By admin
23.12.25

Anak Emas: Setengah Anggaran untuk Sepak Bola, Cabor Lain Berebut Sisa

Kemenpora kucurkan Rp420 Miliar untuk Pelatnas 2025, namun distribusi dana ini picu sorotan tajam akibat ketimpangan anggaran yang dinilai jomplang./Instagram:@timnasindonesia

MAHAKAMA – Sorot lampu stadion dan gemuruh dukungan suporter selalu menjadi nyawa bagi ambisi olahraga tanah air. Pemerintah berupaya menjaga nyala prestasi tersebut dengan investasi besar-besaran bagi para atlet nasional. 

Upaya tersebut terbayar tuntas saat penutupan SEA Games 2025 di Thailand pada Minggu (21/12/2025). Para Atlet Indonesia resmi menuntaskan perjuangannya dengan torehan prestasi membanggakan, yakni meraih total 333 medali .

Berdasarkan data akhir klasemen, medali terdiri dari 91 emas, 111 perak dan 131 perunggu. Capaian luar biasa ini menempatkan Tim Merah Putih di peringkat kedua, tepat di bawah tuan rumah Thailand yang mendominasi dengan 233 medali emas.

Prestasi gemilang di Bangkok ini tak lepas dari sokongan finansial yang kuat. Dilansir dari laman resmi kemenpora.go.id (15/4/2025), pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar 420 miliar rupiah untuk mendukung pemusatan latihan nasional (Pelatnas) tahun 2025. Dana ratusan miliar tersebut dialirkan kepada tiga belas cabang olahraga prioritas yang terbukti mampu menjawab kepercayaan negara dengan prestasi internasional yang nyata.

Dominasi Sepak Bola dalam Alokasi Anggaran

Faktanya, sepak bola menjadi cabang olahraga yang menerima dana paling besar dalam daftar tersebut. Pemerintah mengucurkan dana hingga 199,8 miliar rupiah khusus untuk sepak bola nasional. Angka ini jauh melampaui alokasi dana untuk cabang olahraga lainnya.

Bulu tangkis menempati posisi kedua dengan kucuran dana sebesar 37,6 miliar rupiah. Selanjutnya, panjat tebing memperoleh anggaran 24,9 miliar rupiah dan panahan mendapatkan 20,3 miliar rupiah. Cabang atletik menyusul pada urutan berikutnya dengan nilai 19,9 miliar rupiah.

Sebaran Dana untuk Cabang Olahraga Lainnya

Beberapa cabang olahraga lain mendapatkan alokasi dana yang relatif lebih kecil dan berimbang. Dayung memperoleh 19,3 miliar rupiah, sementara menembak mendapatkan 18 miliar rupiah. Angkat besi yang sering menyumbang medali hanya memperoleh 15,9 miliar rupiah.

Di samping itu, balap sepeda mendapat kucuran 13,4 miliar rupiah dan judo memperoleh 10,6 miliar rupiah. Tiga cabang olahraga lain yaitu renang, surfing, dan senam menerima anggaran di bawah 10 miliar rupiah.

Ketimpangan Alokasi dan Alat Politik

Faktanya, terdapat jarak yang sangat jomplang antara anggaran sepak bola dengan cabang olahraga lainnya. Sepak bola mengantongi hampir setengah dari total seluruh anggaran pemusatan latihan nasional 2025. Padahal, dua belas cabang olahraga lainnya merupakan penyumbang prestasi nyata pada Olimpiade Paris 2024.

Berdasarkan laporan BBC Indonesia (10/6/2025), besarnya perhatian pemerintah ini memunculkan dugaan bahwa sepak bola sering menjadi alat modal politik bagi penguasa. Popularitas cabang olahraga ini yang sangat tinggi di masyarakat membuatnya efektif untuk menarik simpati publik secara luas. Oleh karena itu, pengucuran dana yang fantastis tersebut tidak hanya sekadar untuk urusan teknis di lapangan hijau saja.

Pemerintah memang beralasan bahwa sepak bola memiliki nilai strategis nasional sesuai dengan aturan instruksi presiden. Namun demikian, cabang olahraga yang terbukti konsisten menyumbang medali emas justru menerima dukungan dana yang jauh lebih kecil. 

Ketimpangan ini menguatkan pandangan bahwa prioritas anggaran lebih berat pada olahraga yang memiliki massa besar daripada capaian prestasi dunia. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending