By admin
23.03.26

Badai Geopolitik AS-Iran Bayangi RI, 90 Persen Publik Cemas Hantam Ekonomi Domestik

90 persen responden memandang konflik geopolitik Amerika Serikat-Iran sebagai ancaman nyata yang berpotensi memicu lonjakan harga BBM dan mengganggu stabilitas daya beli harian di Indonesia./Ilustrasi

MAHAKAMA – Asap hitam yang membubung tinggi di langit Asia Tengah seolah membawa dampaknya hingga ke Indonesia. Ketegangan yang terjadi ribuan kilometer dari Tanah Air kini mulai terasa melalui kekhawatiran akan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan global. Meski terjadi jauh dari Asia Tenggara, dinamika ini tetap berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi, sehingga memicu kekhawatiran di tengah masyarakat Indonesia.

Untuk melihat sejauh mana kekhawatiran tersebut, lembaga survei GoodStats melakukan penelitian terhadap persepsi publik. Survei yang melibatkan 540 responden dari berbagai provinsi pada 7 hingga 11 Maret 2026 menunjukkan mayoritas responden menilai ketegangan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi berdampak nyata bagi Indonesia.

Hasil Survei Dampak Konflik Geopolitik terhadap Indonesia

Hasil survei menunjukkan 60 persen responden menilai konflik tersebut akan cukup berdampak bagi Indonesia. Sementara itu, 30 persen lainnya bahkan melihat dampaknya akan sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Hanya sekitar 6 persen responden yang menganggap pengaruhnya relatif kecil.

Temuan ini menegaskan bahwa mayoritas publik memandang konflik sebagai ancaman nyata.  Dari sekitar 90 persen responden memperkirakan dampaknya akan dirasakan hingga tingkat keseharian.

Kekhawatiran tersebut terutama tertuju pada sektor ekonomi. Sebanyak 34,8 persen responden menilai kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak sebagai dampak utama, mengingat peran kawasan tersebut dalam produksi dan distribusi energi global.

Selain itu, 26,06 persen responden mengkhawatirkan stabilitas ekonomi nasional akan terganggu, diikuti 15,59 persen yang menyoroti potensi kenaikan harga kebutuhan pokok. 

Hanya sebagian kecil responden, yakni 7,24 persen, yang melihat risiko pada aspek keamanan dan stabilitas politik dalam negeri.

Kenaikan Harga Energi dan Efek Berantai Ekonomi

Kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi cukup beralasan karena minyak merupakan komponen dasar aktivitas ekonomi. Konflik di kawasan produsen berpotensi mengganggu pasokan global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Hal ini langsung dirasakan Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi.

Kenaikan harga energi ini kemudian memicu efek berantai ke berbagai sektor. Transportasi menjadi yang paling terdampak karena bergantung pada BBM. Akibatnya, biaya distribusi meningkat dan mendorong kenaikan harga bahan pangan di pasar.

Dampak lanjutan terlihat pada stabilitas ekonomi melalui peningkatan inflasi. Daya beli masyarakat berisiko melemah. Di saat yang sama, pelaku usaha menghadapi tekanan biaya operasional yang lebih tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat.

Hal ini sejalan dengan temuan James D. Hamilton (2009) dalam Causes and Consequences of the Oil Shock of 2007. Jurnal ini menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan daya beli secara luas, sehingga dampaknya menjalar ke seluruh aktivitas ekonomi.

Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk memitigasi risiko tersebut. Kemandirian energi menjadi kunci agar Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh gejolak global. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending