MAHAKAMA — Sebuah video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang pria meminta bagi tagihan atau split bill kepada pasangannya saat sedang makan di gerai Mie Gacoan.
Meski terdengar sepele, fenomena ini memicu perdebatan panas di kalangan warganet mengenai etika kencan di era modern, terutama terkait nominal yang dianggap relatif terjangkau.
Bagi banyak orang, permintaan split bill di awal hubungan—terutama untuk pengeluaran kecil—sering kali dianggap sebagai sinyal negatif. Pria yang bersedia membayar penuh pada kencan pertama dinilai mengirimkan pesan bahwa ia serius, rela berkorban demi kenyamanan pasangan, dan memiliki kondisi keuangan yang stabil.
Sebaliknya, sikap terlalu perhitungan di awal hubungan kerap dicap sebagai red flag. Pria tersebut dinilai berisiko dianggap pelit atau tidak memiliki perencanaan masa depan yang baik oleh pasangannya.
Tampil Cantik Itu Butuh Modal

Devi (27), seorang warga Balikpapan, menceritakan pengalaman pahitnya saat diminta split bill oleh teman kencannya terdahulu.
“Padahal makan berdua tidak sampai Rp100 ribu. Ngajak anak orang makan tapi tidak modal. Akhirnya waktu itu aku bayar full saja karena sudah terlanjur bete,” ujarnya kepada Mahakama.
Menurut Devi, meminta split bill juga mengandung unsur ketidakadilan. Ia menyoroti persiapan panjang yang dilakukan wanita sebelum berkencan, mulai dari makeup, pakaian, hingga perawatan diri yang memakan waktu dan biaya tidak sedikit.
“Sebelum jalan, cewek itu sudah keluar uang untuk persiapan agar tampil cantik. Masa sih cowok tidak bisa meng-cover makanan sebagai bentuk apresiasi?” tambah Devi.
Mengapa Standar “Pria yang Bayar” Masih Kuat?

Meski zaman telah berubah dan banyak wanita independen yang berpenghasilan sendiri, standar pria sebagai penyokong dana (provider) tetap melekat kuat.
Melansir dari CNBC, pelatih kencan Blaine Anderson menegaskan, “Pria harus membayar untuk kencan pertama. Rencanakan sesuatu yang sesuai dengan anggaran Anda,” kata Anderson.
Secara historis, hal ini berakar dari peran tradisional laki-laki sebagai pencari nafkah rumah tangga dan perempuan sebagai pengasuh anak, serta diskriminasi gender selama berabad-abad. Bahkan hingga tahun 1970-an, wanita di beberapa negara kesulitan memiliki rekening bank sendiri tanpa izin dari ayah atau suaminya.
Asal mula split bill tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan sudah ada sejak zaman kuno. Namun, sejarah mencatat hal unik di Amerika pada era 1960-an. Pada masa itu, budaya Amerika didominasi oleh laki-laki yang cenderung memaksa perempuan untuk membayar makanan mereka.
Untuk menghindari hal ini, metode memecah tagihan menjadi solusi yang lebih adil. Metode split bill kemudian secara perlahan menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kini, meskipun gerakan kesetaraan gender makin masif dan banyak wanita independen yang mampu menghasilkan uang sendiri, memori kolektif tersebut tetap melekat. Survei NerdWallet menunjukkan bahwa 78% orang masih berekspektasi pria yang membayar pada kencan pertama.
“Meskipun masyarakat telah banyak berubah, pria mungkin masih merasakan situasi bawah sadar untuk membayar sebagai tanda keamanan finansial,” ujar Anderson.
Tips Mengatur Keuangan Saat Berkencan agar Tetap “Green Flag“

Agar hubungan tetap langgeng tanpa merusak suasana atau kantong, berikut adalah beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Alokasi Dana Khusus: Sisihkan 5% hingga 15% dari pendapatan bulanan khusus untuk biaya kencan agar keuangan pribadi tidak terganggu.
- Komunikasi di Awal: Bicarakan ekspektasi pembayaran saat suasana santai, bukan saat tagihan sudah sampai di meja.
- Sistem Bergantian: Misalnya, pria membayar makan malam, sementara wanita membayar tiket bioskop.
- Menjaga Harga Diri: Jika harus patungan, seperti saat liburan, sebaiknya satu orang menalangi terlebih dahulu di depan umum, lalu selesaikan secara pribadi.
- Tetap Menawarkan Diri: Bagi wanita, tetaplah menawarkan diri untuk membayar sebagai bentuk kesopanan dan menunjukkan kemandirian.
Pada akhirnya, kejujuran dan komunikasi sejak awal adalah kunci agar masalah “siapa bayar apa” tidak menjadi batu sandungan dalam membangun hubungan yang sehat. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin