MAHAKAMA – Aroma kue kering mulai tercium dari dapur-dapur rumah, sementara mesin jahit berderu mengejar pesanan baju Lebaran. Namun dibalik hiruk pikuk persiapan Idul Fitri, banyak keluarga harus menghitung ulang setiap pengeluaran agar tradisi tahunan tetap berjalan tanpa mengguncang keuangan rumah tangga.
Menjelang Lebaran, pengelolaan keuangan menjadi perhatian utama masyarakat. Data Mandiri Spending Index (MSI) 2025 menunjukkan pola konsumsi yang semakin defensif. Belanja rumah tangga difokuskan pada kebutuhan pokok, sementara pengeluaran non-esensial seperti pakaian mulai ditekan.
Kondisi ini diperkirakan berlanjut pada 2026, seiring kenaikan harga bahan pokok dan fluktuasi biaya energi global yang masih membayangi.
Transaksi Ritel Melemah Jelang Ramadan

Perubahan pola belanja tersebut tercermin langsung di sektor ritel. Pusat perbelanjaan di berbagai daerah terpantau lebih lengang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menandakan melambatnya perputaran uang menjelang Lebaran.
MSI 2025 mencatat pertumbuhan belanja mingguan menjelang Ramadhan hanya sebesar 1,4 persen, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 4,7 persen.
Lemahnya pertumbuhan konsumsi ini membuat dorongan ekonomi musiman tidak sekuat tahun-tahun lalu. Oleh karenanya masyarakat semakin berhati-hati dan memprioritaskan kebutuhan dasar.
Inflasi Tinggi Tekan Daya Beli Rumah Tangga
Tekanan konsumsi terjadi di tengah kondisi inflasi yang relatif tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan mencapai puncaknya pada Maret 2024 sebesar 3,05 persen. Nilai ini tertinggi sepanjang tahun 2024, sebelum berangsur menurun pada bulan-bulan berikutnya.
Kenaikan ini mencerminkan tekanan biaya hidup yang bersifat luas dan tidak terbatas pada satu komoditas. Akibatnya, konsumsi selama Ramadan dan Lebaran berlangsung dalam kondisi daya beli yang tergerus.
Untuk menjaga tradisi, banyak keluarga terpaksa menyesuaikan pola belanja sekaligus mencari sumber dana tambahan.
Upaya Mencari Tambahan Dana Menjelang Lebaran
Meski konsumsi ditekan, kebutuhan selama bulan puasa tetap meningkat dibandingkan hari biasa. Jajak pendapat Litbang Kompas pada Maret 2025 terhadap 532 responden menunjukkan beragam strategi masyarakat dalam menjaga stabilitas keuangan.
Sebanyak 59,6 persen responden mengaku tidak melakukan upaya tambahan karena merasa tabungan dan THR sudah mencukupi.
Namun, 22,6 persen memilih membuka usaha musiman seperti berjualan takjil atau kue kering.
Sementara itu, 7,6 persen mengandalkan pinjaman keluarga, dan 5,2 persen menggadaikan aset berharga seperti emas. Terdapat pula 0,2 persen responden yang terpaksa memanfaatkan pinjaman online meski berisiko bunga tinggi.
Meski survei ini tidak mengukur besaran utang maupun durasi tekanan pasca-Lebaran, proporsi responden yang mengandalkan pinjaman dan gadai aset menunjukkan adanya tekanan likuiditas jangka pendek di tingkat rumah tangga.
Harga Pangan Naik, Tekanan Inflasi Berulang
Fenomena ini selaras dengan temuan akademik. Studi Mutiara, T., Al Arif, M. N. R., dan Anwar, M. (2025) berjudul The Rising Food Prices in Ramadhan and Its Impact on Inflation menunjukkan harga pangan cenderung meningkat sebelum hingga setelah Ramadan. Kenaikan musiman ini memperberat beban rumah tangga, terutama di tengah pelemahan daya beli.
Kombinasi kenaikan harga pangan dan perubahan pola konsumsi memaksa masyarakat tetap berbelanja dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Karena itu, sinergi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga serta kesadaran finansial masyarakat menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi nasional. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin