By admin
03.02.26

Pangkas Impor Australia: Pabrik Garam di Balikpapan Selamatkan Devisa RI Rp2,5T

Swasembada garam dimulai dari Balikpapan lewat pembangunan pabrik berkapasitas 1 juta ton per tahun yang diproyeksikan memangkas impor hingga Rp2,5 triliun./Ilustrasi

MAHAKAMA – Hamparan kristal putih berkilau di bawah terik matahari pesisir, menyimpan harapan besar bagi kedaulatan ekonomi bangsa. Garam bukan sekadar bumbu dapur, melainkan penggerak roda industri yang sangat vital bagi kemandirian Indonesia.

Kesadaran inilah yang mendorong Presiden RI Prabowo Subianto menetapkan target swasembada garam pada 2027. Untuk mempercepat pencapaiannya, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional, yang mewajibkan pemenuhan kebutuhan garam industri secara bertahap oleh badan usaha dalam negeri.

Ketergantungan Tinggi Terhadap Impor Garam dari Australia

Langkah ini menjadi sangat penting mengingat Indonesia masih terjebak dalam ketergantungan impor yang cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor garam selalu melebihi 2 juta ton per tahun dalam lima tahun terakhir. Bahkan, nilai transaksi impor ini secara konsisten melampaui angka Rp 1,57 triliun.

Pada tahun 2023, volume impor garam mencapai puncaknya sebesar 2,81 juta ton dengan nilai setara Rp 2,12 triliun. 

Berdasarkan data BPS 2024, Indonesia paling banyak mendatangkan komoditas ini dari Australia dengan volume 2,02 juta ton pada tahun 2024. Di samping itu, negara pemasok lain seperti India, Selandia Baru, dan China juga masih mendominasi pasar dalam negeri.

Kolaborasi Strategis di Balikpapan Tekan Angka Impor

Ketergantungan impor garam nasional saat ini masih mencapai sekitar 64 persen dari total kebutuhan. Untuk menekan angka tersebut, PT Kilang Pertamina Internasional menjalin kerja sama strategis dengan PT Garam membangun pabrik pengolahan garam di Balikpapan.

Dilansir CNBC (31/1/2016), proyek ini memanfaatkan air buangan hasil proses desalinasi di kilang RDMP Balikpapan. Air laut yang sebelumnya hanya menjadi limbah operasional diolah kembali menjadi bahan baku produksi garam.

Inovasi ini memungkinkan kilang tidak hanya memproduksi bahan bakar, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari limbah industri, sekaligus mendukung substitusi impor garam nasional. Melihat potensi tersebut, Kilang Pertamina Internasional menjajaki kerja sama produksi garam berbasis pengolahan air laut di Kilang Balikpapan.

Dilansir Kata Data (29/1/2026), pabrik baru ini memiliki target kapasitas produksi sebesar 1 juta ton setiap tahunnya. Inisiatif tersebut diproyeksikan mampu mengurangi pengeluaran impor garam hingga 2,5 triliun rupiah. 

Pembangunan ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di Asia Tenggara, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi lokal dengan menyerap hingga 4 ribu tenaga kerja baru.

Keberhasilan swasembada garam akan menjadi bukti nyata bahwa bangsa ini mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri. Pemanfaatan teknologi dan sumber daya lokal secara maksimal merupakan kunci utama untuk melepas ketergantungan dari pasar luar negeri. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending