MAHAKAMA – Ruang-ruang persalinan kini semakin sunyi dari tangisan bayi yang baru lahir ke dunia. Pilihan hidup manusia modern perlahan mengubah wajah demografi bumi menjadi hamparan rambut perak dan populasi yang menua.
Data Worldometer per tanggal 8 Januari 2026 mencatat populasi dunia kini mencapai 8,26 miliar jiwa. Bumi memang terlihat semakin padat jika dibandingkan dengan satu dekade lalu yang berjumlah 7,47 miliar jiwa. Namun demikian, laju pertumbuhannya justru terus melambat secara signifikan setiap tahun.
Faktanya, laju pertumbuhan dunia turun drastis dari 2,07 persen pada tahun 1970 menjadi hanya 0,85 persen pada 2025. Selain itu, angka kesuburan atau jumlah anak dalam rumah tangga turun dari rata-rata lima anak menjadi hanya dua anak. Tren ini menjadi fenomena global yang mengubah struktur keluarga tradisional di seluruh penjuru dunia.

Fenomena Penyusutan Angka Kelahiran Global
Studi dalam jurnal The Lancet menunjukkan rata-rata jumlah anak per perempuan dunia turun dari 4,84 menjadi 2,23 anak. Di banyak negara maju, jumlah kelahiran bahkan sudah mendekati angka satu anak per perempuan.
Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura menjadi negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia saat ini. Kondisi tersebut memicu persoalan serius karena berjalan seiring dengan penuaan populasi yang cepat di tingkat global.
Akselerasi Penurunan Fertilitas di Indonesia

Tren global ini juga terjadi di Indonesia dengan akselerasi yang jauh lebih tajam. Berdasarkan data BKKBN, rata-rata anak per perempuan turun dari 5,61 anak pada tahun 1971 menjadi 2,18 anak pada 2022. Dahulu, masyarakat sangat mudah menemukan keluarga dengan anak lebih dari lima orang dalam satu rumah tangga. Namun saat ini, menemukan keluarga dengan empat anak saja sudah menjadi hal yang sulit.
Penyusutan jumlah anak dalam keluarga ini berdampak langsung pada kecepatan pertambahan penduduk nasional. Laju pertumbuhan penduduk yang semula 2,61 persen pada tahun 1971 kini anjlok hingga tinggal 0,79 persen pada 2025.
Meskipun populasi Indonesia masih sangat besar dengan total 285,72 juta jiwa pada tahun 2025, angka pertumbuhannya terus menyusut setiap tahun. Kondisi ini menjadi alarm penting bagi negara karena penambahan penduduk baru yang semakin tipis dapat menghambat regenerasi bangsa.
Fakta ini sekaligus menandakan berakhirnya era bonus demografi dan dimulainya fase penduduk menua yang harus segera diantisipasi.
Akar Masalah dan Pergeseran Paradigma Hidup
Dilansir Kompas (30/10/2025), penyebab penurunan populasi ini berawal dari meningkatnya peran perempuan dalam dunia pendidikan dan karier. Perempuan saat ini memiliki kebebasan lebih besar untuk memilih keluar dari peran keluarga tradisional.
Di samping itu, muncul pergeseran paradigma pasangan modern yang lebih mengutamakan kualitas hidup dan kegiatan rekreatif. Generasi sekarang merasa lebih mapan secara ekonomi sehingga ingin menikmati waktu tanpa beban pengasuhan anak yang besar.
Permasalahan ini juga berkaitan erat dengan tantangan ekonomi, tingkat kebahagiaan, serta kondisi lingkungan yang unik di setiap negara. Oleh karena itu, penurunan kelahiran bukan hanya masalah individu melainkan cermin dari hambatan sistemik dalam membangun keluarga.
Banyak pasangan muda merasa ragu memulai keluarga karena tekanan kesejahteraan dan kurangnya dukungan kebijakan yang memadai.
Dampak Penyusutan Usia Produktif Bangsa
Penurunan kelahiran yang konsisten akan menyebabkan penyusutan jumlah penduduk usia produktif dalam jangka panjang. Kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekonomi nasional karena beban sistem perlindungan sosial bagi lansia meningkat.
Namun, rendahnya angka kelahiran juga menunjukkan kegagalan sistem dalam menjamin hak setiap individu untuk mewujudkan tujuan keluarga mereka. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin