MAHAKAMA – Awal tahun 2026 dunia dikejutkan dengan kabar penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, bersama istrinya oleh militer Amerika Serikat.
Pihak AS menuduh Maduro menjalankan rezim narko-teroris dan terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional. Namun demikian, Nicolas Maduro secara konsisten membantah semua tuduhan tersebut sebelum keberadaannya tidak diketahui publik hingga saat ini.
Dilansir dari BBC Indonesia (5/1/2026), Presiden Donald Trump menyampaikan beberapa poin utama pasca serangan tersebut:
- AS akan mengendalikan Venezuela: Trump mengatakan Amerika Serikat akan memimpin negara tersebut hingga terjadi transisi kekuasaan yang aman dan bijaksana.
- Perbaikan infrastruktur minyak: Perusahaan-perusahaan Amerika segera masuk ke Venezuela untuk memperbaiki infrastruktur minyak agar mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut.
- Kesiapan serangan kedua: Amerika Serikat tetap bersiap melancarkan serangan militer kedua ke Venezuela, meskipun Trump menilai hal itu kemungkinan besar tidak diperlukan.
- Kemitraan baru: Trump menjanjikan kemitraan antara kedua negara yang akan membuat warga Venezuela menjadi kaya, mandiri, dan aman.
- Proses hukum di New York: Nicolas Maduro dan istrinya segera dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan terkait kartel perdagangan narkoba.
Fenomena penangkapan pemimpin negara ini memicu spekulasi luas mengenai motif penguasaan sumber daya alam. Satu pertanyaan pun muncul, berapa banyak sebenarnya cadangan minyak yang dimiliki oleh Venezuela?
Rekor Cadangan Minyak Mentah Global di Venezuela

Laporan Organization of the Petroleum Exporting Countries atau OPEC mencatat fakta yang mengejutkan tentang kekayaan negeri ini. Venezuela merupakan pemilik cadangan minyak mentah paling banyak di seluruh dunia pada tahun 2024. Jumlah cadangannya mencapai 303,22 miliar barel atau setara dengan 19 persen dari total cadangan global.
Angka cadangan minyak ini terpantau cenderung stabil dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Venezuela memiliki cadangan terbukti sebesar 303,56 miliar barel pada tahun 2020.
Meskipun sempat turun tipis ke angka 303,01 miliar pada 2023, jumlahnya kembali merangkak naik pada awal 2024. Kekayaan luar biasa inilah yang menjadikan posisi tawar Venezuela sangat tinggi dalam peta ekonomi dunia.
Ambisi Ekonomi di Balik Operasi Militer
Banyak pihak menilai niat utama Amerika Serikat adalah mendapatkan akses penuh ke ladang minyak raksasa tersebut. Presiden Trump bahkan telah memberlakukan kebijakan karantina terhadap distribusi minyak mentah milik Venezuela. Langkah ini memperkuat dugaan bahwa isu narkoba hanyalah pintu masuk untuk mengeksploitasi kekayaan energi mereka.
Di samping itu, Trump mengabaikan dukungan terhadap tokoh oposisi demokratis di negara tersebut. Ia lebih memilih fokus pada rencana perbaikan infrastruktur minyak guna menghasilkan keuntungan finansial bagi negaranya. Oleh karena itu, para pengamat melihat adanya motif eksploitasi ekonomi yang terselubung di balik jargon kebebasan.
Kondisi Pemerintahan Venezuela Saat Ini
Otoritas Venezuela menolak keras klaim kepemimpinan sepihak Donald Trump. Wakil Presiden Delcy Rodriguez menegaskan bahwa Nicolas Maduro adalah satu-satunya presiden sah dan pemerintah siap membela kedaulatan negara dari agresi bersenjata.
Di samping itu, Mahkamah Agung Venezuela menetapkan Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara. Langkah darurat ini bertujuan menjamin keberlangsungan pemerintahan dan pertahanan negara selama masa ketidakhadiran paksa Maduro.
Reaksi Keras Pemimpin Dunia
Situasi di Venezuela memicu gelombang respons yang beragam dari berbagai negara. Malaysia secara tegas menolak segala bentuk campur tangan asing dan penggunaan kekuatan militer dalam urusan dalam negeri negara lain. Sementara itu, Jepang memberikan dukungan untuk pemulihan demokrasi dan stabilisasi situasi sesuai posisi mereka sebagai anggota G7.
Inggris melalui Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan tidak menyesali berakhirnya rezim Maduro, namun enggan mengomentari aspek hukum internasional dari serangan tersebut.
Di sisi lain, Rusia mendesak Amerika Serikat untuk segera membebaskan Nicolas Maduro dan istrinya. Rusia menekankan bahwa penangkapan tersebut dilakukan terhadap presiden sah dari negara berdaulat dan menuntut dibukanya ruang dialog.
Penentuan masa depan suatu negara merupakan hak asasi yang paling mendasar bagi setiap warga yang mendiaminya. Kedaulatan sebuah bangsa seharusnya tetap berada di tangan rakyatnya sendiri tanpa tekanan dari kekuatan luar. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin