skema baru ini tetap inklusif namun memiliki prioritas yang lebih tajam untuk kemajuan industri tanah air.
Kuota Beasiswa Negara Berfluktuasi

Jumlah penerima beasiswa LPDP menunjukkan pola yang tidak stabil dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data lpdp.kemenkeu.go.id, pada 2021, jumlah penerima tercatat sekitar 4,2 ribu orang. Angka ini kemudian melonjak tajam pada 2023 hingga mencapai 9,3 ribu penerima.
Namun, tren tersebut tidak berlanjut. Pada 2025, jumlah penerima kembali turun ke kisaran 4,2 ribu orang. Fluktuasi ini menegaskan bahwa kuota beasiswa negara sangat bergantung pada arah kebijakan dan prioritas pembangunan pemerintah, bukan semata kebutuhan atau minat pendaftar.
Di tengah penurunan kuota pada 2025, struktur penerima beasiswa menunjukkan komposisi yang relatif konsisten. Program magister masih mendominasi dengan sekitar 2,7 ribu penerima. Sementara itu, program doktor mencatat sekitar 1 ribu penerima dan program spesialis hanya 518 orang.
Dari sisi lokasi studi, minat kuliah di dalam negeri sedikit lebih tinggi dibandingkan luar negeri. Sebanyak 2,3 ribu penerima memilih perguruan tinggi dalam negeri, sedangkan sekitar 2 ribu orang menempuh studi di luar negeri.
Komposisi ini menggambarkan bahwa basis penerima beasiswa masih terkonsentrasi pada pendidikan lanjutan tingkat menengah, dengan porsi riset lanjutan dan spesialisasi yang relatif terbatas. Kondisi inilah yang menjadi pijakan kebijakan baru pemerintah.
Kebijakan 2026: Beasiswa Didorong Lebih Strategis

Memasuki 2026, pemerintah kembali menaikkan kuota LPDP menjadi 5,8 ribu kursi. Rinciannya meliputi 1.000 kursi S1 Garuda, 4.000 kursi magister dan doktor, serta 750 kursi doktor spesialis.
Kenaikan kuota ini dibarengi perubahan orientasi kebijakan. Dilansir TVRI (15/1/2026), Presiden Prabowo Subianto untuk memprioritaskan alokasi beasiswa LPDP ke bidang sains, teknologi, teknik dan matematika hingga di atas 80 persen. Hal ini menandai perubahan orientasi kebijakan pendidikan tinggi.
Fokus tersebut ditujukan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, menjadi strategi memperkuat fondasi pembangunan nasional berbasis inovasi.
Dalam konteks ini, beasiswa negara tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat pemerataan akses pendidikan. Skema ini mulai diposisikan sebagai investasi ekonomi jangka panjang. Tujuannya untuk menyiapkan sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan industri strategis dan penguatan riset nasional.
Jadwal Penting Seleksi Tahap Satu
Masa pendaftaran beasiswa sudah mulai berlaku sejak 22 Januari hingga 23 Februari 2026. Setelah itu, panitia akan melaksanakan seleksi administrasi hingga pengumuman pada 13 Maret 2026. Tahapan berikutnya adalah seleksi bakat skolastik pada pertengahan April dan seleksi substansi pada bulan Mei.
Para peserta yang lolos akan menerima berbagai manfaat dana pendidikan dan dana pendukung lainnya. Dana tersebut mencakup uang kuliah, tunjangan buku, hingga biaya hidup bulanan yang cukup besar. Semua proses seleksi ini bertujuan agar perkuliahan sudah bisa mulai berjalan pada Juli 2026.
Strategi Lolos Beasiswa Negara

Pelamar perlu menyiapkan strategi matang untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat tahun ini. Pertama-tama, buatlah rencana studi yang memiliki keterkaitan kuat dengan delapan industri strategis nasional. Kedua, asah kemampuan logika untuk menghadapi seleksi bakat skolastik yang menjadi penyaring utama.
Melansir dari panduan resmi LPDP, penguasaan esai yang jujur dan solutif menjadi nilai tambah yang sangat besar. Pastikan setiap dokumen administrasi sudah sesuai dengan kriteria agar tidak gugur di tahap awal.
Persiapan yang matang merupakan kunci utama untuk menembus ketatnya persaingan beasiswa bergengsi. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin