By admin
19.01.26

Bukan Enggak Mau, Tapi Enggak Mampu: Ekonomi Jadi ‘Dinding’ Nikah Anak Muda

Bukan gak mau, tapi gak mampu. Data Litbang Kompas ungkap alasan ekonomi dan karier jadi "dinding" utama anak muda Indonesia pilih tunda pernikahan./Ilustrasi

MAHAKAMA – Janji suci di depan penghulu kini terasa kian berat bagi sebagian besar generasi muda di tanah air. Bayang-bayang biaya hidup yang tinggi hingga tuntutan karier sering kali mengalahkan keinginan untuk segera membina rumah tangga. Kekhawatiran akan masa depan pun perlahan menjadi perbincangan hangat yang memenuhi ruang publik.

Merespons fenomena tersebut, Kementerian Agama RI mulai melakukan pendekatan yang lebih segar. Dilansir dari akun Instagram @detikcom (21/12/2025), aksi nyata ditunjukkan oleh sejumlah petugas dari KUA di Kabupaten Pati. 

Tak hanya aktif di media sosial, mereka mulai turun langsung ke ruang publik, salah satunya di kawasan Car Free Day (CFD), untuk menyampaikan pesan ajakan menikah dengan pendekatan yang santai dan dekat dengan anak muda.

Respons masyarakat terhadap aksi “jemput bola” para petugas KUA di Pati ini sangat beragam. Banyak warganet yang merasa pendekatan humoris dan ramah tersebut sangat relate dengan kenyataan, sehingga pesan untuk tidak takut menikah dapat diterima dengan lebih positif tanpa terkesan kaku.

Fakta di Balik Pilihan Menunda Pernikahan

Laporan terbaru dari Litbang Kompas pada Januari 2025 menunjukkan fenomena yang nyata mengenai kondisi status perkawinan masyarakat. Berdasarkan survei terhadap 514 responden dari 38 provinsi, tercatat sebanyak 22,2 persen warga memang belum menikah. Alasan utama yang paling banyak muncul adalah keinginan untuk mencapai kemapanan ekonomi terlebih dahulu.

Sebanyak 36,9 persen responden mengaku masih menunggu kondisi finansial stabil sebelum memutuskan untuk naik ke pelaminan. Selain itu, terdapat 36,6 persen responden yang memilih untuk lebih fokus mengejar karier di dunia kerja. 

Selanjutnya, sebanyak 23,7 persen responden menyatakan bahwa mereka belum menemukan pasangan yang cocok untuk diajak berkeluarga.

Pertimbangan Sosial dan Personal Masyarakat

Ada pula sebagian kecil masyarakat yang memilih jalur hidup yang lebih berbeda dalam memandang institusi pernikahan. Sebanyak 1,2 persen responden memilih untuk tetap hidup sendiri dan 0,5 persen responden memutuskan untuk tidak menikah.

Hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa pernikahan bukan lagi sekadar mengikuti tradisi melainkan memerlukan kesiapan mental dan materi. Fenomena ini sekaligus menjelaskan mengapa kampanye ajakan menikah dari pemerintah mendapatkan respons yang sangat masif di internet.

Data mengenai besarnya pengaruh faktor ekonomi tersebut tervalidasi oleh kondisi nyata yang kini terjadi di Kalimantan Timur. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur menyoroti kecenderungan generasi muda yang semakin ragu untuk melangkah ke pelaminan. Dilansir Editorial Kaltim (23/12/2025), Kepala Kanwil Kemenag Kaltim Abdul Khaliq mengatakan bahwa kekhawatiran terhadap kondisi finansial menjadi pertimbangan paling dominan saat ini.

Menurut Abdul Khaliq, banyak anak muda cenderung takut menikah karena muncul anggapan bahwa pernikahan justru menjadi beban ekonomi. Stigma bahwa menikah membuat hidup makin berat dan rentan miskin perlu diluruskan agar tidak menghambat kesiapan generasi muda. Faktanya, ketakutan terhadap masa depan finansial ini telah memengaruhi tren penurunan angka pernikahan baik di tingkat nasional maupun daerah.

Oleh karena itu, bagi generasi muda yang sudah memiliki kemampuan dasar, pernikahan seharusnya tidak dipandang sebagai sebuah ancaman. Abdul Khaliq mengingatkan bahwa pengaruh media sosial dan perubahan gaya hidup memang membuat tantangan rumah tangga semakin kompleks. Namun demikian, persiapan diri yang matang secara spiritual dan ekonomi akan menghapus keraguan untuk membangun kehidupan yang bertanggung jawab. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending