MAHAKAMA – Deru jet tempur kembali membelah langit Teheran di tengah kesunyian malam yang mencekam. Kilatan cahaya dari ledakan instalasi militer menjadi pertanda buruk bagi stabilitas perdamaian di kawasan Timur Tengah saat ini.
Ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat kini memasuki babak baru yang sangat mengkhawatirkan. Eskalasi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian serangan udara yang telah berlangsung sejak pertengahan Juni tahun lalu.
Dilansir Kompas (1/3/2026), Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar ke sejumlah kota utama Iran pada akhir Februari. Sasaran utama serangan meliputi instalasi militer, fasilitas nuklir, hingga gedung pemerintahan di Teheran, Isfahan dan Tabriz.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal serta drone ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat. Kondisi semakin memanas setelah Presiden Donald Trump mengumumkan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu kemarin.
Media pemerintah Iran, IRINN, kemudian mengonfirmasi kabar duka tersebut di tengah situasi perang yang terus berkecamuk. Berbagai negara kini menyerukan penghentian eskalasi guna mencegah konflik berubah menjadi krisis internasional yang lebih luas.
Kesenjangan Anggaran Pertahanan dan Kekuatan Militer Global

Kesenjangan anggaran pertahanan menunjukkan konflik antara Amerika Serikat dan Iran berada dalam posisi tidak seimbang. Data Global Firepower 2026 mencatat anggaran militer Amerika Serikat mencapai sekitar Rp 12.890 triliun, jauh melampaui negara lain.
Di bawahnya, China mengalokasikan sekitar Rp 4.700 triliun dan Rusia Rp 3.300 triliun. Sementara itu, Ukraina mencatat sekitar Rp 700 triliun dan Israel Rp 536 triliun, menunjukkan jarak yang masih lebar dengan Amerika Serikat.
Pada kelompok berikutnya, Taiwan memiliki anggaran sekitar Rp 483 triliun dan Indonesia Rp 173 triliun. Anggaran Indonesia ini sedikit lebih tinggi dibanding Iran yang berada di kisaran Rp 143 triliun. Perbedaan anggaran ini karena fokus Indonesia pada stabilitas kawasan dan prioritas menjaga keamanan nasional.
Secara global, dominasi Amerika Serikat semakin terlihat dengan kontribusi hampir 40 persen dari total belanja militer dunia, yakni sekitar Rp 13.600 hingga Rp 15.000 triliun, bahkan melampaui gabungan 10 negara di bawahnya.
Kesenjangan yang lebar ini menegaskan keunggulan Amerika Serikat dalam konflik konvensional. Namun, perbedaan anggaran tidak selalu mencerminkan kekuatan riil di medan tempur.
Strategi Perang Asimetris dan Perbedaan Karakter Konflik
Perbedaan anggaran pertahanan antara Amerika Serikat dan Iran berbanding lurus dengan perbedaan cara keduanya berperang. Amerika Serikat cenderung mengandalkan kekuatan militer konvensional berteknologi tinggi. Misalnya, serangan udara presisi, kapal induk, hingga sistem persenjataan global yang memungkinkan operasi militer terbuka dalam skala besar. Pendekatan ini menekankan dominasi cepat dan kontrol wilayah dalam waktu relatif singkat.
Sebaliknya, Iran tidak berada pada posisi untuk menghadapi kekuatan tersebut secara langsung. Dalam studi Kanan Ahmadzada berjudul Iran’s Asymmetric Interventionism: The Analysis of the Proxy Warfare Strategy, dijelaskan bahwa Iran mengandalkan strategi non-konvensional melalui jaringan milisi dan sekutu regional. Pendekatan ini memungkinkan Iran tetap memberikan tekanan tanpa harus berhadapan secara frontal dengan militer Amerika Serikat.
Perbedaan ini membuat medan konflik menjadi tidak simetris. Jika Amerika Serikat beroperasi secara terbuka dan terukur, Iran justru bergerak melalui jalur tidak langsung. Contohnya, dukungan terhadap kelompok proxy, operasi terbatas, hingga serangan yang sulit dilacak.
Akibatnya, kekuatan tidak lagi semata diukur dari besaran anggaran, tetapi dari kemampuan menyesuaikan strategi terhadap kondisi yang ada.
Pergeseran ini mencerminkan karakter konflik modern yang semakin menjauh dari perang konvensional. Eskalasi tidak selalu muncul dalam bentuk pertempuran besar, melainkan melalui serangan terbatas, operasi tersembunyi atau konflik melalui pihak ketiga.
Dampak Krisis Internasional Terhadap Stabilitas Dunia
Dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya dari para aktor utama yang terlibat dalam konflik bersenjata ini. Harga energi dan jalur perdagangan global terancam terganggu jika eskalasi di Timur Tengah tidak segera menemui titik temu.
Oleh karena itu, upaya diplomasi harus terus diupayakan guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa dari warga sipil. Stabilitas global hanya bisa tercapai jika setiap negara mengutamakan dialog daripada menggunakan kekuatan militer secara berlebihan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin