slot thailand

https://vetsbestmovers.com/contact/

https://www.cassiseye.com/physicians

By admin
01.02.26

Geliat Bisnis Kopi Keliling di Samarinda, Tawarkan Rasa Kelas Kafe dengan Harga Ramah di Kantong

Salah satu kopi keliling di Jalan M. Yamin, Samarinda (Foto: MAHAKAMA/Desy Alvionita)

MAHAKAMA — Wajah jalanan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, tampak berbeda dalam beberapa bulan terakhir. Penjaja kopi keliling kini semakin mudah ditemui di berbagai titik keramaian. Namun, ini bukan sekadar kopi kemasan instan.

Menggunakan sepeda listrik yang dimodifikasi, para penjual ini menawarkan kopi dengan kualitas rasa layaknya di kafe, namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau bagi kantong anak muda.

Pemandangan ini terlihat jelas di sepanjang Jalan M. Yamin, Kelurahan Gunung Kelua. Setidaknya ada empat sepeda listrik dengan gerobak berwarna-warni terparkir berjajar, dikerumuni oleh pembeli yang antre dengan antusias.

Para penjual bergerak sigap melayani pesanan. Bahkan di salah satu gerobak, seorang penjual harus dibantu rekannya agar pelayanan tetap cepat.

Salah satu penjual merek kopi “Piknik”, Mario (19), mengaku kewalahan melayani permintaan yang terus meningkat. Sambil memasukkan es batu ke dalam gelas kopi pada Minggu (25/1/2026) petang, ia berbagi kisahnya.

“Dalam sehari saya bisa jual sampai 300 gelas. Kalau di akhir pekan, biasanya bawa 400 gelas juga habis,” kata Mario yang telah menjalani profesi ini hampir setahun.

Bekerja mulai pukul 17.00 hingga 01.00 WITA, Mario mengungkapkan bahwa pendapatan dari berjualan kopi ini bisa mencapai lebih dari Rp 2 juta dalam sehari.

Kesibukan serupa dialami oleh Ikhsan (21), penjual merek “Yuk Ngopi”. Berbeda dengan Mario yang fokus pada satu titik, Ikhsan memilih berpindah-pindah lokasi untuk menjemput bola.

Ia memulai harinya sejak pukul 09.00 WITA dengan mangkal di APT Pranoto, bergeser ke Jalan Bung Tomo pada siang hari, dan menetap di depan Perumahan Keledang Mas saat sore hari.

“Saya keliling sejak pagi. Kalau pagi, saya mangkal di APT Pranoto. Kemudian, siangnya saya bergeser Jalan Bung Tomo. Lalu, kalau sore saya biasanya mangkal di depan Perumahan Keledang Mas karena di sini ramai orang jogging,” ucap Ikhsan.

Ia menjual kopi dan minuman non-kopi yang sudah disiapkan dalam gelas, lalu menambahkan es batu sesuai pesanan pembeli.

Ikhsan tidak sendiri, ada lima penjual lain dari merek yang sama yang menyasar kawasan perkantoran hingga perumahan.

Faktor harga menjadi daya tarik utama bagi warga. Kopi-kopi ini dibanderol mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 15.000 per gelas. Bandingkan dengan harga di kafe yang bisa mencapai Rp 18.000 bahkan hingga Rp 50.000.

Selisih harga inilah yang dirasakan langsung manfaatnya oleh Fendi (31), warga Kelurahan Mangkupalas.

“Sejak ramai kopi keliling ini, semuanya jadi praktis. Kalau mau kopi, tidak harus beli ke kafe, tapi langsung bisa beli di pinggir-pinggir jalan,” ujar Fendi yang rutin membeli kopi sepulang kerja.

Ia menambahkan, dengan harga Rp 8.000, ia sudah mendapatkan rasa kopi yang identik dengan produk kafe.

Hal senada diungkapkan Dandi (26), seorang pencinta kopi dari Samarinda Utara.

Baginya, kualitas rasa kopi keliling sangat kompetitif karena diracik oleh tangan-tangan terampil.

“Saya pencinta kopi, jadi sering minum kopi. Kopi keliling rasanya mirip dengan yang di kafe-kafe karena kopi ini dibuat oleh barista. Untuk harga Rp 13 ribu per gelas, sudah sangat worth it-lah,” ucap Dandi.

Kehadiran kopi keliling bahkan mengubah kebiasaan nongkrongnya; ia kini lebih sering membeli kopi di pinggir jalan lalu membawanya ke sekretariat organisasi untuk dinikmati sambil beraktivitas.

Fenomena kopi keliling ini turut mendapat perhatian dari akademisi. Erwin Kurniawan, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, menilai menjamurnya kopi keliling dipicu oleh budaya minum kopi yang telah mengakar kuat di masyarakat.

“Kopi keliling menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga kopi di kafe-kafe. Selain itu, penggunaan sepeda juga memudahkan para penjual dalam menjangkau konsumen yang tersebar di berbagai tempat, tanpa memerlukan tempat parkir yang luas,” jelas Erwin saat dihubungi, Senin (26/1/2026).

Meski prospeknya cerah, Erwin mengingatkan bahwa persaingan akan semakin ketat seiring bertambahnya jumlah penjual. Ia menyarankan agar para pelaku usaha terus beradaptasi.

“Penjualnya perlu melakukan inovasi, misalnya dari varian rasa minuman atau cemilan tambahannya,” pungkasnya. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending

daftar slotmantap

slotmantap alternatif

slotmantap link

slotmantap

slot mantap