MAHAKAMA – Dorongan kebutuhan ekonomi di tengah tekanan biaya hidup membuat layanan pinjaman online semakin dikenal masyarakat. Akses yang cepat dan mudah menjadi alasan utama banyak orang menggunakan pinjol. Namun di balik itu terdapat risiko besar, mulai dari bunga tinggi hingga penyalahgunaan data dan teror penagihan yang memicu tekanan psikologis.
Kasus pinjol ilegal terus bermunculan. Polanya sama: pencairan cepat tanpa syarat, tetapi disertai bunga harian yang melampaui akal sehat. Tidak sedikit pengguna yang memulai pinjaman ratusan ribu rupiah dan berakhir menanggung belasan juta dalam hitungan minggu. Intimidasi kepada kerabat dan penyebaran data menjadi praktik yang berulang di banyak laporan.
Penggunaan Pinjol Masih Rendah, tetapi Terus Naik

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis Survei Penetrasi Internet Indonesia 2025. Survei ini dilakukan pada 10 April hingga 16 Juli 2025. Hasil survei yang mencakup 8.700 responden di 38 provinsi ini memotret profil pengguna pinjol di Indonesia.
Hasilnya, sebanyak 8,21 persen responden pernah menggunakan layanan pinjaman digital, naik dari 5,42 persen pada tahun 2024.
Artinya, lebih dari 91 persen masyarakat Indonesia masih belum tersentuh layanan ini, tetapi tren kenaikan tahun ke tahun menunjukkan ruang pertumbuhan yang besar.
Milenial Mendominasi Pengguna
Data APJII menunjukkan bahwa Milenial masih menjadi kelompok terbesar yang memakai pinjol. Hampir setengah pengguna, tepatnya 45,15 persen, berasal dari generasi ini.
Gen Z menyusul dengan 41,45 persen, sementara Gen X hanya menyumbang 11,75 persen dan Baby Boomers 1,65 persen.
Komposisi ini menandakan bahwa layanan pinjol paling banyak dipakai oleh usia produktif yang aktif bekerja dan terbiasa menggunakan aplikasi digital. Meski Gen Z sering dianggap paling rawan terjebak pinjol, justru Milenial yang paling dominan memanfaatkan layanan tersebut.
Kelas Menengah Jadi Pengguna Terbanyak
Dari sisi ekonomi, kelompok dengan pengeluaran bulanan antara Rp2,5 juta sampai Rp3,5 juta tercatat sebagai pengguna terbanyak, yaitu 21,44 persen. Polanya menunjukkan bahwa kelas menengah ke bawah masih mengandalkan pinjol untuk kebutuhan harian atau kondisi darurat.
Sementara itu, responden dengan pengeluaran di atas Rp6 juta menjadi pengguna terendah, hanya 2,47 persen.
Motif Utama: Cicilan Barang, Darurat Keuangan, dan Belanja Harian

Alasan orang meminjam pun beragam. Persentase terbesar, yaitu 23,02 persen, meminjam untuk membeli barang dengan cicilan tanpa kartu kredit. Sebagian lainnya, 21,77 persen, memakai pinjol untuk kebutuhan mendadak seperti biaya kesehatan atau menutup utang lain.
Ada juga 17,73 persen pengguna yang meminjam untuk memenuhi belanja sehari-hari. 12,13 persen yang terdorong oleh promosi atau diskon.
Gambaran ini menunjukkan bahwa pinjol kini bukan hanya alat untuk menghadapi situasi darurat, tetapi juga menjadi pilihan pembayaran alternatif bagi konsumen digital.
Faktor yang Membentuk Pola Pengguna Pinjol
Dilansir Detik.com (12/6/2024), pola penggunaan pinjol lebih banyak dipengaruhi kondisi ekonomi daripada faktor usia. Kelompok berpendapatan menengah yang tidak tergolong miskin tetapi juga belum sepenuhnya mapan menjadi pengguna paling aktif karena menghadapi tiga tekanan utama.
Pertama, mereka berada di posisi “tidak miskin tapi belum aman”. Kelompok ini sering tidak masuk kriteria penerima bantuan sosial, sementara pendapatan bulanannya hanya cukup untuk kebutuhan dasar.
Ketika muncul biaya tambahan seperti kesehatan, perbaikan rumah, atau cicilan tak terduga, mereka tidak memiliki cadangan dana. Pinjol akhirnya menjadi pilihan tercepat karena prosesnya jauh lebih sederhana dibanding pengajuan kredit bank.
Kedua, ruang finansial kelompok ini sangat sempit. Kenaikan biaya hidup membuat banyak keluarga kelas menengah kesulitan menjaga arus kas bulanan. Begitu gaji habis untuk kebutuhan rutin, pinjaman jangka pendek digunakan untuk menutup kekurangan. Kondisi ini selaras dengan data bahwa pengguna terbanyak berasal dari kelompok dengan pengeluaran Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta per bulan.
Ketiga, keterbatasan literasi keuangan memperbesar risiko. OJK berkali-kali mengingatkan bahwa meminjam untuk konsumsi, bukan produktivitas, menjadi penyebab utama gagal bayar. Pada kelompok pendapatan menengah, tekanan biaya hidup dan kebiasaan belanja impulsif membuat keputusan meminjam berlangsung cepat tanpa perhitungan yang matang.
Potret Nyata Kerentanan Pengguna Pinjol
Semua temuan ini menunjukkan bahwa layanan pinjol tumbuh di tengah ruang finansial masyarakat yang semakin sempit. Pengguna terbanyak berasal dari usia produktif dan kelas menengah yang berpenghasilan stabil tetapi rentan terhadap lonjakan biaya hidup dan kebutuhan mendadak.
Motif peminjaman yang beralih dari kebutuhan darurat ke konsumsi sehari-hari memperlihatkan bahwa pinjol telah menjadi penopang sekaligus jebakan bagi banyak orang. Tanpa peningkatan literasi keuangan dan pengawasan yang lebih ketat, risiko gagal bayar, tekanan psikologis dan teror penagihan akan terus membayangi pengguna digital di Indonesia. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin