MAHAKAMA – Memiliki rumah sendiri adalah impian besar bagi setiap orang termasuk bagi kelompok anak muda. Namun demikian, bayang-bayang harga properti yang melambung tinggi sering kali menjadi penghalang nyata untuk mewujudkan impian tersebut.
Saat ini Indonesia sedang memasuki fase perputaran generasi di berbagai sektor industri dan tenaga kerja. Gen Z kini telah mendominasi berbagai posisi mulai dari karyawan swasta hingga tenaga kesehatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk produktif di Indonesia diproyeksikan mencapai 194 juta jiwa atau 68 persen dari total penduduk. Dari angka tersebut, penduduk yang masuk kategori Generasi Z mencapai sekitar 62 juta jiwa pada tahun 2025.
Kenaikan Harga Properti dan Daya Beli Anak Muda


Meskipun jumlah mereka sangat besar, tantangan untuk memiliki hunian tetap menjadi persoalan yang sangat rumit. Bank Indonesia mencatat indeks harga properti residensial nasional pada kuartal kedua 2025 berada pada angka 110,13. Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang berada pada posisi 109,15. Dalam enam tahun terakhir, harga rumah di Indonesia terus menanjak naik secara konsisten di seluruh segmen bangunan.
Di sisi lain, BPS mencatat pendapatan per kapita masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai Rp78,6 juta per tahun. Jika kita bagi dalam sebulan, rata-rata pendapatan warga berada pada angka Rp6,55 juta. Pendapatan per kapita sendiri merupakan ukuran nilai rata-rata seluruh pendapatan penduduk dari total hasil produksi barang dan jasa suatu negara.
Meskipun angka pendapatan ini naik, faktanya kenaikan harga rumah masih jauh lebih cepat daripada kenaikan gaji masyarakat.
Pergeseran Pola Pikir dan Solusi Hunian Fleksibel
Oleh karena itu, banyak anak muda mulai mengubah strategi finansial mereka dalam hal tempat tinggal. Berdasarkan data GoodStat 2025, sebanyak 34 persen Generasi Z memilih untuk menyewa hunian agar tetap memiliki fleksibilitas mobilitas yang tinggi.
Sementara itu, sekitar 38 persen lainnya lebih tertarik dengan skema sewa beli untuk memiliki rumah secara bertahap. Hal ini membuktikan bahwa kepemilikan rumah secara konvensional bukan lagi menjadi prioritas utama bagi mereka saat ini.
Bagi banyak anak muda menganggap menyewa hunian sebagai keputusan keuangan yang jauh lebih cerdas. Mereka merasa belum siap secara finansial untuk menanggung beban cicilan utang bank dalam jangka waktu panjang.
Oleh sebab itu, tren tinggal di hunian berbagi atau coliving kini semakin populer di kota-kota besar. Model hunian ini menawarkan kenyamanan praktis dengan fasilitas lengkap yang sudah siap huni tanpa perlu repot mengurus perabotan.
Coliving sebagai Gaya Hidup dan Komunitas Baru
Lebih dari sekadar tempat tidur, coliving kini telah menjadi bagian dari gaya hidup modern bagi para pekerja muda. Fasilitas seperti pembersihan kamar dan layanan cuci baju sangat membantu mereka untuk lebih fokus dalam mengejar karier.
Di samping itu, lingkungan sosial yang mendukung membuat para penghuni merasa memiliki keluarga baru di tanah perantauan. Mereka bisa saling berbagi cerita dan melakukan aktivitas bersama seperti berolahraga atau sekadar berkumpul di area komunal.
Pergeseran tren ini menunjukkan bahwa kenyamanan dan kesehatan mental saat ini jauh lebih berharga daripada status kepemilikan aset. Anak muda lebih memilih untuk membagi penghasilan mereka secara seimbang antara kebutuhan pokok, investasi masa depan, dan gaya hidup. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin