By admin
16.01.26

Anomali Gaya Hidup Kalimantan Timur: Rendah Perokok Konvensional, Namun Jadi ‘Runner-Up’ Pengguna Vape di Indonesia

Kalimantan Timur catat anomali gaya hidup: angka perokok tembakau rendah, namun raih peringkat kedua nasional pengguna vape pada 2025./Ilustrasi

MAHAKAMA – Kepulan uap putih beraroma buah kini sering kali menyelimuti meja-meja cafe di sudut kota. Kalimantan Timur mencatat angka perokok tembakau yang rendah, namun secara mengejutkan menjadi juara kedua nasional pengguna rokok elektrik.

Saat ini jenis rokok tidak hanya berbahan dasar tembakau yang dinikmati dengan cara dibakar. Terdapat juga rokok elektronik atau vape yang penggunaannya dianggap lebih praktis oleh banyak orang. Tampilan yang kekinian serta varian rasa yang beragam membuat alat ini semakin digemari oleh perokok usia muda.

Tren Penggunaan Vape di Kalimantan Timur

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, Bali memegang persentase perokok vape tertinggi sebesar 1,66 persen. Kalimantan Timur mengikuti pada posisi kedua dengan angka 1,59 persen. 

DI Yogyakarta sebesar 1,24 persen. Selanjutnya, Papua Barat Daya menempati urutan keempat dengan persentase sebesar 1,18 persen.

Faktanya, penggunaan vape sangat berkaitan erat dengan gaya hidup kaum urban di kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan. Masyarakat perkotaan menganggap vape sebagai simbol tren modern sehingga persentasenya mencapai 0,77 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi jika kita bandingkan dengan daerah pedesaan yang hanya sebesar 0,53 persen.

Tingkat Kesadaran dan Persentase Non Perokok

Di tengah maraknya penggunaan vape, beberapa provinsi sebenarnya memiliki persentase penduduk non-perokok yang cukup tinggi. Bali menempati urutan pertama dengan angka penduduk tidak merokok mencapai 80,84 persen. DI Yogyakarta menyusul dengan 76,63 persen, kemudian Kalimantan Selatan sebesar 76,51 persen, dan Kalimantan Timur sebesar 76,49 persen.

Tingginya angka non-perokok di Benua Etam mengonfirmasi bahwa warga Kalimantan Timur kini mulai beralih dari rokok konvensional ke rokok vape. Pola perpindahan ini juga diikuti oleh provinsi lain dengan angka pengguna vape tinggi namun perokok tembakau rendah seperti Bali dan DI Yogyakarta. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran gaya hidup dalam mengonsumsi nikotin di tengah masyarakat perkotaan.

Fenomena Pergeseran Gaya Hidup Merokok

Oleh karena itu, muncul kemungkinan besar telah terjadi pergeseran atau switching dari rokok konvensional ke rokok elektrik. Banyak warga merasa sudah berhenti merokok tembakau sehingga angka non-perokok secara statistik terlihat mengalami kenaikan. Padahal, sebagian dari mereka sebenarnya hanya berpindah kebiasaan dengan menggunakan vape setiap harinya.

Vape jauh lebih mudah menjangkau lokasi berkumpulnya anak muda karena banyak tersedia di cafe atau tempat nongkrong kekinian. Kehadiran toko vape di area strategis membuat produk ini dianggap sebagai aksesori gaya hidup daripada sekadar alat merokok. Oleh karena itu, edukasi mengenai dampak jangka panjang rokok elektrik harus tetap diperkuat agar masyarakat tidak terjebak pada tren yang berisiko bagi kesehatan.

Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi dunia kesehatan karena ketergantungan nikotin tetap ada meski medianya berubah. Perubahan gaya hidup ini membuktikan bahwa edukasi mengenai dampak jangka panjang rokok elektrik harus semakin diperkuat. Kesehatan paru-paru adalah investasi masa depan yang tidak bisa digantikan oleh tren sesaat. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending