slot thailand

https://vetsbestmovers.com/contact/

https://www.cassiseye.com/physicians

By admin
03.01.26

Menakar Fenomena Self Reward Gen Z di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Ilustrasi Gen Z yang sedang barang untuk Self Reward

MAHAKAMA — “Cape dikit healing, stres dikit beli self-reward” stigma ini sering kali melekat pada Gen Z.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, fenomena anak muda yang tetap jor-joran membeli kopi Rp50 ribu, tiket konser jutaan rupiah, hingga mengoleksi blind box viral memicu perdebatan: apakah ini bentuk apresiasi diri atau sekadar perilaku impulsif?

Fenomena ini ternyata bukan tanpa dasar. Survei dari perusahaan e-commerce Omnisend di Amerika Serikat pada November 2024 mencatat bahwa 60,4 persen Gen Z gemar membeli hadiah untuk diri sendiri selama musim liburan.

Di Indonesia, tren ini populer dengan istilah self-reward—sebuah mekanisme untuk menghibur diri di tengah beban hidup yang dirasa kian berat.

Laporan “Spend Z” hasil kolaborasi NielsenIQ (NIQ) dan World Data Lab mengungkapkan pergeseran perilaku yang signifikan.

Gen Z cenderung memprioritaskan kesenangan instan dibandingkan menabung untuk aset jangka panjang. Menariknya, mereka adalah pembelanja yang cerdas sekaligus FOMO (Fear of Missing Out).

Data NIQ mencatat 26% Gen Z aktif menggunakan ponsel saat berada di toko fisik untuk membandingkan harga atau mencari informasi produk. Angka ini lebih tinggi dibanding milenial (Gen Y) yang berada di angka 23%.

Selain itu, konsumsi rumah tangga tetap mendominasi PDB Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada tantangan ekonomi, optimisme belanja tetap tinggi di kalangan anak muda.

Kondisi Psikologi di Balik Self Reward

Mengapa segelas kopi atau satu kotak blind box terasa begitu menyelamatkan? Ternyata ini merupakan coping mechanism paling cepat di saat burnout.

Psikolog Janine M. Dutcher dalam risetnya bertajuk “Brain Reward Circuits Promote Stress Resilience and Health” (2020) menjelaskan bahwa memberikan penghargaan pada diri sendiri memberikan penguatan positif pada sirkuit otak.

Intervensi berbasis reward ini terbukti dapat mengurangi tingkat stres dan meningkatkan motivasi, yang secara langsung berdampak baik pada kesehatan mental.

Hal ini sejalan dengan temuan Unicef Perception of Youth Mental Health Report 2025. Riset ini dilakukan terhadap 5.567 responden Gen Z di tujuh negara, yakni Amerika Serikat, Swiss, Jepang, Meksiko, Malaysia, Inggris, dan Afrika Selatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok muda ini menghadapi tekanan besar dari lingkungan pendidikan sebesar 39 persen dan pekerjaan sebesar 43 persen.

Hebatnya, 55 persen dari mereka secara aktif melakukan aktivitas pengelolaan stres untuk menjaga keseimbangan emosional.

Tipisnya Batasan Antara Self-Love dan Konsumerisme

Tren ini menyisakan lubang besar dalam stabilitas finansial jangka panjang. Filosofi YOLO (You Only Live Once) sering kali membuat batasan antara menyayangi diri sendiri dan perilaku konsumtif menjadi sangat tipis.

Bagi banyak anak muda, membeli barang-barang tren bukan lagi soal kepemilikan, melainkan soal “bertahan hidup” secara mental.

Pertanyaannya kemudian beralih: apakah self-reward ini adalah bentuk investasi pada kesehatan mental, atau justru cara halus untuk ‘kabur’ sejenak dari kenyataan pahit bahwa rumah dan aset masa depan semakin sulit dijangkau?

Berikut beberapa tips agar self-reward tidak bikin boncos:

  • Alokasikan Budget: Gunakan rumus 50-30-20 (50% kebutuhan, 30% keinginan/self reward, 20% tabungan).
  • Rule 24 Jam: Tunggu satu hari sebelum check out keranjang belanja untuk memastikan dan berpikir itu kebutuhan, bukan impulsif semata.
  • Reward Non-Materi: Cobalah jalan-jalan di taman atau tidur lebih awal sebagai bentuk apresiasi diri yang gratis.

Pada akhirnya, di tengah gempuran self reward, Gen Z sedang berusaha menyeimbangkan antara kewarasan hari ini dan ketidakpastian hari esok. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending

daftar slotmantap

slotmantap alternatif

slotmantap link

slotmantap

slot mantap