MAHAKAMA – Perdebatan soal etos kerja pekerja muda kian menguat di ruang kantor dan media sosial. Perbedaan gaya kerja dianggap memicu gesekan antara standar lama dan karakter generasi baru yang lebih ekspresif serta adaptif terhadap teknologi.
Generasi Z (1997–2012) kini kerap dijuluki Generasi Strawberry. Istilah ini merujuk pada pribadi yang kreatif dan melek digital, tetapi dinilai mudah tertekan saat menghadapi kritik atau tekanan kerja.
Label tersebut ramai diperbincangkan di media sosial X, seiring munculnya keluhan soal kedisiplinan dan sikap profesional pekerja muda di lingkungan kantor.
Hasil Survei Mengenai Kinerja Lulusan Baru di Dunia Kerja

Perdebatan itu mendapat sorotan setelah survei Intelligent 2024 terhadap 966 pemimpin perusahaan global dirilis. Hasilnya menunjukkan mayoritas pemberi kerja merasa kurang puas terhadap performa Gen Z.
Sebanyak 75 persen perusahaan yang merekrut lulusan perguruan tinggi menyatakan ketidakpuasan terhadap hasil kerja mereka.
Sebanyak 9 dari 10 manajer menilai lulusan baru memerlukan pelatihan etika sebelum terjun penuh ke dunia profesional. Bahkan, 1 dari 7 perusahaan menyatakan akan menahan diri mempekerjakan Gen Z pada 2025.
Survei tersebut juga mengungkap alasan pemecatan. Kurangnya motivasi atau inisiatif menjadi faktor utama dengan persentase 50 persen.
Disusul kurangnya profesionalisme 46 persen dan keterampilan organisasi yang lemah 42 persen. Selain itu, Masalah komunikasi 39 persen serta kesulitan menerima masukan 38 persen turut menjadi pertimbangan.
Faktor Internal dan Kendala Teknis Pekerja Muda
Selain sikap kerja, aspek keterampilan teknis juga disorot. Kurangnya pengalaman relevan menyumbang 38 persen alasan evaluasi negatif, sementara kelemahan pemecahan masalah 34 persen.
Kendala teknis dan ketidakcocokan budaya kantor masing-masing tercatat 31 persen. Sekitar 30 persen manajer juga melaporkan kesulitan Gen Z dalam kerja tim.
Namun, hasil survei ini perlu dibaca secara proporsional. Responden hanya berasal dari kalangan pimpinan perusahaan sehingga mencerminkan perspektif hierarkis.
Data tersebut belum membandingkan indikator objektif lintas generasi. Tanpa pembanding, sulit memastikan apakah persoalan ini khas Gen Z atau pola umum pekerja pemula di setiap era.
Kesenjangan Ekspektasi di Lingkungan Profesional
Pandangan berbeda muncul dari praktisi HRD di Jakarta yang dikutip Mojok (24/5/2024). Penilaian terhadap Gen Z dinilai kerap bersifat personal dan tidak selalu berbasis indikator terukur.
Kinerja, menurut praktisi tersebut, seharusnya dinilai melalui KPI dan SOP yang jelas, bukan sekadar kesan terhadap gaya komunikasi.
Jika standar evaluasi tidak tegas, stereotipe generasi mudah rapuh menjadi lemah secara argumen.
Label Generasi Strawberry bisa jadi mencerminkan fase adaptasi pekerja baru, bukan karakter permanen satu generasi. Setiap angkatan memiliki tantangan dan individu bermasalahnya sendiri.
Data ketidakpuasan perusahaan semestinya membuka ruang dialog, bukan sekadar memperkuat stigma. Dunia kerja membutuhkan proses pembinaan, kejelasan ekspektasi, dan komunikasi dua arah.
Sinergi antara pengalaman senior dan semangat belajar junior menjadi fondasi lingkungan profesional yang sehat. Dari sana, perbedaan generasi tidak lagi dipandang sebagai jurang, melainkan jembatan menuju inovasi. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin